
Bab 43: Rusa Kebijaksanaan, Falan
"Selamat datang kembali. Nonius- tidak, haruskah aku menggantinya? Raka Azalea?" Sebuah suara samar bergema, membangunkanku dari tidur.
Aku membuka mataku. Warna hitam mendominasi, begitu gelap dan kelamnya.
"Siapa kau? Dimana aku?"
"Percuma saja bukan? Kau bahkan tidak bisa melihatku saat ini" ucap suara itu.
"Lalu, bagaimana caraku bisa melihatmu?"
"Lihatlah dalam dirimu sendiri"
Aku mengerutkan keningku, bingung. "Hah?"
"Pejamkan matamu, dan lihat ke dalam tubuhmu sendiri. Rasakan semua energi yang mengalir di tubuhmu, dengan begitu, kau bisa melihatku"
Aku menuruti perintahnya, memejamkan mataku.
Kerlap kerlip cahaya berwarna warni bermunculan. Mengalir dan sesekali berputar di dalam tubuhku.
"Apa kau melihatnya? Jika iya, maka carilah dirimu di antara mereka"
"Diriku?" Ucapku tertegun.
Sepintas cahaya aneh menarik perhatianku. Cahaya itu tidak terlalu terang, cenderung redup dengan warna biru yang pekat. Diantaranya banyak cahaya, hanya cahaya itulah yang sendirian, tidak bergerak sama sekali. Seakan-akan dia berada terpisah dari cahaya lainnya, tidak ada yang mendekati ataupun menjauh. Semua cahaya itu melewatinya begitu saja, seolah-olah dia tidak ada.
"Aku tidak tahu apa itu termasuk atau tidak. Tapi, ada satu yang membuatku tertarik"
Aku mendekatinya, semakin dekat, cahaya biru berubah menjadi semakin gelap dan gelap.
Sebuah perasaan familiar muncul saat diriku menjadi begitu dekat dengan cahaya yang kini berubah menjadi hitam pekat.
"Sejuk" gumamku seraya menyentuhkan tanganku ke lapisan hitam yang nampak transparan, memantulkan lanskap semesta tempatku berada.
Aku terkejut saat tanganku terperosok masuk ke dalam cahaya itu.
Thud!
Aku mendarat, masuk ke dalam bidang luas dengan latar transparan di mana-mana.
"Ini ..."
__ADS_1
Aku melangkahkan kakiku, rasanya seperti aku berada di dalam semesta yang sebelumnya, hanya saja semuanya terasa lebih kecil dengan jangkauan yang sangat luas. Cahaya-cahaya yang berwarna warni itu tampak seperti bintang gemintang yang bertaburan di langit dan dipantulkan oleh sebuah bidang di bawahku.
"Jadi apa?"
"Ah, selamat datang kembali" ucap sebuah suara yang tak asing, tapi nampak semakin dekat. Tidak lagi bergema seperti sebelumnya.
Saat suara itu berbunyi, bintang gemintang yang berputar itu berhenti sejenak, hingga beberapa saat kemudian kembali berputar dengan arah yang berlawanan dan semakin cepat seraya membentuk sebuah pola.
Rangkaian cahaya itu bergerak semakin cepat, kini hanya nampak seperti helaian benang berwarna-warni yang menari-nari di angkasa.
Benang itu lantas membentuk sebuah bentuk, itu adalah seekor rusa dengan tanduk bercabangnya yang indah.
Sudut mulutku berkedut, "Kau? Jadi kau yang tadi berbicara padaku?" Ucapku ragu.
Ia mengangguk, "itu benar. Aku adalah Falan, simbol kebijaksanaan dan pengetahuan."
"Jadi ... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku disini?"
"Itu benar. Apa kau tahu di mana kau berada saat ini?"
Aku mendengus kesal mendengar perkataannya, "Hah? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah itu yang aku tanyakan tadi!?"
"Hmm? Benarkah?" Ucapnya berpura-pura lupa.
"Itu benar. Aku adalah simbol kebijaksanaan."
"Apa kau merasakan sesuatu yang familiar di sini?"
