The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 71


__ADS_3


Bab 71: Berita


"Hei apa kau sudah dengar berita soal Nightingale?" Ucap seorang pria bangsawan dengan cawan bir yang masih di tangannya.


"Hoo? Apa maksudmu soal pelelangan besar itu?" Sahut pria bangsawan di hadapannya.


"Tentu saja, menurutmu apa lagi huh!?"


"Yah, tempat itu sedang naik daun bukan?"


"Uhm.. memangnya ada apa dengan tempat itu?"


"Hah ... itu tentang keluarga Kaelmiff ... kudengar putra termudanya membuat masalah dengan pelelangan itu akhir akhir ini" Ucap pria bangsawan membuka topik.


"Uhm? Apakah dia bodoh huh!?" Ucap pria satunya lagi dengan serius.


"Huh.. yah itulah yang kupikirkan, tapi bagaimanapun itu mungkin saja jika dia adalah putra bungsu Kaelmiff." Ucapnya mengakhiri percakapan.


"Ah, permisi, maaf mengganggu waktunya"


Kedua pria itu menoleh secara serempak ke arahku.


Aku mencoba tersenyum saat kedua pria bangsawan itu menoleh dan menunjukkan wajah lesunya yang nampak sembab dan merah hasil dari bir yang mereka minum.


"O oh?" Mereka tersadar dari lamunan mereka dan meresponsku lirih.


"Ah, sebenarnya, apa yang terjadi dengan Azasky? Kelihatannya ini lebih ramai dibanding biasanya" ucapku melirikkan pandang.


"Hoo, nak kelihatannya kau orang baru ya disini?" Ucap salah seorang pria disambut oleh anggukanku mengiyakan.


"Hoho pantas saja kau nak!" Ucap pria itu renyah.


"Kalau begitu saya akan duduk di sini mendengar cerita dari tuan ..."


"Jika yang kau ingin ketahui adalah soal pelelangan, kami akan memberitahumu sedetail detailnya, tentang seberapa kejamnya tempat itu untuk bangsawan muda sepertimu, ho ho."


"Ah, tidak. Bukan itu yang kumaksud .. yang ingin kuketahui adalah soal yang baru saja tuan bicarakan, soal Azasky." Ucapku lagi.

__ADS_1


"Huh, pasti yang kau maksud adalah tentara tentara itu bukan?" Ucap pria itu mengarahkan pandangnya keluar ke arah pasukan yang nampak sibuk berlalu lalang.


Sementara aku hanya mengangguk membenarkan.


"Ah. Ini tentang kerajaan tetangga kita, Arcnight"


Kedua pria itu terdiam sejenak dengan ekspresi yang nampak terlihat serius, nampak sedikit bingung untuk menceritakannya.


Aku tersenyum, mengangkat tanganku pada seorang pelayan yang secara kebetulan lewat, "minumlah, saya yang akan mentraktirnya." Ucapku ramah.


"Ah. Itu benar! Akhir akhir ini kerajaan yang hilang itu nampak kembali menunjukkan eksistensinya. Karena itu, keluarga kerajaan memutuskan untuk membatasi kegiatan kita diluar Azasky."


"Oh? Apa itu benar?" Ucapku kemudian.


"Tentu saja benar. Biar bagaimanapun, jika kerajaan itu kembali muncul, itu artinya perisai yang membagi kerajaan arcnight dengan dunia luar mulai berubah. Jika itu yang terjadi maka miasma kemungkinan besar akan menjangkit." Ucapnya dengan ekspresi merinding.


"Jadi begitu ya," Ucapku kemudian. Beberapa saat kemudian, kami berbincang tentang banyak hal. Jangan tanyakan apakah ini mudah atau bagaimana. Tentu saja ini sangat sulit untukku terus mendengarkan lanturan konyol dari pria pemabuk ini.


Tentu saja, hanya informasi tentang Azasky dan Arcnightlah yang ingin kuketahui. Tapi, seiring berjalannya waktu, entah kenapa semakin banyak informasi yang secara tak sengaja kutemukan dari ucapan ucapan para pemabuk itu.


"Begitu .. aku mengerti, Terima kasih atas informasinya." Tanggapku.


"Ah, benar juga! Kau anak baru, kan? Maksudku, berhati hatilah agar tidak berhubungan dengan keluarga Kaelmiff." Ucap salah seorang pria yang sedari tadi tidak terlalu banyak bicara.


Aku tertegun, tanpa kusadari nada suaraku sedikit berubah, "Mak-sudnya?" Tanyaku seraya masih mencoba menutupinya, perubahan emosi tak kasat mata yang hadir di dalam diriku.


"Yah, itu karena kau tahu? Beberapa tahun lalu keluarga itu menjadi cukup bobrok untuk dianggap sebagai keluarga bangsawan. Kaelmiff tua dipenjara karena terbukti menjadi seorang korup."


