
Bab 1: Little Servant
"Ugh.." Aku membuka mataku.
"Anda..?" Aku cukup terkejut saat melihat seorang wanita dewasa di hadapanku.
"Hmm? Ah, kau sudah sadar.. syukurlah jika kau baik-baik saja, tuan muda Kaelmiff"
Ah, itu benar.. kelihatannya aku, sekarang adalah Tuan Muda dari Keluarga Kaelmiif. Yah, mungkin kalian akan bertanya-tanya saat ini, mengapa aku memakai kata 'Kelihatannya'. Itu sederhana, meskipun kedua orang tuaku- Count Kaelmiff mengakuiku sebagai anak mereka. Faktanya, aku diperlakukan tidak lebih dari seorang pelayan. Aku, tidak mengingatnya, semua tentang kasih sayang yang katanya pernah mereka berikan padaku sedari kecil. Itu benar, aku tidak memiliki ingatan, baik tentangku atau tentang hidupku. Semua orang di sekitarku pun tidak pernah menyinggung tentang keadaan atau sifatku sebelum ini.
Mereka memperlakukanku, seolah olah aku, tidak pernah ada sedari awal. Dan di hadapanku, seorang wanita ahli medis di keluargaku. Bisa dibilang, dia adalah satu-satunya yang peduli dan mau meresponsku seadanya.
"Jadi, apa keluhanmu, tuan muda?" Ucapnya dingin memandangku.
"Ah, a-anu.. kepalaku sedikit sakit, itu saja"
"Oh? Benarkah? Tapi kau kelihatan pucat lebih dari sebelumnya, aku tidak bisa membantumu, tapi setidaknya aku tidak akan disalahkan jika sewaktu-waktu kau mati setelah penangananku."
"Tidak ada, ha-hanya pusing, dan ugh.. kurasa dadaku sesak." Ucapku seraya menggeleng cepat.
__ADS_1
"Hanya itu?"
"Dan juga! A-aku sedikit sering bermimpi jadi orang lain!" Ucapku gugup.
"Apa!" Dia terkejut dan menatapku secara langsung.
"Ah.. tidak, tidak apa.. mungkin ini efek kau sering membaca atau mendengar cerita, dan kau ingin jadi seperti itu.. itu saja, kau bisa pergi sekarang"
"Y-ya"
'Tidak, aku berharap ini bukan hanya karena aku ingin.. kumohon'
Aku menggigit bibirku dan berjalan pelan menyusuri lorong. Itu benar, aku memimpikannya. Mimpi tentang seseorang yang hidup bebas, dia yang berdiri diatas segalanya. Tapi yah, apa itu hanya mimpi?. Dan juga, siapa Nonius?
"Hoho! Bukankah dia benar-benar payah?" Ucap anak laki-laki lain yang bersandar di dekatnya. Dia adalah Prise Kaelmiff. Saudara laki-lakiku.
Aku hanya terdiam, bagaimanapun, hanya masalah waktu sampai aku kembali diinjak-injak.
"Lihat? Bukankah dia benar-benar pecundang? Maksudku, kakak kurasa tidak masalah jika kita sedikit melatihnya bukan? Tudak masalah jika dia mati sekalipun, kan dia memang lemah" ucap Kareen dengan senyum di wajah cantiknya.
"Tch! Tentu saja!" Ucap Prise.
__ADS_1
Ia lantas mengayunkan kakinya kearahku, dan melesat dengan cepat, menyerangku.
Bug!
Satu pukulan.. dua pukulan.. tiga pukulan.. empat pukulan.. begitu seterusnya.
Aku meringkuk menahan nyeri, mereka berdua telah pergi.
Aku bangkit dari tempatku duduk, dan mulai melangkah perlahan. Tubuhku bergemeretak nyeri. Aku menggigit bibirku geram.
Rasanya sakit, hingga aku merasa bahwa aku tidak lagi mampu melihatku di esok hari.
Setelah beberapa lama berjalan, langkahku terhenti pada sebuah pintu di belakang mansion megah. Ini bukan tempat para pelayan, tapi ini juga bukan tempat para bangsawan, begitulah.
Krieet..
Aku membuka pintu ruang reyot ini perlahan, dan menjatuhkan tubuhku di sebuah ranjang kecil yang usang. Ranjang itu berderit, menandakan sebetapa reyot dan lapuknya ranjang ini.
Sigh.. aku menghela nafasku berat. Lagi-lagi pukulan. Aku memejamkan mataku letih. Perlahan namun pasti, aku terlelap dalam mimpi. Mimpi asing yang terasa akrab bagiku.
Aku sendiri tak mengetahuinya, semua mimpi ini seperti nyata bagiku. Sebuah mimpi indah yang tak berani untuk ku bandingkan dengan hidupku saat ini. Meskipun sebentar, entah kenapa terasa puas bagiku untuk mendapat mimpi ini.
__ADS_1
Yah, mimpi ini terlalu nyata, hingga aku merasa bahwa mimpi ini adalah aku- ingatanku.