The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 73


__ADS_3


Bab 73: Pertemuan


"Kakak! Sebenarnya siapa pria baj*ngan tanpa harga diri itu!" Tanya Stelia kesal.


"Oh? Pria itu hanya pria yang ingin merampokku saja" ujarku datar seraya menoleh ke arahnya. Gadis itu, Stelia Kalandra Azasky. Putri dari sang penguasa tujuh arah angin.


"Oh? Merampok? Apa kakak begitu kayanya?" Tanyanya serius.


Aku terkekeh sejenak sebelum menjawab pertanyaan konyolnya, "Yah. Bisa dibilang begitu." Ucapku kemudian.


"Benarkah? Orang tuaku juga begitu. Mereka adalah bangsawan terhormat dengan status tinggi. Tapi tidak pernah ada seorang pun yang berani merampokku?".


"Pfft"


Untuk kesekian kalinya, aku tak bisa menahan tawaku saat mendengar lontaran kecil ucapan konyolnya itu. Yah, mau sekaya apapun seorang raja, agak lucu juga jika dia dirampok, kan?


"Baiklah, ini sudah cukup larut kembalilah, pasti orang tuamu akan mencarimu kan?" Ucapku seraya bangkit dari tempatku duduk.


Gadis kecil berambut coklat madu itu mengangguk riang sebelum akhirnya ia berlari dengan riangnya.


Dengan ini pertemuan pertama dengan sepupu kecilku yang periang pun berakhir. Dan, tanpa kuketahui, pertemuan ini menyebabkan kegaduhan pada sebuah keluarga.


...□□□...


Dua orang itu, Albert dan Queensha nampak mulai panik saat keduanya tak kunjung menemukan putri kecilnya.


"Kakak! Kemana saja kau! Kenapa kau tidak mencariku sih!?" Cecar Stelia sesaat tiba di ruangan orang tuanya.


Ketiga orang tersebut hanya bisa menunjukkan ekspresi terkejut mereka dengan kehadiran mendadak Stelia.


Queensha berlari dan memeluk tubuh Stelia spontan.


"Steliaa ... ke mana saja kamu nak?" Tanyanya dengan sedikit air mata disudut matanya.


"Ibu, aku tidak apa apa, tadi memang ada sih orang yang menyerangku" ucapnya polos.


"Apa!?" Seru Albert dan Oliver secara bersamaan.


Ia mendecakkan lidahnya, "Tsk. Orang sialan mana yang berani menyentuh rambut putri kecilku huh!?" Ucap Albert dengan sedikit menekan auranya.


Oliver memberi reaksi yang sama, ia mengangguk dan turut menekan auranya.


Sontak seluruh orang terkejut merasakan aura yang luar biasa itu, seluruh mata tertuju pada sebuah ruang VIP berangka 3.


Queensha dan Stelia hanya menatap datar kedua pria bodoh di depannya.


"Huh, kenapa aku harus menikah denganmu sih dulu" Eluh Queensha dengan lirih saat melihat suaminya yang berkobar kobar.


"Ibu, aku ingin kembali masuk ke dalam perutmu saja" imbuh Stelia dengan ekspresi datar.


"Baiklah, lupakan mereka berdua, apakah kau terluka sayang?" Ucap Queensha dengan penuh perhatian.


Stelia menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum kuda.


"Yah, orang tak berguna itu menyerangku dengan panah, swosh.. tapi aku menghindarinya hehe,, kemudian, Stelia memarahi orang itu. Orang itu justru marah padaku.. kemudian dia memberiku bola asap dan boom! Itu meledak dengan keras. Stelia tidak bisa melihat saat itu bu!" Ucap Stelia menceritakan kejadian tadi.


"Lalu, ada seorang kakak yang baik yang memerintahkan pengawalnya untuk menangkap pria itu, dia juga menarik Stelia dan mengantarkan Stelia ke tepi, kemudian dia berbicara beberapa hal dengan ku bu! Kakak itu begitu tampan dan pintar! Katanya, orang itu memburunya untuk mendapatkan harta milik kakak ... kemudian kakak memujiku dan memberiku semua makanan ini tehee" ucapnya ceria seraya menyodorkan beberapa kudapan kecil.