"Ya! Itu benar! Kemudian, wanita j*lang sialan itu mulai seenaknya mengatur para penduduk Kaelmiff! Mulai dari penaikan pajak menjadi sekitar 3 kali lipat dari pajak awalnya, Bukankah itu gila!?" Ucap salah satu pria itu geram.


"Tch! Keluarga itu benar benar serakah! Dan juga, kulihat meskipun kau baru di sini, tapi penampilanmu itu bisa dibilang cukup tampan, tidak- itu sudah tampan untuk pemuda seusiamu. Berhati hatilah dengan nyonya tua itu, tidak hanya dengannya tapi juga dengan putrinya jika kau tidak ingin jadi budak bagi mereka!"


"Tak hanya itu, putra baj*ngan mereka pun sama saja! Meskipun dia yang paling dekat dengan posisi Count saat ini, ia malah memanfaatkannya untuk hal hal menjijikan seperti 'itu'!."


"Aku memang bukan orang suci, tapi tetap saja baj*ngan itu benar benar terlihat seperti binatang!"


"'Itu'? Maaf, mungkin agak tidak sopan, tapi sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku.


"Hei nak, coba kau lihat pria mabuk yang hampir seperti orang sekarat di sana!" Ucap salah seorang pria dengan nada geram.

__ADS_1


Pria itu nampak menunjuk seorang pria yang tak sadarkan diri di atas mejanya, sendirian. Pria itu seharusnya tak terlihat tua, tapi wajah dan penampilan kacaunya membuatnya nampak seperti seorang pria tua gelandangan.


Ia tertidur, dengan wajah yang memerah, air liur yang menetes dari sudut mulutnya, sudut matanya nampak kotor dengan jejak air mata yang tampak jelas. Janggut dan kumis tebalnya menambah kesan tua bersamaan dengan baju kusut yang tak lagi bersih. Ia masih berpakaian formal dengan kemeja putih lusuh dan celana hitam panjang.


Jas hitam tersampir di kursinya, posisi tidurnya yang tampak tak beraturan membuatku berpikir bahwa ia tertidur tanpa sengaja.


"Siapa, dia?" Tanyaku setelah mengamatinya beberapa saat.


"Yah, dia adalah mantan pegawai daerah yang teladan. Ia pria yang baik, dengan istrinya yang cantik. Tapi beberapa minggu lalu, baj*ngan itu 'melecehkan' istrinya yang malang. Menyebabkan istrinya depresi dan bunuh diri. Setelah kematian istrinya, ia menjadi seperti itu, depresi."


"Ada rumor yang mengatakan bahwa sebelum ia pulang dan mendengar pengaduan istrinya tentang tindakan b*jat tuan muda Kaelmiff, ia telah dikeluarkan dari pekerjaannya dengan alasan yang tidak jelas."


Mendengar lanturan pria pria itu, tak bisa mencegahku untuk mengeratkan tanganku.


Aku tertegun mendengar lanturan mereka, sedikit aneh jika kau orang asing, tapi bagiku yang telah menghabiskan beberapa waktu di rumah itu, sama sekali tidak membuatku terkejut.


'Yah, mereka akan mendapatkannya, balasan mereka sendiri.'


'Itu tidak terlihat seperti aku ingin terlibat kembali dengan mereka, bahkan jika aku bisa pun. Tidak ada yang akan berubah kecuali masa depan.'


Aku bangkit dari dudukku, berniat untuk pamit pergi.


"Baiklah, aku akan mengingatnya, perkataan anda sekalian. Terima kasih atas kebaikan tuan." Ucapku dibalas oleh senyum mereka.


Aku melangkahkan kakiku keluar, udara cukup panas saat ini di luar. Hiruk pikuk aktifitas masyarakat membumbui mataku.


Angin bertiup sedikit saat aku mencoba mengeratkan jubahku kembali, "Kai" bisikku lirih.


"Hormat kepada yang mulia," ucapnya, seorang pemuda dengan rambut putih yang segera muncul bersama dengan hembusan angin.


"Katakan pada Alice untuk segera mengambil stempel yang kupesan."


"Baik yang mulia."


"Yang jelas, saat aku sampai, semuanya sudah dipersiapkan" tambahku seraya kembali berjalan menjauh.


"Sesuai titah yang mulia".


"Pergi".

__ADS_1


Tahun ini, adalah tahun ketiga setelah perang besar. Dan tahun ini, adalah tahun keempatbelas hidupku.


Tak berapa lama, tujuanku pun terlihat jelas. Di antara banyaknya bangunan tinggi itu, sebuah lambang familiar bagiku mencuat. Aku melangkahkan kakiku memasuki menara, seperti biasanya, nampak sangat ramai dan pengap.


__ADS_2