Aku menyadarinya, "itu benar. Di mana tempat ini? Rasanya sangat tidak asing dan begitu dekat. Tapi aku sama sekali tidak dapat mengingatnya." Ucapku seraya mengingat sensasi familiar yang muncul di ujung jari jemariku.
"Apa kau percaya bahwa manusia memiliki kekuatan untuk lepas dari takdir?"
Sudut mulutku berkedut, "Apa aku terlihat peduli? Kau tidak menjawab pertanyaanku barusan, jadi apa aku harus menjawab pertanyaanmu juga?"
"Kalau begitu jawablah dulu pertanyaanku tadi"
"Kau Mahatahu mengapa bertanya padaku?"
"Hmm? Kelihatannya aku harus mengalah kali ini huh?"
"Jadi?"
"Kalau begitu, percayakah kau bahwa saat ini kau ada di pusat jiwamu?"
"Itu benar. Ada sebuah ramalan tentangmu." Ucapnya seraya mengangkat tangannya, menampilkan spektrum cahaya seperti hologram yang menampilkan sebuah adegan.
__ADS_1
"Di sini mengatakan jika kau itu adalah seorang anak tanpa kemampuan sihir. Lalu, jika kau membangkitkan sihirmu, kau akan mati diusia muda. Lalu, di sini juga mengatakan jika kau itu tidak mungkin memiliki umur yang panjang. Dan kau, adalah simbol kemalangan. Begitulah"
"Bagaimana pendapatmu tentang ini?"
"Ha ha. Aku sama sekali tak percaya bahwa aku bahkan sudah memiliki ramalan. Aku tidak ingin mengatakan itu bodoh, konyol, atau sebagainya" ucapku seraya tertawa kecil.
"Fakta mengatakan bahwa kau sudah mengeluarkan semuanya"
"Ah. Begitulah, kalau begitu, izinkan aku menanyakan sesuatu padamu."
"Aku mendengarkannya."
"Bukankah kau seorang yang maha tahu? Lalu mengapa kau bahkan tak bisa mengetahuinya dan justru menanyakannya padaku?"
"Itu benar. Bagaimana pun, hati manusia itu tak bisa di tebak. Mereka terlihat seperti danau yang dangkal, sangat dangkal. Tapi, saat kau mencelupkan kedua kakimu ke sana, kau akan tenggelam."
"Lalu, apa ada jaminan bahwa pikiran itu tidak berubah setelah dibaca? Lagipula, menerka ke pemikiran seseorang, bukankah itu tidak sopan?"
"Itu benar." Ucapku ringan.
Aku menarik napasku panjang, menatap rusa yang bercahaya di hadapanku dengan dingin.
"Lalu, apa bedanya dengan takdir?" Ucapku tenang.
Ia nampak sedikit terkejut tatkala mendengar ucapanku.
"Bukannya tak ada bedanya? Tidak ada jaminan bahwa takdir itu tidak berubah setelah dilihat."
"Siapa yang akan tahu tentang hal itu? Tidak ada takdir yang bisa diketahui sebelum di jalani bukan? Kita tidak tahu sejauh mana kita berjalan jika kita tidak mencobanya? Bahkan jika itu terlihat tepat, sebenarnya itu tidak benar-benar tepat, bukankah begitu?"
"Takdir, masa depan, hati dan pikiran manusia, itu semuanya rahasia. Saat itu dibaca, itu hanya jadi ilusi. Tidakkah begitu?"
Ia nampak terkejut, tapi kemudian, melengkungkan bibirnya, tersenyum.
"Kau memiliki pemikiran yang bagus. Yah, aku menyetujuinya, semuanya akan berubah. Kau tahu? Kau yang pertama."
"Hmm? Pertama? Apanya?"
"Kau yang pertama."
Aku mengerutkan keningku bingung,
Senyumnya semakin tinggi, "Pada akhirnya, kau memberi jawaban yang kuharapkan. Terimakasih"
"Ah! Benar juga. Tidak sopan jika aku tidak memberimu hadiah, bukan? Jika begitu ... selebihnya kuserahkan padamu" ucapnya di akhir pertemuan.
__ADS_1