The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 75


__ADS_3


Bab 75: Reuni (?)


Chirps. Chirps.


Kicauan riang burung-burung kecil mengiringi perjalananku. Sesekali terdengar riuh rendah anak-anak dan kesibukan para penduduk mewarnai sepanjang jalan ibukota Azasky, Chester.


Tak butuh waktu lama, kereta yang kutumpangi pun berhenti. Sang kusir pun berkata, "Your Majesty, kita telah sampai di istana Blue Sky, Azasky." Ucapnya.


Mendengar ucapannya, aku segera bangkit dan turun dari kereta, "Baiklah, Terima kasih." Ucapku.


Aku mengalihkan pandangku pada istana yang tinggi menjulang dengan latar biru langit yang cukup elegan. Bisa dibilang, istana ini berada di tempat yang cukup tinggi, dan tentu saja berangin.


Azasky, sebuah kerajaan dengan Wind Blessing dari salah satu keberadaan Eternitas dunia ini, Patron Wind dari dewa angin, Bhatara.


Bisa dibilang, Azasky adalah negeri dengan eternitas terkokoh setelah Arcnight. Di masa depan, pamanku, Raja Azasky akan berjuang mati-matian melindunginya, sang eternitas dari dewa angin.


Ada begitu banyak tragedi yang menungguku di masa depan. Mulai dari robeknya pembatas dunia cermin dan Oxmage, invasi besar-besaran dari para iblis dan kehancuran para ras lainnya, hingga kehancuran dunia ini sendiri.


Sebenarnya ini sia-sia saja, maksudku- bahkan jika aku tahu apa yang terjadi di enam kehidupan Chelsea, atau sederhananya, enam kemungkinan masa depan. Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa mencegahnya atau tidak, bendera bendera kehancuran itu.


Tapi yang jelas, mari kita berusaha.


Kehancuran dunia ini, dimulai dari sedikit banyaknya variabel yang terlibat. Semuanya membentuk peristiwa kecil besar yang nantinya mempengaruhi tatanan dunia ini.


Mulai dari peperangan 100 tahun yang lalu, pemusnahan saint matahari dan perenggutan Eternitas Matahari yang agung, kemudian penyebaran miasma dan usaha perenggutan Eternitas perang, dihancurkannya Alpha College, dan banyak hal lainnya.


Tentu saja, bukan tidak mungkin bagiku untuk menggagalkan salah satu dari bencana itu. Tapi, bukan tidak mungkin pula muncul variabel baru saat variabel-variabel lama itu kuhancurkan.


Dengan itu, hanya satu hal yang mutlak, aku harus bersiap.


"Saya Qin, Izinkan saya mengantar anda, Tuan?" Ucap seorang pria tua dengan sebuah kacamata di mata kanannya.


"Ah, tentu." Ucapku acuh.


...□□□...


Setelah beberapa saat, kami tiba di sebuah taman hijau dengan sebuah meja dan beberapa kursi perjamuan. Sepasang pria dan wanita paruh baya menatapku ramah dengan wajah dan senyum familiar yang tak lagi asing bagiku. Itu tak bisa mencegahku untuk segera tersenyum.


"Hormat kepada yang mulia, hamba sudah mengantar beliau kesini" ucap Qin dengan patuh.


Aku kemudian membungkuk memberi hormat.


"Hormat kepada yang mulia Azasky, Yang mulia Raja Albert dan yang mulia Ratu Queensha, sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda" ucapku mengakhiri penghormatan.


Tanpa kusadari, wanita itu bangun dari tempat duduknya dan melangkah dengan cepat ke arahku dan lantas memeluk dengan erat tubuhku.


Aku mengalihkan pandangku pada pria paruh baya yang turut bangkit dan tersenyum hangat. Untuk beberapa saat, aku tertegun. Hingga kemudian, membalas peluknya yang hangat. Yah, sudah sangat lama sejak aku mengingat peluknya itu, "Bibi, aku tidak apa, percayalah" ucapku.


Wanita itu, Queensha lantas melepas peluknya perlahan. Aku hanya bisa tersenyum menatap ekspresi rumit dan khawatir di wajah cantiknya itu.


"Aku senang bisa melihat anda sehat, yang mulia Queensha."


Queensha menghela napasnya memandangiku lekat. Ia lantas tersenyum dan mengelus rambutku, tidak- dia mengacak-acaknya.


"Dasar anak nakal! Kau akhirnya kembali, jika tidak aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kukatakan pada ibumu," gerutunya.


"Auuh .. hentikan, bibi!" Ucapku seraya menjauh dan merapihkan kembali rambutku yang telah berubah tak karuan.


