The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
PROLOGUE IV


__ADS_3


Prologue IV: Lovely


“pfft, kelihatannya, nona yang tak punya perasaan hari ini sedang mengalami mood yang buruk yah,” ucapnya seraya menopang dagunya.


Gadis itu melirik remaja pria yang tengah menggodanya dengan tatapan tajam. “terserah aku bukan apakah aku ingin mengalami mood buruk atau tidak?” ucapnya seraya menggembungkan pipi kecilnya.


“ya ya ya, baiklah,, jadi, apa itu tentang dia lagi?” ucap remaja pria di seberangnya seraya menatapnya tajam dengan ekspresi rumit.


“tidak” ucap gadis itu seraya menatap dingin ke arah jendela di kirinya.


Percakapan keduanya terhenti, suasana canggung menyelimuti keduanya. Cahaya jingga senja menerpa keduanya- hening.


Remaja pria nampak sedikit memejamkan matanya, tapi masih dengan tatapan rumit sekaligus jengkelnya. Sementara gadis di hadapannya masih melirikkan pandangnya tanpa peduli, tapi sedikit kesedihan membayangi mata biru keunguannya.


“baiklah, ini sudah cukup sore, bagaimana jika kita pulang? Lagi pula tidak ada untungnya kan jika kau terus bersedih seperti ini? Aku juga tidak bisa membantumu saat ini sih soalnya.” ucap remaja pria dengan wajah tenangnya bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada gadis di seberangnya.


Gadis itu mengalihkan pandangnya, ia lantas bangkit dan meraih tangan remaja pria di depannya. “maaf” sebuah kata sederhana terlontar dari mulutnya.


“tentu, kau hanya butuh ruang untuk memahaminya sendiri, ruang di mana aku tidak perlu ikut campur di dalamnya.” ucap remaja itu.


“kau penyelamatku, nonius” ucap gadis itu.


“memang begitu kan, peranku?”


“oh ya, hari ini ayah dan ibuku akan menghadiri acara tanpaku, jadi, bagaimana jika kau menemaniku untuk jalan-jalan sejenak nanti malam?”


“um? Benarkah? Yah, aku tidak akan keberatan jika tuan memberimu izin.”


“bagus!”


“kau yang tentukan tempatnya!” ucap keduanya secara bebarengan.


“aku?” keduanya kembali merespon dengan satu sama lain disaat yang sama.

__ADS_1


“sigh.. aku tidak terlalu akrab dengan tempat tempat seperti itu, nona Arryndra” ucap remaja pria itu pasrah.


“ugh.. apa aku terlihat akrab dengan yang seperti itu? Nonius coba kau ingat kembali” ucap gadis itu memasang wajah datar.


Ucapan gadis itu membuat remaja pria di sampingnya bergidik ngeri saat mengingat kejadian tempo hari saat gadis di sampingnya justru membawa mereka berdua ke tempat yang tak seharusnya remaja seusia mereka berada- klub malam.


“aku mengalah” ucap remaja pria dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Gadis itu mengangguk. “memang seperti itu seharusnya,” ucapnya seraya menunjukkan ekspresi seolah olah berkata: aku ingin menunjukkan tempat yang menyenangkan, tapi apa jadinya jika seperti dulu, aku tidak ingin menodai mata sehatku.


“ayolah! Apa kau adalah seorang gadis? Tak bisakah kau berlari lebih cepat selayaknya seorang pria yang kuat?” ucap wanita itu berlari dan memandang ke belakangnya, remaja pria itu hanya tersenyum menahan amarahnya.


Sudut mulut remaja pria itu berkedut, saat ini, ia benar-benar ingin melampiaskan kejengkelannya pada wanita di depannya itu.


“nonaku, apa kau tahu jika itu bukan kau, maka dapat kupastikan aku akan berlari lebih cepat dan meninggalkanmu sendirian di sini. Maksudku, tentu saja aku laki-laki, jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, nonaku. Lagi pula, jika aku berlari lebih cepat darimu, maka dapat kupastikan aku tidak dapat mengawasimu, jika itu terjadi, maka tuan Arryndra pasti akan membuatkanku masalah besar nantinya” ucapnya menahan rasa geramnya.


“tch, memangnya siapa yang peduli?” ucap gadis itu mengerucutkan bibir tipisnya.


