The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 24.5


__ADS_3


Bab 24: Sangkar & Burung kecil


Aku sedikit terkejut menanggapi ucapannya. Meskipun memang benar dia nampak sedikit terasingkan, tapi kurasa itu semua membawa hal baik bagi dirinya, bagaimanapun, tuan Leon bukan seperti orang yang akan mengasingkannya tanpa alasan yang jelas. Dan lagi, tatapan mata rumit yang ditunjukkan Tuan Leon saat melihatnya, tidak salah jika tuan Leon benar-benar menjaganya.


"Kenapa? Kau menyangkalnya?" Tanyaku heran.


"Kau hanya orang luar, yang kau lihat saat ini hanyalah topeng! Itu semua palsu! Aku.. aku tidak berguna! Karena aku tidak bergunalah, dia mencampakkanku! Dia sama sekali tidak menganggapku ayahnya!" Teriaknya mengejutkanku.


"Tuan muda! Apa yang anda katakan!" Ucap sebuah suara dingin, Kai.


"Tuan muda, maafkan tuan muda Ryan sebelumnya, dia memang selalu begini.." ucap Kai dengan segera meminta Ryan untuk pergi.


"Sigh.. begitu ya, tidak apa. Tapi, jika memang ayahmu tidak menganggapmu anaknya, sudah bisa dipastikan bahwa kau tidak akan ada disini.." ucapku.


Anak itu terkejut,dan memandangku dengan kedua mata emasnya.


"Bukan begitu? Kau hanya tidak tahu bagaimana dunia luar berjalan. Percaya atau tidak, ayahmu mencoba untuk melindunginya, baik itu hidupmu, duniamu, perasaanmu, ataupun kenanganmu." Ucapku seraya berjalan, berlalu dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kai, apa itu benar?" Gumamnya.


Ya, itu benar. Mungkin agak sedikit aneh, tapi yah. Aku tahu, aku tahu perasaan itu. Perasaan yang sudah lama kulupakan.

__ADS_1


"Anda disini, tuan muda.. saya mendengarnya dari Kai jika anda sudah selesai" ucap Paman Leon mengejutkanku.


"Ah, ternyata anda" ucapku sedikit terkejut.


"Haha, maafkan saya.. ada beberapa masalah yang harus saya selesaikan"


"Oh? Apa itu tentang putra bungsumu?" Ucapku sekedar menebak.


"Ah.. tidak. Seharusnya anda mendengarnya kan? Saya bukan tipe orangtua penyayang yang bisa menerima seorang putra yang menyebabkan kematian bagi istri saya" ucapnya menyanggah.


"Anda mudah ditebak, itu saja Tuan Leon" ucapku ringan.


"Aih? Kelihatannya saya sudah bertemu dengan Tuan Kaixena kecil," ucapnya pasrah.


"Ah, itu benar.. maksud saya bukan dari penampilannya. Anda tahu? Meskipun saya belum pernah bertemu dengan saudara saudari anda, tapi saya yakin jika anda adalah yang paling mirip dari segi pemikiran."


"Benarkah?" Tanyaku sedikit terkejut. Bagaimanapun, aku sendiri tidak mengingat ayahku. Setidaknya di hidupku kali ini, aku sama sekali tidak berharap akan dianggap mirip. Yah, dihidupku sebelumnya, dia pergi sebelum aku benar-benar mengenalnya.


"Ah, itu benar ... dan juga, soal putra saya ..."


"Putra bungsu saya lahir tanpa mengenal istri saya. Saya tidak menyalahkannya atas kepergian ibunya, bagaimanapun, anak itu tidak pernah memintaku atau istriku untuk menjadikannya ada. Aku yang berhutang budi padanya. Karenanyalah, diantara putra saya yang lainnya, hanya dia yang tidak saya perbolehkan untuk pergi. Dia anak kecil yang naif. Dan, memiliki hati yang naif di dunia yang tak mengenal belas kasih itu adalah sebuah dosa." Ucapnya sedikit khawatir.


"Yah, aku tahu ... tapi, seekor burung kecil tidak akan pernah bisa terbang jika tidak pernah dilepaskan ke langit bukan? Dunia ada untuk dihadapi, bukan untuk dihindari. Bahkan jika itu adalah dosa, kau tidak punya hak untuk terus menenggelamkannya di laut kenangan kan? Putramu itu, terus bertumbuh setiap detiknya, dan kau terus menua setiap detiknya. Dengan kata lain, akan selalu ada jarak diantara kalian. Pilihanmu sekarang adalah membiarkannya terbang di angkasa atau mengurungnya di kurungan?" Ucapku.

__ADS_1


Wajahnya nampak sedikit terkejut, ia mengerutkan keningnya rumit.


"Saya.."


"A-aku! Biarkan aku ikut dengan anda!" Sebuah suara kecil mengejutkan kami, aku menoleh, seorang anak berambut hitam berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal erat.


"Sigh ..." aku menghela napasku dan mengalihkan panjang pada wajah serius yang kini nampak sedikit tersenyum.


"Yah, apapun itu, kelihatannya anda akan sibuk akhir-akhir ini ya, tuan Leon?"


"Haish.. apa boleh buat?" Ucapnya seraya menghela napasnya panjang.


"A-apa itu benar, ayah!?" Ucapnya antusias.


Leon nampak mengangguk membenarkan ucapan putra kecilnya itu.


Aku melangkah pelan, dan mengulurkan tanganku padanya.


"Lihat? Ayahmu mencintaimu. Apakah kau mencintai keluargamu yang sekarang? jika kau ingin melindungi mereka, kau harus lebih kuat! mereka yang membuatmu bahagia, pantas untuk menjalani hidup yang bahagia, semua orang pantas untuk bahagia." Ucapku sedikit menghiburnya.


Dengan ini, pilar keempat resmi bergabung. Tapi karena umurnya yang masih kecil dan karena rasa cinta ayahnya itu, Kai juga terpaksa ikut bergabung. Yah, tidak apa sih, lagipula dengan adanya Kai juga kekuatanku bertambah kan?


...□□□...

__ADS_1


__ADS_2