"Hmph! Kau berlaku sopan! Tapi, kau masih berhutang penjelasan padaku, Pangeran ketiga!" Ucapnya seraya berdiri dan membusungkan dadanya garang.


"Uurgh~ maaf ..." eluhku tanpa daya.

__ADS_1


"Baiklah! Sekarang jawab aku!" Serunya dengan background api yang berkobar di belakangnya.


"Kemana saja kau!?"


"Kenapa kau tidak pulang!?"


"Kenapa kau tidak mengabariku!?"


"Kenapa kau membuat kami khawatir, huh!?"


"Apa yang kau lakukan selama ini!?"


"Bagaimana mungkin kau menjadi seorang Monarchian!?"


"Apa kau bersekolah? Apa kau membangkitkan bakat sihirmu?"


"Siapa yang merawatmu!?'


"Siapa yang menyelamatkanmu!?"


"Siapa yang memberimu makan dan pakaian!?"


"di mana dia sekarang!?"


"di mana kau tinggal selama pergi!?"


Rentetan pertanyaan panjang terus terlontar darinya yang tanpa ampun memberiku pertanyaan tapi tak kunjung memberiku waktu untuk menjawabnya satu persatu.


'Ugh ... aku benar-benar lupa seperti apa rasanya punya ibu.' Gumamku lirih dalam hati tentunya.


"Cu-cukup! Apa anda ingin membuatku pergi dari istana ini lagi? Berhentulah memberiku pertanyaan dan biarkan aku menjawabnya!" Ucapku tak kalah gigih.


"Apa!? Kau berniat untuk pergi lagi!?" Ucapnya menggeram, mencegahku untuk mengucap sepatah huruf pun.


Aku menggeleng kuat.


"Baiklah, jawab pertanyaanku tadi." Ucapnya acuh.


"Sigh. Apa menurutmu keponakanmu akan menjawabnya dengan benar jika kau memberinya pertanyaan sebanyak itu sekaligus? Faktanya jika itu kau pun kurasa kau tidak bisa mengingatnya secara urut dan benar." Ucap Paman Albert membelaku.


Senyumku kembali sirna saat wanita itu berkata, "jika begitu, apakah aku perlu mengulangnya?" Tanyanya tajam padaku.


Aku menggeleng spontan, menolak keras keras tawarannya itu, seraya bergumam dalam hati, 'aku tidak mau telingaku berdarah, lagi!.'


Setelahnya, aku pun mulai menarasikan semua ceritaku, semua yang masuk akal tentunya. Mulai dari sejak kepergianku dari Arcnight, hingga mengapa aku menjadi seorang Monarchian.


"Pertama, setelah aku diserang, aku terjatuh ke dalam sungai dan terbawa arus. Seorang pedagang budak mengambilku dan mengobatiku sebelum aku dijual sebagai budak." Ucapku sebagai pernyataan awal.


Aku bisa melihatnya, raut wajah kedua orang di hadapanku ini yang tampak menggelap marah.


"Aku tidak tahu pedagang bodoh mana yang bahkan tidak bisa mengenalimu itu, baj*ngan!" Ucap Paman Albert geram.


Itu benar, karena aku memiliki sesuatu yang 'khas' sebagai putra raja Arcnight. Yakni, rambut biru kehitaman yang hanya bisa ditemukan di Asteria dan Arcnight adalah satu-satunya yang masih memiliki keturunan berambut hitam kebiruan tanpa nama Asteria di belakangnya.


"Percuma saja, aku tidak tahu siapa dia." Ucapku meredam amarah keduanya.


"Setelahnya, seorang bangsawan yang tak ingin kusebutkan namanya membeliku dan menjadikanku 'putranya'. Aku di sana selama beberapa tahun sebelum mereka akhirnya membuangku (karena sudah tak berguna)." Ucapku.


Ekspresi marah mereka pun terus menguat setelah mendengar ceritaku.


"Lalu, mungkin timbul pertanyaan, kenapa aku tidak menghubungi kalian, kan? Atau kenapa aku tidak mengekspos identitasku?"


"Jawabannya sederhana, aku sendiri akan melakukannya jika aku mengingatnya. Tapi masalahnya, aku sendiri tidak mengingat hal apapun selain namaku sendiri."

__ADS_1


"Kemudian, aku bertemu dengan masterku. Dia mengajariku tentang banyak hal dan merawatku dengan benar, memberiku pakaian, makan, dan minum. Di sana, aku pun bertemu dengan banyak rekan, menghabiskan waktuku untuk bersekolah dengan mereka. Dengan imbalan, aku diharuskan untuk menjadi penerusnya dan belajar dengan giat."