Queensha dan Albert saling berpandangan tak mengerti.


Bagaimanapun, jika memang benar orang itu ingin merampok seorang peserta lelang, kenapa orang itu justru pergi ke arah yang sepi? Sedangkan orang yang akan dirampok pastinya ada di tribun lelang kan?.


"Apa itu mungkin jika orang itu tidak menargetkan peserta tapi pemilik lelang ini?" Tanya Queensha.


"Ah. Itu mungkin saja.. tapi ada yang mengganjal disini".


Sementara itu, stelia nampak menikmati kudapan manisnya bersama dengan Oliver. Mereka menyimak dengan tatapan bosan.


Ia kemudian bangkit dengan segera.


"Jika kalian ingin pulang pulanglah, ada hal yang ingin kuobrolkan dengan seseorang" ucapnya sebelum meninggalkan tempat itu.


Ia kemudian melangkah dengan langkah tegapnya diantara kerumunan penonton. Setelah beberapa lama mencari, terdengar sebuah suara mengejutkannya.


"Oh? Seperti yang tuan katakan!" Ucap Edward yang berdiri di samping Albert ramah.


"Anda.."

__ADS_1


"Mari" Ucap Albert sembari mengulurkan tangannya menunjuk ke sebuah arah.


"Apa maksudnya ini!?" Tanya Albert dengan curiga.


"Apa kalian memiliki maksud tertentu huh!?" Ucapnya.


Albert sendiri bukan tanpa alasan mengambil spekulasi itu. Bagaimanapun, sedari mulai surat undangan dengan stampel kerajaan Arcnight, lelang yang menakjubkan, hilangnya Stelia, penyerangan yang terjadi pada putrinya tadi. Itu semua menjadi alasan baginya untuk menemui pria dibalik ini semua.


"Fu fu ... anda akan tahu setelah bertemu tuanku."


Ia kemudian mengajaknya menelusuri lorong panjang dan berhenti pada sebuah pintu.


Tok tok.


Ia mengetuk pintu.


"Siapa?" Ucap sebuah suara dari dalam.


"Ah. Saya Edward mengantar yang mulia Albert"


"Oh. Masuklah." ucapnya singkat.


Tak lama kemudian, Edward membuka pintu secara perlahan dan mempersilahkan Albert untuk masuk.


Albert lantas masuk ke dalam ruangan kecil itu.


"Ah. Apa kabarmu, paman?" Ucap sebuah suara di balik meja yang tertutup kertas yang menggunung.


...□□□...


"U ugh.. aku baik". Balas Albert.


"Ah. Maaf kau tak dapat melihatku ya paman?" Ucapku seraya bangkit dari tempatku duduk.


Aku melangkahkan kakiku maju, keluar dari meja dan kursi kerjaku, "Tidak. Maksudku, yang mulia, Albert Azasky" ucapku dengan membungkuk hormat.


Pria paruh baya dengan rambut coklat madu senada dengan putrinya itu tampak terkejut tatkala melihat sesosok bayangan yang tak lagi asing diingatannya, kurasa.


Sementara aku hanya bisa tersenyum kecil di hadapannya.


Dia tersadar, dan secara refleks bertanya.


Aku hanya mampu tersenyum bingung seraya memiringkan kepalaku.


"Tidak salah lagi! Kau benar benar Raka bukan!?" Ucap Albert, kali ini dengan ekspresi takjubnya.


Sekali lagi, tak ada yang benar benar bisa kutanggapi.


"Yosh! Aku benar benar yakin kau adalah Raka!" Ucapnya dengan mata berbinar binar.


Sudut mulutku berkedut, bukankah dia terlalu lama kagetnya?


"U um? Bisakah kau berhenti mengatakan bahwa aku Raka?" Ucapku canggung.


Yah, aku sedikit bertanya tanya apakah seperti ini rasanya bertemu dengan kawan lama? Atau seperti inikah rasanya bertemu dengan sanak saudara yang telah lama hilang?


