
Bab 27.5: Alasan Untuk Membunuh
Di tengah-tengah langkahnya ia merasakan aura familiar yang membuat nafasnya sedikit sesak. Ia pun menegakkan tubuh tingginya dan melirikkan mata ke arah sumber aura yang dirasakannya. Namun, aura itu perlahan menghilang begitu saja.
Ia melangkah dengan tenang menembus kegelapan- perlahan lahan menghilang.
Tap!
Raka mendarat dengan tenang di atas sebuah atap. Nampak sesosok bayangan bernaung di bawahnya.
"Ha ha" Ucap sang Assassin yang terkejut saat menyadari target yang ia intai dengan tenang justru menampakkan sosoknya tepat di belakangnya.
"Bagaimana kau bisa disana?" Ucap assassin iti dengan pasrah.
"Oh? kau bertanya padaku!?" Ucap Raka dengan santai.
"Apa alasannya kurasa bukan suatu hal yang penting bagi seseorang yang akan mati bukan!?" Lanjut Raka sembari mengeluarkan aura pekat dari tubuhnya, Absolute of darkness.
__ADS_1
"Urgh!" Seru assassin itu tertekan. Secara mendadak tubuhnya rubuh seolah olah ditekan oleh tangan hitam yang sangat besar. Dengan perasaan panik, bingung dan takutnya ia mencoba berdiri. Namun sial baginya, tubuhnya sama sekali bukan tandingan bagi skill sihir kegelapan dari seorang remaja berusia 14 tahun itu. Darah merah segar keluar dari tubuhnya, Sakit.
"Erick Van Loyd, Assassin handal yang dikenal sebagai bayangan malam. Memiliki skill penghancur sihir, bukan begitu? pada umurnya yang ketiga puluh kehilangan keluarganya karena dibunuh oleh seorang assassin bermarga Neiro? memutuskan untuk menjadi assassin demi membalas dendam. Sudah sekian lama hati semakin dikuasai kegelapan. Dendam sudah dibalaskan, kenapa masih begitu bodoh bertahan di dunia pugilistik?"
"Tch! memang seorang pemimpin dari organisasi dunia bawah terbesar, meski nampak sebagai remaja pun, kemampuan masihlah tergolong tingkat elite. Apa yang anda katakan memanglah benar, tapi saat seseorang sudah memutuskan masuk ke dunia bawah seperti ini, apalagi yang bisa dibuat? sekali tangan ternoda darah, tangan itu tak bisa lagi dibersihkan, bukankah anda juga faham? Pangeran negeri kedamaian, Arcnight?"
"Oh? memang aku juga tidak menyangkal adanya hal tersebut. Tapi seorang assassin yang tidak mau mengikuti aturanku tidak layak hidup dan tinggal atau pun melangkahkan kaki di kotaku." Tandas Raka.
"Oh? mengapa?"
"Aku pemimpinnya, Tuan" ucap Raka tajam
"Semua orang memiliki pemikirannya sendiri, begitu juga dalam membunuh, semuanya memiliki aliran dan tekniknya sendiri dalam menyelesaikan quest dari kliennya. Layaknya hidup, seorang pembunuh juga harus memiliki alasan untuk membunuh, bunuhlah orang yang menurutmu layak untuk kau bunuh, itulah aturanku. Kau boleh dengan bebas membunuh di tempat lain, tapi tidak dengan Kotaku, Qrystial!" Ucap Raka sembari menekan suaranya dengan tegas. Sementara Erick tertekan hingga ia tak sanggup untuk mendongakkan kepalanya.
"Tch! apa yang kau inginkan dariku!? aku ini hanyalah pria tua yang sebentar akan mati bukan!? basa basimu itu hanyalah omong kosong bagiku"
"Yah, aku memang tak berniat memberimu pelajaran sih," Ucap Raka dengan menyimpan kembali auranya, Erick pun berdiri dengan sempoyongan.
"katakan atas alasan apa kau mengincarku? Jawab pertanyaanku!" Dalam sekejap Raka menghilang dan menghunuskan pedang hitamnya tepat disamping kanan kepala Erick.
__ADS_1
Dalam sesaat, Erick terkejut. Dia kemudian tersenyum
"Tch!" Secara tiba tiba dia mengarahkan kepalanya ke sebelah kanan.
Crashh..
Semburat cairan merah menetes dan menyembur kemana mana.
Brakk
Kepala Erick terjatuh dengan darah merah kemana mana. Seketika tubuhnya limbung mengikuti kepalanya yang tertebas.
Sementara Raka hanya terdiam mematung. Cipratan darah merah menodai sebagian tubuh dan wajahnya. Matanya menatap dingin kearah tubuh Erick yang sudah tak bernyawa lagi.
Dia menurunkan pedang hitamnya yang sudah bersimbah darah. Seketika amarah memuncak, Aliran mana hitam lekat keluar dari tubuhnya, sesak. Ia hilang kendali. Dalam sekejap mana hitam itu menyebar memenuhi udara dikota Qrystial.
Semua penduduk terkejut akan hadirnya aura hitam pekat. Perasaan takut dengan cepat mencuat hebat. Sadar akan hal yang telah dilakukannya, Raka menarik kembali aura dan mananya.
Urgh! Seteguk darah merah mengalir dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Tuan!" nampak seorang pria dewasa berambut pirang panjang menghampiri Raka yang pijakannya sedikit goyah.