Ekspresi marah mereka perlahan menghilang, keduanya saling bertatapan sejenak sebelum paman Albert menanyaiku, "siapa dermawan itu?" Tanyanya penasaran.


Aku menggeleng pelan, "master menolak menyebutkan identitasnya di hadapan orang lain. Yang pasti, dia adalah masterku, dan aku adalah penerusnya, begitulah."


"Setelah beberapa tahun menjadi muridnya, aku membangunkan bakat sihirku, mulai belajar sihir meskipun agak terlambat. Selain sihir, aku juga mempelajari kemampuan bertarung lainnya, mulai dari seni pedang, beladiri tangan kosong, dan banyak keterampilan bertarung lainnya. Selain keterampilan bertarung, beliau juga memberiku banyak pengajaran lainnya. Mulai dari pengetahuan politik, ekonomi, sastra, seni, dan banyak hal lainnya."


"Setelah beberapa tahun pun, aku mulai kembali mengingatnya, identitasku yang sebenarnya dengan bantuan master. Setelah mengingatnya dengan lengkap, master masih tetap menyuruhku untuk tidak menghubungi kalian hingga aku menjadi cukup kuat." Ucapku.


"Kemudian, alasan aku menjadi Monarchian, terkait dengan identitas rahasia masterku. Beliau adalah pendiri Ghost Monarchy, karenanya, aku pun secara tidak langsung menjadi seorang Monarchian."


Mendengar ucapanku, ekspresi keduanya tampak tercengang sesaat, hingga kembali saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum rumit padaku.


"Hmm.. yah, kau benar benar sudah besar, Raka Azalea" ucap keduanya.


Aku hanya bisa mengangguk.


Suasana menjadi cukup hening, tidak- cukup canggung untuk beberapa saat kurasa, "Ah. Baiklah tidak baik jika aku ikut nimbrung di obrolan para pria dewasa!" Ucap Bibi Queensha canggung.


"Ah. Jika saat makan siang tiba jangan lupa datang bersama putraku yang tampan ini makan yaa ... aku akan mengawasi Oliver dan Stelia belajar"


"Pufft" paman Albert terkejut saat mendengarnya, ia hampir menyemburkan keluar teh yang tengah ia hirup


Sementara aku hanya bisa memalingkan wajahku menahan tawa. Sesekali bergetar menahan tawaku.


Bibi Queensha kemudian berjalan menjauh meninggalkan kami berdua.


Sigh. Kudengar helaan napas yang berat berhembus darinya.


"Bagaimana?" Tanyanya membuka percakapan.


"Apanya?"


"Bagaimana perasaanmu setelah kesekian lamanya saat melihat istana ini?" Tanya paman Albert padaku.


"Oh."


"Aku tidak mengingatnya, bagaimanapun, aku masih sangat kecil saat itu, bahkan bisa dibilang masih bayi," ucapku seraya mengira-ngira.


Mendengar jawabanku, pria di hadapanku lantas mengangguk menyetujuinya. Yah, aku tidak salah, saat terakhir kali aku kesini memanglah saat aku masih hitungan bulan saat itu, kurasa. Jadi, itu tak mengherankan jika aku bahkan sudah tak mengingatnya lagi.


"Deja Vu." Lanjutku menafsirkan perasaan yang kurasakan.


"Nostalgia"


"Mungkin hanya itu yang bisa digunakan untuk menggambarkan perasaanku saat ini" ujarku.


Aku melihatnya, untuk beberapa saat ia menatapku lekat sebentar, hingga kemudian menutup matanya tajamnya itu lemah.


"Kau terlihat sangat dewasa, Raka" ucapnya mengeluh.


Aku sedikit terkejut saat patahan kata itu terdengar darinya, itu tak bisa mencegahku untuk tersenyum payah.


Aku menghembuskan napasku, hingga kemudian kembali tersenyum pahit, "Anda bergurau,"


"Terserah padamu, tapi aku juga memiliki putra, dan aku juga pernah seumur denganmu, dan itu tak sama dengan yang kulihat pada dirimu" ucapnya pasrah.


Tak ada yang bisa kulakukan untuk menanggapinya, selain tersenyum tanpa daya.


Yah, aku ragu aku akan dianggap sebagai orang dewasa jika aku tidak bisa mengingatnya, sekeping ingatanku di masa lampau sebagai [Nonius]


"Baiklah, jadi apa rencanamu untuk kedepannya" tanya Albert serius.

__ADS_1


Aku menghela napasku ringan, "Bukan suatu hal yang rumit, tapi itu juga bukan hal yang sepele" balasku singkat.


...□□□...


__ADS_2