Entahlah, baik itu kawan lama atau sanak saudara yang hilang, aku tidak pernah mengalaminya. Dan tentu saja, ini membuatku sangat sangat canggung.


"U uhuk uhuk! Baiklah ... aku terlalu antusias tadi" ucapnya sembari terbatuk batuk.


Aku menghela napasku panjang sebelum akhirnya mengajaknya duduk di sebuah sofa, "Baiklah. Sudah cukup temu kangennya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan pada anda, yang mulia Azasky" ucapku mencoba lebih formal.


"Oh? Aku penasaran tapi sebelum itu ada baiknya jika kau menjelaskan tentang semua ini padaku" ucap Albert sembari mendudukkan tubuh besarnya itu.


Aku menelan ludahku pahit, "E eh?" mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi sebelum itu, pria tua di hadapanku ini justru menunjukkan ekspresi seriusnya.


"Sigh ... baiklah, aku tidak bisa bercerita lama lama, akan kujelaskan secara ringkas saja oke?" Ucapku mengalah.


"Yang pertama, mungkin yang ingin anda ketahui adalah alasan kenapa aku masih hidup bukan begitu? Kemudian yang kedua, alasan kenapa aku tidak pernah mencoba kembali kepada keluarga azasky setelah selamat, yang ketiga, alasan kenapa aku berada disini, dan yang keempat alasan kenapa aku tidak pernah muncul setelah kabar kematianku menyebar. Bahkan sama sekali tidak memberitahu keluarga Azasky, bukan begitu?" Ucapku memulai narasiku.


Albert mengangguk dengan ekspresi cemberut mengiyakan pernyataanku.


"Hfft ... baiklah, yang pertama adalah, saat peristiwa itu terjadi, aku dilindungi oleh para knight dan maid yang bahkan berkorban nyawa, mereka mengorbankan diri dan mendorongku kearag sungai sehingga aku bisa lolos dari sergapan iblis"


"Jawaban yang kedua dan yang keempat, alasannya adalah setelah kejadian itu, aku dibawa oleh para pedagang budak untuk dijadikan budak. Dan kemudian alasan kenapa aku tidak pernah memberitahu siapapun itu karena aku sempat kehilangan ingatanku untuk beberapa waktu. Dan ingatanku kembali 7 tahun yang lalu. Alasan aku tidak memberi kabar tentang itu adalah karena beberapa alasan keamanan, dan kukira kau pasri mengetahuinya lebih dari padaku"


"Kemudian alasan kenapa aku berada di sini sebenarnya alasannya cukup sederhana tapi rumit. Alasannya adalah karena aku pemilik tempat ini dan bisnis ini"


Mendengar pengakuanku, pria itu merenung dan mendengarkan dengan seksama. Sesekali dahinya tampak mengernyit.

__ADS_1


Untuk beberapa tempat, ia tampak menegang, ekspresi tercengang pun tak bisa ia sembunyikan dariku. Itu wajar, kurasa. Bagaimanapun, ia sama sekali tak menyangka akan ada kejadian kejadian seperti ini yang menimpaku, keponakannya.


Sigh. Aku mendengarnya, helaan napas yang begitu berat dari pria paruh baya bertubuh besar di hadapanku ini. Aku bisa membayangkannya saat ini kepalanya dipenuhi banyak tanda tanya dan perasaan bercampur aduk mengenai segala yang kuucapkan.


"Ugh ... baiklah. Ada begitu banyak cerita yang masuk dalam otakku sekaligus." Ucapnya sembari memijit dahinya pusing.


"Jadi. Apa hal yang membuatmu menghubungiku secara mendadak ini?" Tanyanya.


Aku mengangkat kepalaku, menatap mata tua yang masih tampak begitu tegas itu, "Ah. Ini soal keluargaku." Ucapku singkat.


Aku mulai mengalihkan pandangku pada jendela besar dengan segala hiruk pikuk kehidupan malam yang ia pancarkan, "Aku mendengar jika barier pembatas antara Arcnight dan negara negara lainnya mulai terbuka." Ucapku acuh.


"Oh? Lalu?"


