The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bba 38


__ADS_3


Bab 38: Memangsa dan Dimangsa


Kami berhasil, memenangkan pertarungan dengan mudah. Tentu saja, ini sama sekali tidak akan berhasil tanpa strategi, itu benar. Tapi, kepercayaan serta kemampuan dari para prajurit juga menjadi hal yang paling penting. Meskipun perang telah usai, kami memutuskan untuk tinggal sebentar. Saat ini, mereka mengobati dan memulihkan tenaga. Ada juga sih, yang sedang merayakan kemenangan kami.


"Hormat kepada tuan muda" ucap sesosok bayangan hitam muncul secara mendadak.


"Katakan" ucapku tenang sembari terus menulis dengan diterangi lentera.


"Saya sudah mengintainya, tidak ada kecurigaan akan datangnya serangan susulan."


"Apa maksudmu?" Ucapku terkejut, dan secara spontan mengalihkan pandangnya.


"Kabar soal kehancuran pasukan Dimitri sudah menyebar, tapi tetap saja, tidak ada gerak gerik mencurigakan yang mengindikasikan mereka untuk kembali menyerang"


"Bagaimana mungkin pasukan raja iblis hanya segitu? Lagipula melihat dari sifat Dimitri ... tetap saja dia tipe raja yang ceroboh dan seenak jidatnya dalam memutuskan sesuatu. Apa mungkin otaknya mulai berputar huh?" Ucapku sarkas.


"U-ugh.. mungkinkah begitu?" Ucap bayangan itu dengan ekpresi pasrah.


"Baiklah, kalau begitu apa adalagi yg perlu kau laporkan?


"Ah, tapi sebelum itu izinkan hamba bertanya"


"..."


"Kenapa anda beranggapan jika Dimitri akan melakukan serangan susulan? Meskipun berdasarkan sifatnya yang serakah dan sombong, dia sudah menghadapi anda dua kali, maka seharusnya dia akan memilih keputusan paling menguntungkan baginya,"

__ADS_1


"Ah, itu benar.. tapi entahlah, guru mengingatkanku untuk waspada, bukan pada Dimitri, tapi pada orang dibelakangnya, lagipula sejak kita mendapatkan kemenangan, aku merasakan firasat buruk, itu saja "


"Uhmm, jadi begitu,"


"Dan lagi, jika kita kesampingkan sifatnya yang ceroboh, dia juga punya hasrat yang rakus dan serakah. Dengan kata lain, dia akan membolehkan segala cara untuk meraih tujuannya."


"Kekuasaan tahta iblis bukanlah kerajaan kecil yang lemah. Fakta bahwa mereka menjadi musuh utama kekaisaran manusia menunjukkan bahwa mereka bukan musuh yang lemah. Setidaknya, menghadapi mereka sama saja menghadapi kekaisaran manusia, bukan?"


"Yang pasti, saat salah satu dari raja iblis tumbang oleh manusia, mereka tidak akan tinggal diam."


"Begitu, saya mengerti."


"Kalau begitu, apa ada lagi yang ingin kau laporkan?"


"Ah, ada sesorang yang mengunjungi istana Dimitri siang ini, kelihatannya dia adalah iblis yang ingin mengambil alih kekuasaan Dimitri."


"Hmm? Saya tidak terlalu tahu, tapi dari aura yang terpancar, dia seharusnya hampir menyamai Dimitri."


Aku terkejut, secara refleks meletakkan pena di tanganku dengan keras.


Aku mendecih. Bangkit dari tempatku. "Tsk. Jangan bilang jika itu"


Ucapku tercekat saat kembali mengingat peringatan dari master.


'Apapun itu, berhati-hatilah. Jika kau lengah, dia akan menarik benang merah rencanamu dengan mudah. Saat itu, kau akan berhadapan langsung dengan salah satu pion terkuatnya, Kaisar besar iblis. Ingat, Kaisar Besar iblis hanyalah pion lemah di tangan penguasa yang sebenarnya.'


Bayangan hitam itu terkejut.

__ADS_1


"Siapkan pasukan." Ucapku lirih dan dingin.


"Baik" ucap bayangan itu dengan sigap.


Aku meraih senjataku, sebilah pedang panjang dan ramping dengan besi berwarna hitam. Dan kemudian keluar menghampiri Bartolomeo.


"E eh? Hormat kepada yang mulia" Ucap Bartolomeo yang tengah minum sembari menundukkan tubuhnya tatkala melihatku keluar menghampirinya.


"Siapkan pasukan, ini kan jadi lautan darah" Ucapku dengan tegas. Bartolomeo yang terkejut segera berlari.


Aku terus melangkahkan kakiku, menghampiri ke arah benteng putih. Para pasukan segera berkumpul dengan Zirah yang melekat di tubuh mereka masing masing.


Aku melangkah, di hadapanku nampak para prajurit. Masih dengan ekspresi lelah mereka yang berusaha mereka tutupi dengan keberanian mereka.


"Hormat kepada pemimpin!" Ucap mereka secara serempak saat memandangku, sang pemimpin.


Aku memberi isyarat untuk kembali menegakkan tubuh mereka.


Aku menarik napasku panjang sebelum kembali menghembuskannya, mengumpulkan tekad. "Aku tahu seberapa lelahnya kalian! Seberapa inginnya kalian kembali kepada keluarga kalian! Aku tahu seberapa rindunya kalian akan ketenangan kalian di kota!"


"Aku tahu, mungkin ini berat bagi kalian, tapi tidak ada jalan! Pasukan musuh akan segera menyerang kembali! Tidak ada jalan pulang! Bunuh atau dibunuh! Angkat senjata kalian setinggi tingginya, Gaungkan nama Qrystial di telinga para pengkhianat!" Ucapku tegas.


Segera, para pejuang yang terkejut lantas menunjukkan ekspresi berani mereka, penuh dengan stamina yang kembali membara.


Aku berbalik dan menundukkan wajahku. Aliran cairan merah merembes dari sudut bibirku.


'Sial, aku kehabisan Mana, tapi perang ini harus dimenangkan apapun kondisinya.'

__ADS_1


...□□□...


__ADS_2