
Bab 24: Sangkar & Burung Kecil
Saat itu, musim gugur yang sejuk. Seorang anak yang terasingkan terduduk murung di bawah pohon besar dengan dedaunan yang berguguran.
"Hmm? Siapa dia?" Ucapku menunjuk seorang anak yang nampak bersembunyi dibalik pepohonan.
"Hm? Ah! Ternyata dia disana, Kai!" Ucap seorang pria paruh baya dengan rambut hitam.
Kepala keluarga Aphraciel, Leonard Aphraciel.
Seorang pria berambut putih lantas muncul. Memberi hormat dan berjalan dengan cepat menghampiri anak yang bersembunyi.
"Siapa dia?"
"Ah! Tuan muda, dia adalah Arkaiz Aphraciel, salah satu tangan kanan kepercayaan saya." Ucap Leon memperkenalkan.
"Begitu, lalu? Bagaimana dengan anak itu?" Tanyaku seraya menunjuk kembali kearah anak yang tampak sedang ketakutan itu.
"Ah! Itu.. haish.. dia, anak bungsu saya, Ryanhard Aphraciel."
"Begitu ya, tapi kenapa saya merasa anda tidak memasukkannya dalam daftar kandidat huh?"
"Ah, itu.. anak bungsu saya itu tidak kompeten. Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain, dia penakut dan cengeng.. jadi saya rasa dia sedikit tidak cocok untuk menjadi bayangan anda, tuan muda"
"Jadi begitu"
__ADS_1
"Itu benar, tuan muda.. lagipula akan lebih aman jika anda bersama orang yang lebih kuat bukan?"
"Benar sih, tapi.. bagaimana ya? Kelihatannya putra bungsu anda terlihat lebih cocok denganku deh" ucapku.
"U-ugh.. tuan muda, tapi anak itu cengeng dan penakut, takutnya dia hanya akan jadi beban saja bagi anda"
"Yah, benar sih.. kalau dipikir-pikir memang ada kejadian yang seperti itu.."
Leon hanya mengangguk dan tersenyum membenarkan.
"Tapi.. kurasa tidak apa jika aku mengobrol dengannya kan?"
"E-eh.. itu.."
"Kuanggap kau setuju" ucapku seraya menghampiri anak itu.
"Tidak apa, aku sudah mendapat izin" ucapku sebelum ia pergi.
'Hmm, kelihatannya enak ya kalau punya sihir bayangan yang bisa pindah-pindah semudah itu' gumamku dalam hati.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Ucapku yang ternyata sedikit mengejutkannya.
"Aku Raka Azalea, siapa namamu" ucapku menyapanya.
"Ryanhard Aph--"
__ADS_1
"Ryanhard" ucapnya kembali.
'Dia menolak untuk berbicara nama keluarganya?'
"Oh? Kalau begitu bagaimana jika kupanggil Ryan saja?" Hcapku seraya duduk disampingnya. Sementara anak itu nampam sedikit risih dan bergeser dari tempat duduknya.
"Berapa umurmu? Karena kelihatannya kau tidak lebih tua dariku, bagaimana jika kita berteman?" Ucapku sok akrab.
'Yah, agak canggung juga sih, aku bicara banyak sementara dia hanya sedikit mengangguk dan memalingkan wajahnya. Bukankah ini agak, menyebalkan? Rasanya baru ini aku diabaikan setelah dua kali kehidupanku..'
[Mimin: yekan biasanya elu yang gitu :v]
"Tujuh, tujuh tahun.. umurku tujuh tahun.. soal berteman.."
'Yosh! Akhirnya dia mau berbicara!'
"Hebat! Kurasa kau seumuran dengan adikku deh! Dan juga, bukankah keluargamu itu hebat? Mereka punya beladiri yang menakjubkan.. kau benar-benar beruntung!" Ucapku.
"Hebat? Berun-tung?" Ucapnya dengan sedikit menggertakkan giginya.
"Aah! itu benar, jika kekuatan itu kaugunakan untuk sesuatu yang menakjubkan! kurasa jika aku jadi kau aku akan lebih leluasa melakukan pekerjaanku, dan lagi aku tak perlu menggunakan sihir percepatan untuk mempercepat pergerakanku." Keluhku.
"Oh, begitu.."
"Ya! Dan juga, kau memiliki semuanya, keluarga yang mencintaimu" ucapku seraya sedikit bernostalgia.
__ADS_1
"Keluarga yang mencintai huh? Haha! Kau yang orang luar mana tahu" ucapnya seraya memalingkan wajahnya.