
Bab 14: Pertarungan Murid-Guru
Sore berakhir, petang berlangsung, malam menjelang.
Langit menjadi cukup gelap, saat keduanya berhenti bertarung. Yama berdiri kokoh, dengan tubuh tanpa goresan sedikitpun, hanya namapk pakaiannya yang sedikit kotor.
Sementara Raka nampak duduk bertumpu pada lutut dan tangan kanannya, tubuhnya babak belur, masih dengan kesulitan napas yang ia alami.
Yama menghela napasnya panjang dan tersenyum.
Mengelus rambut biru muridnya dan duduk di sebelahnya, menyalurkan sedikit mana pada elusan tangannya.
Raka terkejut. Dan dengan cepat mencoba menjauh saat aliran mana memasuki tubuhnya.
"Ma-master! Apa yang anda.."
"Tidak apa, biarkan aku memeriksamu sebentar" ucap Yama dengan tatapan serius, masih dengan tangan yang berada di kepala muridnya itu.
Raka hanya terdiam sembari menahan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
'Begitu, sesuai dengan perkiraanku, dia memiliki kapasitas mana yang lebih besar, tapi apa ini? Ini benar-benar kosong, dan lagi.. sihirku bahkan tertahan?,'
"U-ugh.." Raka sedikit menahan sakit.
Yama yang menyadarinya segera menarik kembali sihir yang ia salurkan. Tubuh kecil itu kehilangan keseimbangannya dan segera limbung tak sadarkan diri. Sementara itu, pandangan Yama segera menangkap suatu hal yang aneh pada muridnya.
...□ □ □ ...
__ADS_1
'Panas!'
'Sebenarnya apa yang terjadi!?'
'Ugh.. sial!'
"Gah!" Aku terkejut dan membuka mataku.
"Hmm? Oh ya ampun, kelihatannya pangeran kecilku sudah bangun" sebuah suara halus mengelus rambutku.
Aku terdiam memandangi sesosok wanita cantik dengan rambut senada dengan rambutku. Wanita itu begitu cantik, ia duduk di tepi ranjang tempatku berbaring.
Mataku memanas, air mata perlahan menetes lembut, menyusuri pipi kecilku.
"I-ibu.." sepatah kata keluar dari mulutku, sesuatu melonjak hebat di dalam hatiku. Sebuah perasaan sakit, pedih dan banyak hal tak bisa ku gambarkan.
"Hmm? Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya linglung.
"ADA APA? APA YANG INGIN KAU KATAKAN, SAYANGKU? BUKANKAH KAU MERINDUKAN IBU? JIKA BEGITU TIDURLAH, TIDURLAH UNTUK SELAMANYA..."
Aku tercengang. Meskipun begitu, tubuhku bergerak tanpa sadar, menghampiri dekapnya yang hangat. Ia mendekapku dengan begitu lembut. Dengan perasaan hangat yang melarutkan.
Aku larut dalam kehangatannya, kesadaranku mengabur seiring dengan rasa hangat yang kian mendingin, membenamkanku dalam sebuah mimpi yang begitu dingin.
'HANCUR'
'LEBUR'
'HAPUS'
__ADS_1
'KAU..'
'TIDAK PERNAH ADA'
Sebuah pikiran melintas kelam di pikiranku bersamaan dengan rasa sakit yang menghancur leburkan tubuhku. Rasa sakit itu terua menggerogotiku dengan ganas. Teriakan dan erangan tak terelakkan lagi, meskipun begitu, tak satupun dari suara itu keluar dari mulutku.
Napasku tercekat, pikiranku kacau. Rasa sakit yang mendatangiku tanpa ampun, mengiris tubuhku.
'HOO? APAKAH DIA YANG BODOH ITU?'
'YAH, DIA HANYA ORANG MISKIN YANG TAK PUNYA OTAK!'
'TCH! MENJIJIKKAN, JAUH-JAUH DARINYA!'
'LIHAT, BUKANKAH DIA SI TAK PUNYA NAMA YANG TAK BEROTAK ITU?'
'TCH! APA YANG KAU PIKIRKAN?'
'TOH DIA HANYA PANGERAN TAK BERGUNA ITU!'
'YAH, AKU BENAR-BENAR TAK BISA MEMIKIRKANNYA JIKA DIA JADI RAJA KITA!'
'JADI? SEBENARNYA KENAPA DIA DILAHIRKAN SIH? BENAR-BENAR TAK BERGUNA DEH'
'YAH, AKU KASIHAN DENGAN RATU DAN RAJA YANG PUNYA ANAK SEPERTINYA'
Aku menatap kosong saat suara-suara itu bergema hebat di telingaku. Tubuhku, mati rasa.
Pandanganku semakin kabur, perasaan kembali terbenam dan tenggelam lebih jauh lagi.
__ADS_1
'INGATLAH, KAU TIDAK DIINGINKAN DISINI, RAKA'