The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 7


__ADS_3


Bab 7: Leluhur


Krieet,, sebuah suara membuyarkanku dari lamunan. Secara refleks aku mengarahkan pandangku ke arah suara. Sebuah pintu terbuka, nampak seorang pria dewasa dengan rambut hitam panjang terurai..


Entah itu insting atau sekedar perasaan saja, tubuhku refleks bergerak sedikit menghindar saat pria itu berjalan mendekat.


Ia menyadari pergerakanku, sudut mulutnya terangkat.


"S-siapa kau!?"


Ucapku terbata-bata. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Entah itu hanya perasaanku, atau memang itu yang terjadi. Senyumnya itu, sedikit membuatku merinding.


"Hmm? Apa kau perlu tahu?" Ucapnya dengan bangga. Yah, jika hanya seperti ini aku juga bisa tahu jawaban apa yang dia inginkan dariku. Orang sepertinya hanya mau dilihat dengan baik, itu saja. Sebuah pikiran yang simpel.


"Jelas aku bertanya bukan?" Jawabku mematahkan kepercayaan dirinya.


"U-ugh.. entah kenapa aku merasa bahwa darahku menurun drastis.." ucap pria itu seraya menunjukkan wajah sedihnya dan menekan dadanya.


"Berhenti bercanda! anda tidak benar-benar akan kehilangan darah saat menjawabku kok" Ucapku datar.


"Ugh.. kau benar-benar sulit diajak santai huh?" Tanyanya seraya mengangkat sudut mulutnya.


"Maaf, yang kuterima cuma jawaban. Pertanyaan tidak diterima" ucapku.

__ADS_1


"Haih.. baiklah baiklah.. aku mengerti, kau benar-benar sulit diatur ya"


"Yah, kau tadi bertanya tentang siapa aku kan?" Tanyanya.


Aku mengangguk membenarkan ucapannya.


"Aku ini yah.. aku ini adalah seorang pria tampan yang baik hati dan tidak sombong,, apakah itu menjawab pertanyaanmu, anak muda?" Ucapnya, kerlap-kerlip cahaya berpendar di sekitar wajahnya. Dalam sesaat, aku merasa tercerahkan oleh ribuan bintang jatuh- silau.


"Maaf, tapi itu tidak menjawab pertanyaanku" ucapku datar.


"Eh? Tentu saja tidak, aku--" ucapnya tersela olehku.


"Ah, baiklah. Aku mengerti, kau adalah pria yang katanya tampan dan baik hati serta tidak sombong. Kau tidak salah, tentu saja kau benar. Aku yang salah katena bertanya padamu. Maafkan aku! Jadi tidak usah jawab pertanyaan tak berguna dariku tadi, hanya yang tak berotak yang tahu jawabannya. Lanjutkan perkataanmu!" Ucapku datar tanpa jeda.


Wajahnya memucat tatkala mendengar ucapanku. Bagaimanapun, bukan itu yang ia harapkan dariku. Kali ini, ia terlihat benar-benar shock.


Entah itu kebetulan atau disengaja. Jika memang disengaja, maka dapat kutarik kesimpulan jika dia hanya sekedar ingin memanfaatkanku, meskipun bisa saja itu didorong oleh hati nuraninya (jika dia punya :v).


Dan kemudian, untuk yang lebih kecil kemungkinanya adalah ini terjadi secara kebetulan. Dan, yang pasti peluang dia menyelamatkanku atas dasar hati nurani akan semakin kecil.


Bisa dilihat saat ini, meskipun aku sudah tahu tapi setidaknya aku akan sedikit berbasa-basi dengannya. Yah, anggap saja aku tengah menghiburnya sedikit dan mengembalikan emosinya.


"A-anu, apakah tuan yang menyelamatkanku dan membawaku kemari?" tanyaku dengan polos. Yah saat ini aku berpura-pura polos dan takut, biar bagaimanapun bukankah justru aneh jika seorang anak kecil sepertiku dapat menghasilkan deduksi seperti itu bukan!? Toh, itu akan sangat berbahaya jika sampai dia tahu keadaanku sebagai reinkarnator dengan ingatan penuh.


"Hmm? sedang berakting huh?" ejeknya memandangku.

__ADS_1


"Gah!" aku berdecik sebal menyadari ejekannya.


"Yah, aku hanya pria sederhana yang kebetulan berburu dan--"


"Lalu? anda ingin mengatakan jika anda tiba tiba melihat seorang anak tak dikenal yang tenggelam di sebuah sungai penuh beast? begitukah? omong kosong!" Ucapku mematahkan pernyataannya.


"oh? kau menyadarinya? Hoho.. tidak kusangka kau bisa mengerti hal seperti itu!" jawabnya bangga. Kerlap kerlip bintang bersinar mengiringi senyumnya.


"Lalu? apa yang sebenarnya anda inginkan dari saya? Tuan?" Yah, aku tidak mengenalnya. agak tidak terlalu sopan memang, tapi 'dia' sudah menyelamatkanku, biar bagaimanapun setidaknya aku harus bisa bertahan hidup. Saat ini itulah tekadku.


"Ah? sudahlah.. aku tahu kau lapar, tidak ada bedanya antara aku dengan orang yang menyiksamu jika aku bahkan membiarkanmu kelaparan bukan?" ucapnya sembari menyodorkan sepiring makanan padaku.


"Lagi-lagi anda memberi jawaban yang tak menjawab sama sekali pertanyaanku"


"Apa maksud anda? Apa anda tahu siapa saya sebenarnya? Lalu? Apa tujuan anda melakukannya." Tanyaku seraya mengernyitkan dahiku waspada.


Dia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan konyolku.


"Haish.. kau yang mengatakannya, jadi, apa yang kau ingin aku lakukan padamu?"


Aku hanya diam seraya menatap datar dia yang tengah mencoba meledekku. Yah, itu akan terjadi jika mentalku adalah mental anak usia 7 tahun. Tapi, kenyataannya, mentalku saat ini kan sudah lebih dari 30 tahun juga, seharusnya?.


"Adududuh, kelihatannya aku mendapat murid yang berbakat tapi sulit dibodohi ya.. lihat betapa beruntungnya aku!" Ucapnya.


Aku terdiam sejenak.

__ADS_1


'Pria ini, dia sulit ditebak. Meskipun secara garis besar aku dapat memprediksi responnya, tapi aku sama sekali tidak bisa melihat maksud darinya. Baik dengan deduksi sederhanaku, ataupun dengan natural talent.. butuh waktu lama untuk mendapatkan keterangan konkrit tentangnya.'


"Lima leluhur, siapakah anda" Celetukku.


__ADS_2