Remaja pria itu hanya mampu menghela napasnya. Sementara gadis itu berbalik dan dan kembali berlari meninggalkan remaja pria itu.


Setelah beberapa lama, langkah gadis itu berhenti. Matanya menunjuk pada sesosok pria yang familiar dengannya. Pria itu bersurai pirang dan mata coklat hazelnya yang menakjubkan. Tatapan gadis itu pun jatuh pada wanita bersurai merah yang berada di sampingnya, keduanya bergandengan tangan.


Pria itu menyadari perasaan gadis yang memandangnya itu, tapi ia sama sekali tak peduli dan mengabaikannya, seolah olah, ia tak pernah ada di sana barang untuk sedetik pun.


Bahkan mungkin, ia tak pernah ada dalam ceritanya kala itu.


Pria bersurai pirang itu berlalu begitu saja- melupakan semuanya, tentang bagaimana perasaan yang terpancar di mata gadis itu, gadis yang seharusnya ada di gandengannya, baik itu di masa kini ataupun di masa depan.


Gadis itu terpaku, ia masih sedikit tak percaya dengan semuanya. Hatinya ingin pergi, tapi tidak dengan pikirannya. Karena ini, tentang sebuah pertunangan yang bahkan tak pernah sekalipun muncul dalam mimpinya, tapi kenyataan memaksanya untuk menggapainya.


Sebuah perasaan tenang dan menyegarkan muncul dari belakang tubuhnya. Sebuah tangan dingin dan kokoh menutup matanya dan mendekapnya dalam sebuah kehangatan yang tak bisa ia ungkapkan.


“bodoh” ucapnya dingin, seraya menghembuskan napasnya di kepala gadis itu.


Gadis itu melepaskan tangan yang menutup matanya, ia lantas mendongakkan kepalanya, sepasang mata berlian menatapnya dengan kecemasan.

__ADS_1


“ah, aku tidak apa” ucap gadis itu seraya melepaskan dekapannya.


Tapi, remaja pria itu tak mau kalah, ia bersikukuh memeluknya. Ia lantas menarik tangan mungil itu dan memeluknya dengan erat. Napasnya berharmoni dengan dinginnya malam. Sementara gadis itu, nampak menyerah dengan usahanya, entah itu menjauh dari pelukannya atau tentang tangisnya yang coba ia bendung berulang kali.


“kau benar-benar susah untuk dinasihati ya, nonaku.. bukankah aku sudah mengatakannya? Tutup matamu jika kau tak ingin melihatnya. Tapi kau justru bersikukuh untuk membuka matamu” ucap remaja pria itu menenangkan tangisnya.


Butuh waktu lama bagi gadis itu untuk lepas dari tangisnya. Hingga saatnya ia kembali tersenyum, remaja pria itu baru melepas peluknya.


“lihat dirimu, bukankah hari ini kau berniat melupakan masalah sore tadi? Jika tahu begini, aku harusnya tidak mengajakmu kesini yaa..”


Gadis itu menggeleng cepat dan tersenyum, “tidak, terimakasih.”


“baiklah, aku memang tak bisa disalahkan juga sih. Inilah akibatnya jika kau membuka matamu untuk hal-hal yang tidak seharusnya kau lihat.. lagipula, kau sudah memutuskan untuk bersamanya, jika kau ingin bertahan, maka bertahanlah, tutup hati dan matamu dari semua yang membuatmu goyah, dan lagi, jangan ragu, oke? Aku akan selalu ada di belakangmu, nonaku” ucap remaja pria itu seraya tersenyum seadanya.


Gadis itu hanya mengangguk dan kembali berterimakasih.


“ah, ini sudah cukup malam, ayo kita pulang. Ayah ibumu pasti akan mencarimu bukan? Kau berbeda dariku, nona Arryndra” ucap remaja pria itu kemudian.


Ingatan berakhir.


Gadis itu terjatuh, linglung.


Matanya meleleh, air matanya membasahi pakaiannya. Ia memeluk kekosongan, meraih kehampaan- sendiri.


"Ox"


"Aku merindukannya"


"Apa aku bisa bertemu dengannya?"


"Barang sekali saja"


"Entahlah, gadisku"


"Apa kau bisa bertemu lagi dengannya atau tidak, hanya masalah waktu bagimu"

__ADS_1


"A-apa maksudmu!?"


"Pergilah, ikuti takdirmu, gadisku"


__ADS_2