Aku kembali menoleh saat suara pria itu kembali menarikku dari pemandangan malam, "Aku ingin tahu pilihan apa yang akan kau ambil, Yang Mulia Albert" ucapku kembali formal.


"Hmm ... aku akan terkejut jika pertanyaan itu hadir dari Archian lainnya, tapi itu tidak mengejutkan jika kau yang mengatakannya."


"Agak sulit untuk menjawabnya, bagaimanapun itu bahkan tidak bisa dipastikan apakah itu benar benar jawabannya atau bukan. Semuanya tergantung situasinya, Raka."


"Tidak, kelihatannya aku harus memanggilmu, yang mulia pangeran kedua, Arcnight"


Aku mengangguk setuju, mengiyakan pendapatnya.


Agak tidak adil memang, tapi itulah kenyataan dari dunia ini. Bahkan jika aku, harus mengorbankan Qrystial untuk menebus keluargaku sendiri pun, rasanya tetap sulit jika aku menjadi sepertinya, seorang raja.


"Lanjutkan" ucapku singkat.


"Jadi, jika anda bertanya apakah aku akan memilih membiarkan barier itu terbuka dan menolerir apa yang akan terjadi atau, apakah justru aku akan memilih memusnahkan Arcnight, bukan begitu?"


"Maka jawabannya adalah aku akan memusnahkannya. Itu karena kau bertanya padaku sebagai seorang pangeran dan raja, tapi akan lain jadinya jika kau bertanya padaku sebagai keponakan dan paman,"


Aku mengangguk setuju menyetujuinya, aku tak bisa menolak untuk tersenyum saat ini. Sebab, hal hal menyebalkan seperti inilah yang membuatnya lebih realitas.


"Kalau begitu akan jauh lebih melegakan" ucapku dengan menunjukkan sorot matanya yang perlahan lahan menyipit.


"Kalau begitu, aku akan memberi sebuah kerjasama, bagaimana?" Ujarku kemudian.


...□□□...


Albert tinggal di mansion pelelangan itu selama tiga jam, sementara istri dan kedua anaknya pulang terlebih dahulu.


Setelah beberapa lama, ia nampak keluar dari ruangan Raka dengan langkah yang tegas dan sorot mata serius.


Edward yang berjaga di luar ruangan cukup terkejut saat melihat raut ekspresi Albert yang nampak menegang sesaat. Terlepas dari itu, Edward membungkukkan badannya memberi hormat.


Setelah beberapa lama selepas kepergian Albert.


"Paman Ed, bisakah kau panggil semua orang untuk berkumpul?" ucap sebuah suara dingin memerintahnya.


"Sesuai kehendak anda, tuan muda." ucapnya sebelum pergi.


Setelah beberapa lama, Raka keluar dari ruangnya dengan setelan jas panjangnya.


"Hormat kepada yang mulia" ucap kelima orang itu di hadapan Raka.


Raka menundukkan pandangnya kearah kerumunan orang orang yang nampak membungkukkan badannya menghormat.


"Cukup. Terima kasih." Ucapnya singkat.


"Aku ucapkan Terima kasih dan selamat atas acara hari ini" ucapnya dengan senyum tenang.


Semua orang memerah bahagia.


Clap clap clap!


Raka kemudian memberi tepuk tangannya, dibalas sorak sorai semua orang dengan penuh semangat.


"Kalian sudah berusaha cukup keras. Beristirahatlah malam ini, semuanya boleh melakukan apapun untuk mengobati rasa kesalnya! Asalkan tidak merugikan orang lain" Ucapnya dengan tatapan bahagia.


"Yeay!" Ucap semua orang dipenuhi kebahagiaan.


"Kalau begitu, selamat menikmati malam ini!" Ucap Raka.


Ia lantas meninggalkan tempatnya berdiri dan kembali kearah lorong lorong panjang meninggalkan soarak bahagianya.


Sesaat setelah melangkah raut wajahnya berubah menjadi lebih serius.


'Ayah, ibu, semuanya! Bertahanlah selama mungkin!'

__ADS_1


__ADS_2