
Bab 63: Surat Tuk Masa Lalu
Sebuah suara yang familiar terngiang ngiang di kepalaku, itu adalah suara wanita itu, Hellian. Bersamaan dengan itu, lanskap segera berubah, aku berpindah.
"Hari ini, tanggal kesepuluh bulan keenam saat aku sadar bahwa aku telah kembali ke dua puluh tahun silam. Semuanya masih lekat di ingatanku, kereta yang berderak melewati pepohonan dengan kabut hitam yang menyelimuti, ini ... Arcnight di ingatanku, Arcnight yang menutup dirinya dengan kabut hitam 'miasma'."
Sebuah kereta nampak berjalan cepat di antara rerimbunan pohon dengan kabut hitam di mana mana, persis seperti yang dikatakannya.
Jantungku berdegup cepat, tercengang saat melihat Arcnight di masa itu.
"Ini ... negeriku?" Gumamku lirih.
Suara berikutnya kembali hadir saat aku kembali berpindah..
"Hari ini, enam hari setelah kedatanganku. Arcnight masih berperang, sama seperti sebelumnya, di masa lalu. Menengok pada kehancuran Arcnight sebelumnya, bagaimana jika aku berlatih sihir lebih awal?"
Sebuah bangunan besar berdiri menaungiku, dengan sebuah danau kecil berair jernih. Lantai, dinding, dan tiang kayu menyambutku. Udara dingin dan suram menyelimutinya, istana Arcnight.
Samar samar kudengar riuh rendah besi yang saling beradu, dengan bau anyir yang samar samar turut kubaui saat angin bertiup pelan melewatiku.
Tubuhku bergetar, "mereka, masih hidup, kan?" Tanyaku pada diri sendiri.
Tap. Tap. Tap.
Derap langkah kaki terdengar dengan cepat, seorang wanita dengan rambut biru senada denganku, berjalan cepat melewatiku begitu saja.
"I-ibu ..."
Semuanya kembali berubah, bersama dengan suaranya yang kembali bergema.
"Tiga tahun, hari ini adalah tahun ketiga aku kembali dari masa depan. Saat ini usiaku menginjak 10 tahun, seorang mage tier 3. Meski pun sebenarnya tak apa jika aku turun ke medan perang, tapi yang mulia Arcnight memintaku untuk menjaganya, yang mulia ratu. Dan hari ini, adalah ulang tahun beliau, panjang umurlah, yang mulia"
"Chelsea, Terima kasih" Gumam sebuah suara lembut yang tengah menatap dirinya di depan cermin.
__ADS_1
Wanita itu tampak cantik dengan gaunnya, rambut hitam kebiruan miliknya yang indah, tapi dengan kulit putih pucat miliknya.n
Rasa kagum dan rindu perlahan melonjak dari dalam diriku, tanpa sadar, pipiku memanas, perasaan kacau kembali meluap tatkala ia bangkit dan melewatiku.
"Selamat ulang tahun, yang mulia" bisik seorang gadis cilik berambut perak di belakangnya.
Tubuhku bergerak tanpa sadar, mencoba meraih tubuhnya yang terasa begitu jauh dari tempatku berdiri. Kakiku kaku, seolah mencegahku pergi menggapai sosoknya yang begitu kurindukan, ibuku.
Sosoknya menghilang, berganti dengan dentuman keras yang mengacaukan segalanya. Genderang perang berbunyi, di hadapanku, dua kubu pasukan bergerak maju dengan cepat, saling beradu senjata dan serangan.
"Perang masih berkecamuk. Para pasukan kelelahan, tapi tak apa selama kami bisa bertahan hingga hari itu tiba, hari di mana kami bisa bebas."
Keduanya segera berpadu, bercampur jadi satu dalam medan perang yang panas dan penuh keputusasaan. Sorak sorai pasukan pun turut kudengar.
Dalam hiruk pikuk kekacauan, semangat perang yang begitu kental kurasakan. Di sisi lain, keputusasaan turut mengiringinya, rasa putus asa yang menghantui tiap jiwa yang berdiri di atas bumi berdarah.
"Perang ..." gumamku lirih saat tanpa sadar semuanya kembali berubah.
Hamparan rumah penduduk berjajar. Begitu gelap, hanya dengan sedikit sinar yang nampak berpendar dari sela sela rumah penduduk yang padat.
"Hari kedua puluh, bulan kedua belas, tahun kedelapan perang terjadi. Penyebaran miasma tak kunjung berhenti, para rakyat menderita. Para bangsawan mengikat perut mereka. Udara mulai menjadi dingin, miasma yang menebal menyebabkan gagal panen di seluruh penjuru negeri. Penduduk yang mati kelaparan sama banyaknya dengan pasukan yang mati berperang."
Ucap suara itu bernarasi.
Tanpa kusadari tanganku mengepal erat, mencoba untuk berpikir tenang.
"Tujuh, delapan? Itu masih di masa depan, kan?" Gumamku lirih.
