
Bab 4.5: Mimpi dan Emosi
Aku membuka mataku terkejut. Sementara tubuhku masih terus jatuh ke dalam dan lebih dalam lagi.
Namun, sebuah tangan menyentuh wajahku lembut.
Di hadapanku, seorang wanita berambut hitam tersenyum manis. Matanya semerah darah, memandangku dengan amarah yang bergejolak.
Ia begitu cantik, tapi sesaat kemudian sebuah tatapan menyeramkan datang darinya,, mencengkeram erat wajahkh dan membisikkan sebuah kata.
"Nonius, kau tahu? Kau sama sekali tak pantas untuk Michaela"
Aku terkejut. Mendadak sebuah ingatan mengenai bayangan itu samar samar diputar di kepalaku.
Ugh.
Dan tanpa sadar sebuah nama terlintas di kepalaku.
"Ce Cecilia?"
"Tidak! Aku bukan Cecilia" Bayangan wanita itu berganti menjadi sebuah bayang bayang seorang pria dengan rambut pirangnya.
"Siapapun aku, kau tak pantas untuk mengetahuinya, dasar bocah jalanan!"
Lagi-lagi sebuah ingatan merasuk dalam pikiranku paksa.
"Ka kau? Rome?"
"Ah, kakak, bagaimana mungkin diriku ini dipanggil Rome?"
Bayangan itu kembali berganti, kini dihadapanku nampak seorang gadis kecil. Dari kedua mata cantiknya mengalir air mata tanpa henti. Tapi wajahnya justru menunjukkan sebaliknya, ia tersenyum kejam.
"Nonius, apakah kau lupa pada adik yang kau bunuh huh?" Ucapnya didekat telingaku sembari masih terus mencengkeram wajahku.
Sebuah ingatan tragis kembali berputar dalam kepalaku. Sebuah ingatan tentang sebuah pengorbanan yang disalah artikan.
"Kinai, a aku" aku tersekat.
"Cukup! Kau benar benar anak yang tidak berguna" sebilah belati tertancap ke perutku, bayangan itu telah berganti menjadi sosok pria paruh baya dengan mata merah.
Darah merah kembali menyembur deras.
U ugh..
Aku kembali memejam mataku menahan rasa sakit yang menghujamku untuk kesekian kalinya. Kali ini ingatan kembali berputar dengan sangat cepat.
__ADS_1
"A ayah.. maafkan a aku" Ucapku sembari menahan rasa sakit.
"Oh? Apa yang kau sesali? Sayang" Ucap seorang wanita cantik dengan rambut hitam pekatnya.
Ingatan kembali berputar. "Ka kau?"
"Ah, apakah kau melupakanku? Kau benar-benar tak berguna ya,, kau bahkan tidak bisa mengingatku sama sekali,, kau memang pantas Mati!" Ucapnya sembari memeluk tubuhku dan membisikkannya.
"Michaela! Aku.."
"Kau benar benar tak berguna! Kau tahu? Melahirkanmu sebagai anakku adalah penyesalan terbesar dalam hidupku, Nonius! Kau benar benar tak layak untuk hidup bahkan sejak pertama kali kau kulahirkan" Ucap bayangan yang kembali berganti menjadi sesosok wanita dengan rambut navy yang sama dengan rambutku.
"I ibu.." Ucapku lirih. Rasa sakit yang terus menghujam tubuhku mencegahku untuk tertidur. Sementara bayangan-bayangan akan masa lalu yang bahkan tak bisa ku ingat membuatku semakin terpuruk, jatuh dan jatuh semakin dalam lagi. Mereka, terus menghantuiku tanpa henti dan tanpa jeda.
Sebuah perasaan menyeruak dari dalam hatiku. Perasaan marah yang benar benar membludak hebat.
Hatiku, kacau seketika.
Selama beberapa waktu, aku.. terlarut kedalam penyesalan.
Sampai sebuah suara lembut terngiang ngiang di kepalaku.
