The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 92


__ADS_3


Bab 92: Semakin Dekat


Azasky, Mid Continent, 19/12.


Tanpa terasa, satu Minggu berlalu sejak kesepakatan antara Black Golden dan Koga dibuat.


Rutinitasku tak banyak berubah, setidaknya itu yang kupikirkan, hingga ...


"Pangeran, yang mulia Albert memberi pesan, beliau ingin bertemu dengan anda" Ucap sebuah suara parau mengejutkanku.


Seorang pria paruh baya nampak berdiri memberi hormatnya padaku.


Flop!


Aku menutup bukuku. Menghela napasku panjang, "Terima kasih, paman Tryan. Anda bisa kembali" ucapku.


Ia hanya mengangguk seraya tersenyum sederhana, sebelum akhirnya ia berlalu dari ruangku.


Sigh ...


Aku kembali menghela napasku panjang. Peperangan semakin dekat dan lebih lebih dekat lagi. Kurasa tak ada lagi waktu untuk sekedar bersantai atau bermain-main lagi.


...□□□...


"Menghadap yang mulia Azasky" ucapku di hadapan seorang pria bersurai pirang yang nampak tengah mengalur lembut keningnya- pusing.


Mata itu menatapku, "Kau sudah datang", ucapnya singkat seraya membolak-balikkan dokumen di hadapannya.


"..." aku hanya terdiam sembari menilik banyak dokumen yang terpapar di atas meja kerjanya.


Aku menghela napasku panjang, "Peperangan Koga dan Baal tidak terelakkan lagi, ada kemungkinan jika perang itu pecah di pekan ketiga dari sekarang, jadi ..."

__ADS_1


"Tidak, itu dua hingga satu pekan dari sekarang" ucapku singkat.


Ia sedikit terkejut, tapi dengan cepat ia bertanya, "Hmm? Apa maksudmu?" Tanggapnya tajam.


"Itu hanya intuisiku, tapi jika kau menganalisisnya ulang, kemungkinan perang pecah di pekan pertama adalah 30%, sementara peluang terjadinya perang di pekan kedua bahkan lebih tinggi lagi, itu bisa mencapai 75% persen dari 100% kemungkinan. Aku tidak ingin berkata jika itu adalah hal yang pasti, tapi sebaiknya bersiap lebih awal." Paparku.


Yah, meskipun itu hanya intuisiku, tapi dapat dikatakan kemungkinanya jauh lebih besar dibanding perang di pekan ketiga. Mengapa aku menyimpulkan hal ini? Tentu saja atas dasar intuisi dan sekeping ingatan milik Chelsea yang ia tinggalkan tempo hari.


Saat ini, aku memiliki data ingatan dari tiga kehidupan milik Chelsea. Dan darinya, aku bisa menyimpulkan, meskipun itu semua bergantung pada situasi di tiap kehidupan dan segala konflik yang terjadi di masa itu, tapi kemungkinan perang pecah di pekan ketiga adalah kecil, atau bahkan bisa dibilang mustahil.


Dari ingatan Chelsea, perang tersebut dikabarkan akan dimulai di pekan ketiga, tapi kenyataannya? Perang pecah dan memuncak di pekan kedua. Sementara asumsi akan pecahnya perang di pekan pertama adalah karena, beberapa perubahan besar yang terjadi karena bangkitnya ingatan masa laluku dan serangkaian perang kecil sebenarnya dimulai di pekan pertama.


Lalu mengapa aku tidak memberitahunya untuk bersiap lebih awal? Dan memberitahu jika perang akan benar bena terjadi di pekan kedua? Alasannya mudah, perkataanku tadi, tidak dapat dipercayai sepenuhnya.


Lalu mengapa aku tidak berusaha untuk meyakinkannya dengan memaparkan segala bukti yang ada? Jawabannya, itu terlalu membahayakan bagiku. Jika seandainya aku memberi tahu apa yang terjadi secara detail, maka latar belakang informasi ini akan dipertanyakan. Bahkan meskipun itu adalah seseorang yang akan mempercayaiku seratus persen, tidak ada kepastian bahwa mereka akan mempercayaiku tanpa alasan jelas.


Bagi orang lain, fakta mengenai reinkarnasi ku dan fakta lain tentang regresi yang dialami Chelsea, adalah suatu hal tabu yang ada di dunia. Dan adalah suatu hal yang mustahil untukku membicarakan tentang ingatan milik Chelsea. Dan lagi, akan ada kemungkinan takdir kembali berubah jika aku memberitahunya sesuai dengan takdir di masa lalu.


Ia kembali bersuara, dengan suara berat layaknya seorang pria dewasa, "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan? Terutama tentang rencanamu untuk peperangan dengan miasma?" Lanjutnya.


Aku sedikit tersenyum kecil mendengar penawarannya, “Ah itu .." ucapku dengan antusias sebelum ia melarangku bicara.


