
Bab 30: Ikatan Master & Murid
"Ooouuuu muridku!! akhirnya kau bangun juga!! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika penerusku mati!?" Ucap master menghampiriku sembari menunjukkan ekspresi bersyukurnya.
Sementara aku berusaha menolaknya, menghindar dari pelukan master yang semakin dekat itu. Tapi yah, kurasa itu sia-sia.
"Uwu wu ... aku benar benar merindukanmu" Ucap master memeluk erat tubuhku.
"Gah! Master! Anda memalukan!"
"Ce-cepat lepaskan! Ugh ... a-aku.. tak bisa ber-napas"
Aku berkilah, mencoba untuk melepaskan pelukannya dariku.
"Jadi begitu ... muridku sudah tak menganggapku lagi.." ucap master membuatku bergidik ngeri.
"Apa sih anda ini?" Ucapku menggerutu.
"Padahal aku benar-benar merindukanmu ... wu wu wu"
__ADS_1
"Hmm? Benarkah? Kenapa aku harus percaya? Anda sebenarnya hanya merindukan masakanku kan?" tanyaku seraya menyipitkan mata curiga. Sementara pria yang nampak seperti anak kecil itu mulai gelisah dan memalingkan wajahnya.
"Sudah kuduga" tukasku dingin.
"E-Eh? anu itu.."
"Ah ha ha ha! ayolah,, bagaimana mungkin kau berfikir bahwa gurumu yang baik ini mau memanfaatkanmu?" ucap Master dengan senyum tak berdosanya.
"Hooo? Kau yakin?"
...□□□...
"Hmm? Kelihatannya skill memasakmu meningkat ya, Louise" Puji Alice.
Sementara aku hanya menoleh dan memandang sesaat asistenku itu dengan tatapan datar. Makan malam berlanjut, hingga mereka bisa memuaskan rasa lapar mereka masing masing.
Hari sudah cukup larut saat master memintaku menemuinya di ruang belajar.
Krieet ... suara pintu berderat mengiringi langkahku memasuki ruang belajar. Yah, Villa tempat kami berkumpul itu memang sudah agak tua dan mulanya tidak berpenghuni.
Nampak di hadapanku seorang pria berambut hitam panjang yang tengah memandang ke luar jendela seraya menyesap teh miliknya. Ia nampak tenang, sudah cukup lama aku bisa melihat beliau santai lagi. Yah, akhir-akhir ini baik aku ataupun master tengah disibukkan oleh kepentingan yang berkaitan dengan Ghost Monarchy dan Qrystial.
__ADS_1
Sadar akan kehadiranku, ia menoleh, memberiku isyarat untuk duduk di hadapannya.
"Duduklah"
"Waktu benar benar tak terasa ya? Raka. Padahal saat aku membawamu berpetualang kau masihlah anak kecil yang masih polos dan sering menangis, tak terasa kau kini sudah berkembang" Ucap Yama memandang langit malam kota Qrystial.
"Aku masih ingat betul saat itu, kau tenggelam, aku membawamu yang sudah tidak berbentuk ke Alpha College. Dan aku masih ingat saat kau mewaspadaiku, dan tubuhmu gemetar saat pertama kali merasakan hawa krisis."
"Itu semua kebaikan master. Bahkan, sekali pun saya memiliki ingatan mengenai hidup saya yang sebelumnya pun. Saya tidak akan punya kesempatan untuk hidup jika anda tidak menyelamatkan saya ... itu adalah satu hal yang tidak bisa saya lupakan"
"Saat saya pertama kali datang, saya ketakutan. Saya membawa ingatan masa lalu saya, saya bisa berpikir secara dewasa. Tapi tidak dengan tubuh saya. Saat itu saya benar-benar takut. Itu adalah kedatangan saya yang pertama. Rasa takut untuk dikhianati seperti saya dimasa lalu, rasa takut akan kematian, dan rasa takut yang membuat saya tidak bisa mempercayai siapapun."
"Saya bahkan tidak bisa tersenyum atau berbicara dengan siapa pun selain anda. Anda menggenggam tangan saya, menguatkan saya dan meyakinkan saya atas segala hal. Anda mengokohkan pijakan saya di dunia ini"
"Bahkan anda membuat saya percaya untuk bisa tersenyum dan berbicara lagi."
"Anda memberi saya rumah, makanan, keluarga, kekuatan, dan segala hal yang bisa membuat saya yakin"
"Dan anda masih mau mendengarkan permintaan saya yang tidak masuk akal"
"Untuk itu ... bahkan jika saya harus mengikuti anda seumur hidup saya, saya tidak akan keberatan." Ucapku seraya menunduk memberi penghormatan.
__ADS_1
"Hufft.. begitukah? Bukankah kau terlalu berlebihan?"