Ingatan-ingatan kecil kembali berputar dalam pikiranku, begitu jauh dan dalam.
Tentang bagaimana masa kecilku.
Juga tentang suara tegas dan hangat dari ayah.
Tentang suara kecil dan imut saudari kecil yang kurindukan.
Aku kembali menggigit bibirku kuat. Menata kembali tekad yang ku kumpulkan selama ini.
"Aku tahu kau disini!" Ucapku pada sebuah bayangan yang familiar.
Bayangan itu semerah darah yang menyembur dari diriku sendiri. Ia diselimuti kabut hitam bercampur darah disekelilingnya.
Tangan itu mencekik leherku erat.
"Ah, kau benar benar lemah, Raka" ucap bayangan itu menunjukkan jati dirinya.
Ia benar-benar memiliki penampilan dan suara yang sama denganku.
Aku hanya terdiam menahan rasa sakit dari tubuhku yang terus terlelap meninggalkan pikirku yang masih kacau.
Ugh.
"Kau membiarkan semua yang kau miliki direbut dari dirimu begitu saja. Kau benar benar pecundang!"
__ADS_1
"Kau bahkan tak pantas untuk menyebutkan satu persatu dari mereka yang direbut darimu"
"Apa kau pikir mereka adalah benda mati yang bsa kau dapatkan dengan mudah dan dapat kau berikan dengan enteng?"
"Kau tahu? Kau adalah manusia terendah yang ku kenal." Bisik bayangan itu penuh dendam dan amarah.
Sebuah nama yang tak asing muncul di kepalaku. Sebuah nama dari seorang pria malang yang menjalani hidupnya untuk kematian. Nonius adalah nama pria di hadapanku- tidak, itu adalah namaku di masa lalu yang penuh penyesalan.
"Ah, aku juga, Nonius.. "
Ucapku seraya mencengkeram lehernya.
"Kau adalah pecundang yang bahkan tak berani menunjukkan wajahmu dihadapan musuh musuhmu"
"Kau yang bahkan berlari dengan takutnya saat menghadapi masalah"
"Juga tentang kau yang menyalahkan dirimu atas semua yang kita lakukan"
"Kita adalah penyesalan." Bisikku pada Nonius.
"Kau adalah aku."
"Aku adalah kau"
"Tak satupun dari kita adalah pemenang. Dan tak satupun dari kita adalah pecundang."
"Marahmu, sedihmu, bahagiamu, adalah marahku, sedihku, serta bahagiaku.. Nonius.."
Ucapku penuh penekanan dan amarah.
Sementara Nonius terkejut dengan ucapan yang ia dengar.
"Hanya kitalah yang tahu tentang bagaimana perasaan kita, hanya kita yang tahu bagaimana penderitaan kita, hanya kita yang tahu bagaimana kita berjuang, hanya kita yang tahu bagaimana kita bahagia dan bersedih.. hanya kita yang tahu siapa kita sebenarnya.. pendam semuanya dan berikan yang terbaik untuk apa yang mereka ambil dari kita"
"Kita bukan pria yang baik! Tak ada satupun dari mereka yang bisa merebut apa yang kita inginkan, dan tak ada satupun hal yang tak bisa kita rebut, Nonius.."
Bayangan itu terdiam. Perlahan namun pasti, separuh bagian tubuhku menyatu dengan tubuh Nonius, menyisakan dua tubuh dengan warna dan kilap yang berbeda.
'Biru dan merah'
"Aku mengerti, kita adalah satu, dalam hidup apapun dan bagaimanapun, kau adalah aku.."
"Kuserahkan semuanya padamu, tidak! Padaku dan pada kita, Baik itu Nonius ataupun Raka, semuanya adalah kita" ucapnya sebelum melebur.
Nonius tersenyum dan membaur ke dalam tubuhku.
Sebuah ingatan melelapkanku pada mimpi yang panjang,, begitu panjangnya..
__ADS_1