"Hari kedua puluh tiga bulan pertama tahun kesepuluh. Perang masih berlangsung, separuh dari pasukan telah mati, beberapa berubah menjadi undead dan bergabung dengan musuh. Arcnight mengalami paceklik, sudah tidak ada tumbuhan yang bisa dimakan dengan baik. Miasma telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, menyebabkan turunnya suhu, menyebabkan musim dingin di mana mana. Istana mengalami kegoncangan. Yang mulia Ratu jatuh sakit."
Lanskap kembali berubah seutuhnya, aku kembali ke tempat di mana wanita itu berada. Sebuah mansion dengan berlantaikan kayu dengan danau kecil yang kini nampak sedikit terlihat dingin.
Wanita itu terbaring, dengan seorang gadis yang tengah menulis di dekatnya. Aku melangkahkan kakiku cepat, mencoba meraih tubuh wanita yang nampak terlelap itu tanpa mampu mencegah air mata yang menetes dari mataku.
__ADS_1
Tanganku terhenti saat mata teduh yang nampak begitu layu dan bisa runtuh kapan pun itu terbuka.
"Chelsea .." gumamnya lirih.
Gadis yang tadinya menulis itu segera menghentikan tangannya, dan menghampiri wanita itu.
Semuanya kembali pudar, menghilang.
"Hari ini, hari kesebelas bulan kedua, tahun kesepuluh. Perang memuncak. Aku tidak tahu mengapa, tapi kejadian ini mengalami kemajuan, di hidup pertamaku, perang puncak terjadi pada hari kelima belas bulan ini, itu seharusnya."
"Panjang umur Arcnight! Panjang umur Arcnight!"
Sorak sorai para pasukan terdengar keras, diselingi oleh dentuman dentuman keras yang menghancurkan. Aku berdiri mematung, serombongan pasukan dengan armour lengkap melewati tubuhku begitu saja, dari mereka kudengar banyak rintihan dan gemeretak.
Semuanya kelelahan, aku mengetahuinya itu, bahkan hanya dari mata sayu mereka. Sembirat keputusasaan pun mewarnai sebagain wajah mereka yang timbul dari balik armour.
Bau anyir darah merebak kuat, jauh lebih kuat dari yang pernah kubaui sebelumnya.
Teriakan dan erangan sayup sayup kudengar. Ini bukanlah pertama kalinya aku melihatnya, saat seseorang terbunuh atau sesuatu bernama perang.
Tapi, perasaan putus asa menghantuiku dalam sekejap, rasa takut yang menggetarkan tubuhku. Tidak ada yang bisa kulakukan saat air mataku menetes deras, tidak ada satu pun suara yang sanggup kuutarakan saat aku memandangnya, sebuah kehancuran yang menyakitkan.
Hingga, sebuah siluet tegap yang jelas terekam di mataku muncul, bersamaan dengan sorak sorai pengharapan semua manusia di medan perang. Seseorang yang memegang teguh seluruh rakyat di pundaknya, sang Raja, Ayahku.
Perasaan hangat yang begitu samar, namun membawa rasa aman tiba tiba menyelimutiku. Sebuah perasaan mendominasi dan dekat di mana dia membuatku melupakannya, rasa takut dan segala keputusasaan yang hadir.
"Perang telah usai. Arcnight telah hancur, tidak .. meteka bebas bersama jiwa jiwa teguh milik mereka. Ini bukan negeri tempatku lahir, tapi semuanya begitu baik bahkan saat nyawa ada di ujung tenggorokan mereka. Aku mencintainya, sama cintanya dengan negeriku, Helliantuse. Di hamparan tanah luas ini, aku menguburkan tubuh mereka, keluarga induk Arcnight. Sebuah surat kuselipkan lembut dari balik makam yang mulia ratu. Itu adalah keinginannya, surat tuk putra tercintanya. Putra yang ia yakini masih ada, sang pangeran kedua, Raka Azalea Putra Arcnight. Dengan ini, 'selamat ulang tahun, putraku' ucapnya."
Untuk kesekian kalinya air mataku menetes tanpa daya. Tidak ada yang mampu kulakukan, hanya bisa terus menumbuhkannya, kekuatan tuk membebaskan segalanya.
Semuanya terus berubah, setidaknya berulang ulang kali hingga aku bisa mengingat segalanya, rasa sakit.
Dalam rentang waktu yang singkat itu, aku menjalaninya, sebuah perasaan di mana dia mengulang hidupnya berulang kali tanpa hasil.
__ADS_1
Darinya pula aku melihatnya, akhir dari diriku sendiri di enam kali kehidupannya.
Aku terdiam sejenak, untuk sekedar menarik napasku panjang saat waktu mulai berjalan normal. Aku kembali pada saat sebelumnya, seolah aku tak pernah memasukinya, ingatan miliknya atau seperti ingatan itu tidak pernah ada, kurasa.