The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 23.5


__ADS_3


Bab 23: Night Ruler


Aku mengulurkan tanganku, "anda tidak perlu mengkhawatirkan saya, dibandingkan itu, saya rasa anda adalah satu-satunya orang yang patut dikhawatirkan" ucapku.


"Terimakasih, tapi wanita yang tidak berguna seperti saya--"


"Kurasa itu lebih baik! Setidaknya bukan hanya aku yang menjadi tidak berguna disana.. bagaimana? Apakah anda ingin bersama saya? Bukankah anda khawatir dengan kebaikan saya? Jika begitu, maukah anda menemani saya dan melihat seperti apa 'kebaikan' yang akan saya tunjukkan selanjutnya?"


"Haha, bagaimanapun saya adalah mata-mata dari Black Snake, bagaimana mungkin anda seceroboh itu mempercayai saya bukan?" Ucapnya seraya menghela napas.


"Yah, bahkan jika aku ceroboh pun, kurasa Louise saat ini sudah memenggal kepalamu, kau tahu?"


"Tch! Anda adalah satu-satunya orang yang ceroboh disini.. tapi mengapa saya yang dipenggal?"


"Tentu saja, karena saya memimpin dan memberi perintah"


"Haih.. Siapa.. siapa anda sebenarnya?" Gumamnya pelan.


"Night Ruler, from Ghost Monarchy" bisikku.


Ia terkejut.


"A-apa? Anda pasti--" Ucapnya terhenti.


"Sigh.. benar juga, sedari awal bahkan anda mengucapkan banyak kata yang sulit dimengerti. Kelihatannya saya tahu mengapa anda bahkan dengan berani menantang Black Snake atau bahkan merekrut saya"


"Itu benar!" Ucapku ringan.

__ADS_1


Ia lantas mengulurkan tangannya dan meraih tanganku. Semenjak itulah, Alice D Carnea, menjadi satu dari 5 pilar yang ku percaya.


...□□□...


"Hei Alice, apa menurutmu sekarang? Bukankah aku benar-benar tak berguna? Sama seperti ucapanku saat itu?" Tanyaku seraya menatap jauh keluar.


"Anda selalu saja begitu ya, tuan muda" ucapnya lembut.


"Anda memang tidak berguna, tapi itulah yang membuat kami, orang-orang yang tak berguna bisa menghargai hidup kami, dan tidak lagi menganggap diri sendiri tak berguna"


"Itu pasti karena aku yang lebih tak berguna bukan?"


"Anda tahu akan itu." Ucapnya.


"Yah, baiklah, terserah padamu.. kurasa aku akan menemui Ryan dan Kai saja deh" ucapku.


"Baik, tolong jaga diri anda, tuan muda."


Swuush!


Aku menghilang, berkedip dan muncul di sebuah lapangan berdebu.


"Hmm?" Aku memandang ke sekeliling- sepi.


Cling!


Sebuah pisau terbang melesat dengan cepat menghampiriku.


Hap!

__ADS_1


Aku menggenggamnya.


Sesosok siluet lantas bergerak mencoba menyergapku. Aku sedikit tersenyum.


"Aih, kau masih tidak bisa menyembunyikannya dariku, Ryan" ucapku tenang seraya melempar pisau terbang itu ke arah pepohonan.


Dash!


Aku menghadang sebuah serangan dari arah ranting pohon yang cukup tinggi.


Sosok itu melepas serangannya, mundur dengan cepat.


"Sudah cukup?" Ucapku tenang.


"Heh, kelihatannya aku masih kalah ya, kakak?" Ucap seorang anak yang nampak lebih muda dariku itu.


"Hmm? Yah, mau bagaimana lagi? Berusahalah lebih keras oke?" Ucapku seraya mendekat dan mengelus rambut hitamnya.


"Memberi salam kepada tuan muda" sesosok lainnya datang menghampiriku.


"Ah, sudah lama ya? Kai, Ryan?" Ucapku sedikit tersenyum.


Ryanhard Aphraciel, seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 7 tahun itu juga adalah salah satu pilar yang ku pilih. Jika dilihat dari umurnya, memang, bisa dibilang dia adalah seorang anak kecil dengan bakat yang sempurna. Bagaimanapun, dia menjadi seorang assassin tingkat F diumurnya yang menginjak 5 tahun.


Bahkan, mungkin jika dibandingkan dengan diriku tanpa ingatan, itu bahkan jauh lebih mengenaskan. Ryan hidup di keluarga Aphraciel, sebuah keluarga pemilik skill khusus, bayangan.


Yah, bisa dibilang kemampuan assassinnya itu diturunkan dari keluarganya yang memang berspesialisasi di bidang Assassin dan pekerjaan bayang-bayang.


Meskipun begitu, dia jauh berbeda saat bertemu denganku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2