Ia mengangkat kedua tangannya menyilang, dengan cepat angkat bicara, "Cukup! Jangan bicara!" Serunya dengan wajah hijau biru layaknya seseorang yang akan pingsan sebentar lagi.


"Eh?"


Sadar akan reaksiku, dengan cepat ia berdehem, "Ehem! Aku tidak akan mendengarkan pemikiran rumit seorang bocah berumur 15 tahun sepertimu lagi, jadi bicarakan itu didepan Kaisar Luminerus. Biar mereka tahu sebetapa pusingnya aku menghadapimu" dengusnya dengan senyum pahit.


Sudut mulutku berkedut. "Gah! Aku bukan anak kecil lagi! hmm? Apa? Apa maksudmu?"


"Yah, maksudku adalah ... anda akan mengikuti Pertemuan dengan kaisar- Luminerus , sebagai pengganti raja Arcnight, Pangeran kedua Azalea"


...□□□...

__ADS_1


San Gracia, mid-continent, 26/12.


Petang menjelang, saat yang ******* pun dimulai.


Saat ini, aku dalam perjalanan menuju kekaisaran Tahta Suci, menuju ke Pertemuan dengan kaisar- Luminerus dan para penatua dari The Holy Throne, San Gracia.


‘Tahta Suci,’ ‘Holy Throne’, sebuah kerajaan bersatu dengan kerajaan San Gracia sebagai pusatnya. Bisa dibilang, San Gracia adalah yang terbesar dari tiga pembagian kekuasaan di benua.


Ya, ada tiga kekuasaan di benua. Holy Throne, dengan San Gracia sebagai pusatnya. Adalah negara yang khas akan kemampuan Paladin dan ‘Hero’. Saat ini, Holy Throne adalah kekuasaan terbesar yang mampu menyaingi eksistensi dari United kingdom of demon, Spade.


Lalu, ada The Guardians. Mereka berisikan kerajaan-kerajaan independen dan kuat yang menggunakan berbagai jenis kekuatan alam sebagai dasar kekuatan mereka. Berbeda dari Holy Throne, The Guardians tidak pernah memiliki pemimpin. Dibandingkan sebuah kekuasaan, itu lebih mudah dikenal sebagai perkumpulan raja, begitulah.


Yang terakhir, Freedom Area. Itu adalah wilayah bebas hukum, tempat segala macam rasa bertemu, tak terkecuali ras iblis.


Dan yah, karena itu jangan bertanya padaku tentang bagaimana perasaanku saat ini. Kurasa detak jantungku berdetak beberapa kali lebih keras.


"Guguplah sewajarnya" ucap paman Albert yang menyadari kegelisahanku.


Aku lantas mengangguk kecil.


"Yah, tidak perlu terlalu banyak mengingatkan, kurasa kau pun pasti telah mengingatnya jauh dari yang ku ketahui. Saat kita memasuki istana, kau bukan lagi seorang pangeran malainkan utusan yang mewakili suatu negara. Jangan tundukkan wajahmu, kau setara dengan mereka saat ini."


"Dan lagi, berhati hatilah dalam ucapanmu, ucapkan yang seperlunya tanpa ada yang kurang atau lebih. Saat waktunya tiba di mana kau berbicara dan mengungkapkan pendapatmu, ucapkan selayaknya pemimpin, ku rasa kau sudah tahu itu bukan? Tentang Etika para pemimpin? Tuan Black Golden?"


"Jangan biarkan seseorang memotong ucapanmu, karena itu akan membuat reputasi dan kedudukanmu dipertanyakan. Jangan membenarkan ucapan orang lain yang berlainan dengan pernyataanmu, karena kau akan jadi wajah negaramu. Jangan mundur dan mengalah atas pernyataan orang lain, tak peduli meskipun kau sendirian, karena itu menyalahi kedudukanmu, begitukah?" Ucapku tenang.


Ia mengangguk, "Satu hal lagi, jangan sampai taringmu melukai mulutmu. Itu benar, dan lagi ... aku tahu akan kemampuanmu yang sebenarnya. Jadi, lakukan yang terbaik. Karena kita, akan segera menjadi orang asing saat memasuki ruang pertemuan." Ucapnya tajam.


"Hmm, aku mengerti" Aku lantas kembali melayangkan pandangku keluar jendela, saat ini petang, masih ada banyak waktu sebelum pertemuan dimulai. Itu benar, kami memutuskan untuk datang lebih awal. Hal ini dikarenakan aku masih harus bertemu dengan kaisar dan membicarakan tentang hal hal yang perlu kubicarakan.


"Kau terlihat lebih tenang" ucap paman Albert membuyarkan lamunanku.


"Yang mulia, kita sudah sampai" ucap butler Qin membuka pintu kereta.

__ADS_1


__ADS_2