The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 82


__ADS_3


Bab 82: Kemustahilan


Pelelangan besar, Nightingale.


Sorotan lampu menghiasi langit malam kota Qrystial. Itu sedikit mengingatkanku pada pemandangan langit malam di kota dulu, sedikit mirip tapi berbeda. Aku tertegun cukup lama di hadapan kaca besar yang menampilkan pemandangan Qrystial itu. Hingga sebuah suara parau menyadarkan ku.


"Tuan muda, seperti yang anda titahkan, semua persiapan telah selesai" Ucap Paman Ed padaku.


Aku sedikit melirikkan mataku, "Oh? Bagaimana dengan para tamu?" Tanyaku.


"Ya. Mereka telah datang, dan beberapa mereka mulai menantikan dibukanya acara. Tapi, tiga tamu yang anda ingin ..."


Mendengar ucapan paman Ed, aku berbalik menghadap sesosok pria besar dengan rambut pirangnya, tengah duduk di atas sofa dengan ditemani sebotol wine, "Aku mengerti, paman, bagaimana menurutmu?" Tanyaku padanya.


Sebuah senyum masam tampak di wajahnya yang tegas, "Hmm? Kau membuat rencana ini sendiri dan baru sekarang kau meminta pendapatku huh!?" Keluhnya menyindir.


Untuk sekejap, aku merasa sedikit bersalah dengannya, dengan cepat aku mengalihkan pandangku, menghindari sepasang mata yang menatapku kesal, "Ah, paman aku benar benar minta maaf, maksudku ... yah, kau tahu? Kau cukup sibuk akhir-akhir ini" ucapku berdalih.


Ia mendecik, "Tsk. Menurutmu? Karena siapa aku menjadi sibuk." Ucapnya sembari kembali meneguk segelas.


"Sigh. Baiklah, itu alasannya aku memintamu datang, untuk berjaga-jaga jika mereka tidak hadir." Ucapku mengalah.


"Percayakah? Jika sebenarnya kau terlampau peka untuk tahu bagaimana sikap mereka. Jadi, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?"


"Mau bagaimana lagi, inilah sifatku." Ucapku tersenyum pahit.


Ruangan menjadi cukup hening, aku masih terfokus melihat ke arah kerumunan di balik jendela tinggi itu. Beberapa saat setelahnya, aku mulai kembali membuka mulutku.


"Rasa takut."


"Apa itu cukup untuk dinyatakan sebagai alasannya?" Gumamku menarik perhatiannya.


Samar kulihat wajah tegas itu sedikit menegang, untuk kemudian kembali tenang dan mendekatkan kedua alisnya, serius.


Aku kembali menatap jauh dari balik jendela besar itu, seolah-olah, tengah berbicara sendiri, aku mulai membicarakan segalanya tentang alasanku.


"Hei. Apa kau bercanda? Itu lucu untuk membiarkan seorang anak yang belum dewasa untuk berdiri atas nama keluarganya, kan?" Ucapku sedikit tertawa kecil.


"Semua orang juga tahu itu mustahil. Mustahil jika keluargaku bisa bertahan. Mustahil aku bisa menyelamatkan mereka. Dan lebih jauh, atas semua kemustahilan itu menjadikan keputusan untuk menyelamatkan keluargaku menjadi nol, nol persen." Ucapku pahit.


"Sejak awal, mereka tak ingin diselamatkan. Mana ada orang yang mau mengurung dirinya di dalam sangkar penuh penyakit? Bahkan hidup di tanah kematian pun tidak akan sesulit itu." Ucapku.


Ruangan itu menjadi sangat hening bagi kami bertiga. Berbeda dari itu, emosiku menjadi cukup kacau untuk sesaat.


"Lalu apa? Yang benar saja jika aku berdiam diri." Ucapku seraya berbalik menatap jauh ke tempat yang sedikit kurindukan.


"Aku membencinya, bukankah itu konyol untuk terlahir di keluarga yang seegois ini!?" Ucapku tertawa.


"Sialan! Aku benar-benar marah saat aku tahu aku tak bisa menyelesaikannya dengan cepat!"


