The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 18.5


__ADS_3


Bab 18: Menjadi Kuat


"Kau sudah tiba?" Ucap seorang pria berambut hitam panjang tersenyun seraya menyesap secangkir teh di tangannya.


"Master? Ah ya, saya baru menyelesaikannya.. bagaimana kabar master?" Ucap Raka sedikit menunduk memberi hormat.


"Aku baik-baik saja, duduklah.. ada banyak hal yang ingin ku katakan padamu" ucapnya seraya melirikkan pandangnya pada kursi di hadapanku.


"Tentu, terimakasih" ucap Raka seraya menarik kursi di depannya.


"Baiklah, bagaimana dengan kabar pelatihanmu? Apakah itu berjalan lancar?" Tanya Yama kepada murid kecilnya.


"Oh, pelatihanku berjalan lancar, meskipun ya dibandingkan dengan sebelumnya, peningkatannya telah banyak menurun." Ucap Raka tenang.


"Haih, dengan kata lain kau ingin teknik baru kan? Dasar kau ini," Ucapnya seraya menyerahkan sebuah catatan.


"Um! terimakasih, master" ucap Raka berterimakasih.


"Ah, benar juga.. master, apa yang ingin anda katakan tadi? Bukankah anda bilang ingin berbicara dengan saya tadi?"


"Hmm? Ah, itu tentang apa yang aku janjikan padamu"


"Oh? Tentang mengulur waktu huh? Tidak apa, anda tidak perlu terburu-buru, bagaimanapun.. apa yang saya inginkan hanya waktu yang cukup, anda tidak perlu turun tangan bila tidak diperlukan, begitu saja tidak apa" ucap Raka tenang.


"Yah, meskipun kau berkata seperti itu, tapi menurutmu? Apa membebaskan keluargamu dari genggaman istana iblis semudah itu? Dan, apa kau yakin jika mampu mengalahkan mereka sendiri?" Ucap Yama.

__ADS_1


"Aih, itu benar.. karenanyalah, aku membutuhkan waktu untuk menjadi lebih dan lebih kuat lagi, hingga saatnya tiba, aku akan menyelamatkan mereka"


"Haha, apa menurutmu semudah itu? Hingga saatnya tiba, huh? Bagaimana jika saatnya tak kunjung tiba? Apakah kau akan menyerah, atau menyerang dengan gegabah dengan mengorbankan nyawamu? Pemikiran yang naif,"


"Hufft, saya tahu, saya juga sempat memikirkannya.. tapi, apakah saya saat ini terlihat seperti seorang yang hidup bebas? Saya memiliki tanggung jawab, baik itu saatnya tiba atau tidak, saya tidak peduli."


"Oh? Lalu apa kau akan mengorbankan nyawamu saat kau bahkan tidak bisa mengalahkan musuhmu?"


"Itu benar, saya akan melakukannya, tapi itu dulu. Apa yang saya inginkan adalah menyelamatkan mereka, bukan mengorbankan nyawa saya sendiri. Jadi, apapun itu, saya akan tetap hidup untuk mereka dan untuk diri saya sendiri"


"Apa menurutmu pikiran naif seperti itu dapat terwujud huh!?"


"Tidak, memang tidak mudah. Tapi, saya akan tetap melakukannya, bahkan jika kemungkinannya negatif pun, saya tetap akan berusaha.. untuk hal-hal lainnya, anda tidak perlu mengkhawatirkan saya." Sambung Raka.


"Baiklah, kau selalu mengejutkanku.. kembali ke pembicaraan kita tadi."


"Mungkin memang benar, apa yang kau minta hanyalah mengulur waktu, tapi tetap saja, aku memiliki tanggung jawab sebagai mastermu, dan apapun itu, keselamatan dari seorang calon ancestor adalah penentu kedamaian di benua nantinya." Ucap Yama.


"Jadi, kurasa bukan hal yang buruk bagimu untuk mulai bergerak."


"Maksud anda?"


"Kau tahu? Kau tidak bisa melawan iblis-iblis itu sendiri. Bahkan kau juga tidak bisa mengerahkan pasukan yang berkaitan dengan benua atas. Jadi, satu-satunya yang perlu kau lakukan adalah membuat pasukanmu sendiri."


"Apa, tidak, bagaimana? Bagaimana maksud anda, master?" Ucapku mengerutkan kening.


Bagaimanapun, memang, mengumpulkan pasukan adalah hal yang bisa dilakukan sebagai persiapan. Namun, itu juga bukan hal yang remeh. Itu adalah sebuah kekuatan yang jika aku terlalu gegabah, itu akan menyerangku tak peduli apapun yang terjadi.

__ADS_1


"Ah, itu dia, aku tidak tahu kemana jalan pikiranmu, tapi yah sebagai mantan orang dewasa kupikir kau sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk bukan?" Ucapnya santai.


"Jadi begitu yah, masuk akal sih.. tapi, apa-apaan dengan mantan orang dewasa!?" Protesku.


"Yah, bukankah kau ini dulunya orang dewasa?" Ucapnya enteng.


"Geez, baiklah, jadi.. bagaimana cara saya menemukan mereka?"


"Hmm? Cari tahu saja sendiri" ucapnya tak peduli.


"Ugh.. itu benar-benar membuatku sulit, tapi yah, kurasa tidak apa jika ku pikirkan secara bertahap bukan? Maksudku, aku sama sekali tidak berniat untuk bersantai, tapi kurasa aku masih harus memikirkannya dengan pasti, sembari itu.. biarkan aku mempelajarinya dulu" ucapku seraya melirikkan pandang pada catatan yang diberikan master.


"Yah, kurasa bukan masalah, katakan padaku jika kau sudah menemukan caranya. Mempelajari teknik itu sembari memikirkannya juga kurasa bukan ide yang buruk. Dan, kau bisa meminta bantuan pada Edward atau Alice, kurasa mereka akan mau membantumu." Ucap Master seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Baik, terimakasih master!" Ucapku turut bangkit.


"Yah, kau bisa kembali sekarang."


"Baik master, selamat malam" ucapku sebelum pergi.


...□□□...


'Hmm, pasukan. Apa ya, pengalaman apa yang ku punya berkaitan dengannya?'


'Pelatihan kepemiliteran huh?'


'Yah, meskipun aku berkata seperti itupun aku sama sekali tidak punya gambaran tentang bagaimananya sih'

__ADS_1


'Apa cuma itu? Pasukan bisa berarti kelompok juga kan? Yah, anggap saja begitu'


'Kalau kelompok sih..' Gumamku dalam hati sebelum aku terlelap- tidur dan mulai bermimpi.


__ADS_2