The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 13.5


__ADS_3


Bab 13: Alasan Atas Semua


"Eh? be-benarkah?" tanyaku menimpali penjelasannya.


"Tentu saja tidak!"


Duakk!


[Definisi di terbangkan lalu dihempaskan :v]


"U-ugh.. master, jadinya bagaimana?"


"Hmm? Yah, ini juga bisa berasal dari sesuatu yang lain,"


"Sesuatu yang lain?"


"Itu benar, spekulasiku yang pertama hanya didasarkan pada kejadian yang menimpa beberapa orang yang kukenal,"


"Lalu? Apakah ada alasan lain?"


"Hmm, yah, dalam sihir kuno, bukan tidak mungkin untuk mengutuk dan merebut takdir seseorang,"


"E-eh? Apa maksudmu?"


[Semacam santet mungkin gess :v]


"Itu benar, tapi itu adalah sihir terlarang yang hanya sebagian orang tahu dan dapat menggunakannya. Lagipula, penggunaan sihir itu memiliki efek buruk karena merusak tatanan takdir dari tuhan"


"Begitu yah, lalu, apakah ada hal lainnya?"


"Dan juga, aku sepertinya belum menceritakan asal-usulmu bukan?"


"Eh? Anda tahu? Kenapa anda tidak memberitahuku!?" Protesnya.

__ADS_1


"Hmm, yah, ini berkaitan juga dengan melemahnya tubuhmu, apa kau--" ia melirikkan pandangnya padaku.


Aku duduk dnegan tenang menunggu perkataan selanjutnya dari master.


Bagaimanapun, aku sudah hidup disini selama 2 tahun tanpa ingatan yang benar tentang keadaan keluargaku yang sebenarnya kan?


"Kelihatannya kau sudah siap mendengarnya." Ucap master.


"Mm!" Aku mengangguk penuh semangat.


"Yah, kalau begitu dengarkanlah."


...□ □ □...


[Normal POV]


Pria itu bercerita panjang lebar mengenai keadaan sebenarnya dari keluarga dan negri asal mula muridnya itu.


Sementara anak itu terpaku, dengan wajahnya yang pucat dan mata biru dengan cahaya yang mengerucut marah.


"Keluargamu adalah keluarga kerajaan yang memegang kekuasaan mutlak atas dewa perang yang melindungi eternals energy. Dan sekarang keluargamu tengah mengalami penyerangan dan perebutan kekuasaan dengan iblis. Mereka menyebarkan miasma yang mengendalikan separuh dari penduduk di negrimu. Dengan kata lain, tinggal menunggu waktu sampai seluruh anggota keluargamu binasa" ucap pria itu dingin.


Raka bergemeretak. Saat ini, ia sama sekali tidak menyangka jika itu yang terjadi.


"Ma-master!"


"Tidak bisa! Aku tidak bisa membantumu! Dalam hal ini, benua tingkat atas tidak bisa ikut campur segala masalah yang terjadi di benua menengah begitu saja!" Ucapnya.


Mata birunya berkilap dingin. Ia menunduk.


'Bodoh! Kenapa aku begitu bodoh?'


'Tidak, apa tuhan mempermainkanku?'


'Keluargaku mati di hidupku sebelumnya. Dan saat ini? Bahkan nyawa mereka akan direnggut bahkan sebelum aku melihat rupa mereka!?'

__ADS_1


'Apa aku rela membiarkannya begitu saja?'


'Apa aku harus pulang dan menyelamatkan mereka?'


'Tidak! Tidak bisa! Aku terlalu lemah saat ini!'


Haih..


Anak itu menarik napasnya.


"Master"


"Hmm?"


"Jika memang kau tidak bisa mencampuri urusan mereka lalu mengapa anda melatih saya?"


"Apa dengan melatihmu bisa dibilang membantu salah satu pihak? Lagi pula, apa gunanya mengajarimu sihir jika kau bahkan tidak bisa menggunakan sihir? Pada dasarnya, kau hanyalah pangeran yang tidak berguna, Raka Azalea Putra Arcnight."


"Aku mengerti. Jika begitu, mengapa kau menyelamatkanku?"


"Oh? Yah, memangnya kenapa jika sekali-kali aku gabut? Toh lagipula, kau hanyalah sam--"


Dash!


Tangan kecil itu menghantam keras kayu tempat Yama bersandar.


Raka menarik napasnya panjang.


"Aku memang pengeran tak berguna, lalu apa? Hanya karena aku tak berguna bukan berarti keluargaku tak layak untuk hidup!" Ucap Raka mundur dengan cepat.


"Oh? Akhirnya kau mau bertarung dengan serius huh? Saat sebelumnya aku merasa jika kau belum mengerahkan kemampuanmu, baik saat melawan kedua orang yang berniat membunuhmu ataupun saat latih tanding dengan master Edgar. Ternyata benar?"


Raka tak menghiraukan ucapan masternya. Ia menolakkan kakinya dengan cepat kakinya tertolak. Melesat layaknya anak panah yang ditembakkan. Menembus sela-sela pepohonan besar.


Mata birunya bersinar semakin dan semakin jernih, dan dalamnya semakin tak terkira.

__ADS_1


Saat ini, emosinya meluap dengan hebat, tapi anehnya pikirannya begitu tenang.


__ADS_2