“Itu menyebalkan untuk bermain permainan yang bahkan tidak memiliki jalan keluar. Tapi itu lebih baik dibandingkan permainan yang bahkan tak perlu berkeringat untuk menyelesaikannya. Dan, mungkin kau akan sedikit marah, tapi dengan ketiga pion itu, aku akan menang. Tak peduli mau seperti apa king of spade itu, jika dia bahkan tidak bisa kabur dari pandanganku, itu semua sia-sia.” Ucapku.


Tanpa kusadari, respon tak terduga muncul dari perkataan ku.


"Dasar bocah sialan! Kau itu iblis atau manusia!?" Ucapnya.


"Menurut anda?"


"Yah, apapun itu ... Jadi, pada intinya .."


"Aku hanya takut jika keinginan untuk membuka barrier pembatas ditentang" ucapku menarik kursi kerja di sampingku.


"Siapa ... Siapa yang mengatakan hal itu padamu? Memangnya siapa dia berani mengusik satu dari tujuh panji besar benua!?" Ucapnya tajam dengan amarah yang melonjak.


Aku tak bisa melihat ekspresi ku saat ini, tapi kurasa aku sangat mirip seperti anak kecil dengan karakter pahlawan favoritnya. Dengan mata yang terbuka lebar, dan ekspresi lugu, "Ha ha, anda benar benar hebat" Ucapku dengan tawa kecil sesaat kemudian.


Ia segera menenangkan dirinya, "Sigh. Apa menurutmu hubungan antara Azasky dan Arcnight hanya sebatas itu huh? Bagaimanapun, Azasky dan Arcnight sudah menjadi bagian dari dua panji besar sejak pertama didirikan, dan itu sama sekali bukan hubungan kecil, Raka ... jika itu hanyalah hubungan kecil, maka sudah dipastikan, tidak akan terjadi hubungan pernikahan antar kerajaan." Pungkasnya.


"Ah. Itu benar" ucapku menyandarkan punggungku.


"Tapi tetap saja, keberadaan kerajaanku dan miasma ini akan mempengaruhi keadaan benua secara keseluruhan, meskipun kita sudah menemukan akar masalah dan solusinya pun, menurut asumsiku, akan ada pertentangan soal itu nantinya." Ucapku.


"Hingga ditahap berikutnya, mereka akan mempermasalahkan obat yang kita buat untuk menangani miasma ini, lalu berusaha sebaik mungkin untuk menjatuhkan kita .. yah, paman, kau lebih mengerti ini dibandingkan denganku bukan? Bahkan jika itu adalah kekaisaran sendiri, tetap saja, jika para bangsawan lainnya menolak maka hasilnya tetap tidak" ucapku tersenyum pahit.


"Hmm, begitulah kekuasaan,"

__ADS_1


Sepasang mata itu kembali menatapku, "jadi apa yang akan kau lakukan?"


"Ah. Jika yang menolak hanya khawatir akan bahaya miasmanya, maka jawabannya sudah jelas kan? Itu mudah"


"Tapi akan lain ceritanya jika dia punya maksud untuk menghancurkan keluargaku, maksudku ... bukan hal yang tak mungkin bagi tujuh panji besar sekali pun untuk memiliki musuh bukan?"


Pria berambut pirang itu mengangguk menyambut hipotesisku.


"Jadi? Apa jawabanmu, pemimpin muda?" Tanyanya.


Ucapannya sedikit menggelitikku, "Ha ha, jika dia memakai kekuasaan untuk menindas bukankah aku juga bisa? Maksudku, yah, semuanya tergantung pada pasukan yang dibawa" ucapku melirik halus.


"Arcnight tidak akan jadi negeri yang damai sepertinya, jika kau yang jadi pemimpin mereka" ucapnya menghela napas.


"Karena itulah, bukan aku yang jadi nomor satu." Ucapku.


"Baiklah, dalam hal ini, kurasa ada baiknya jika kau tak membuang waktumu hanya untuk menunggu tiga orang tua bangka itu"


"Itu yang kupikirkan"


...□□□...


Pelelangan pun dimulai.


Para pengunjung yang didominasi oleh para bangsawan dan pebisnis memenuhi mansion. Sebagian dari mereka datang hanya untuk melihat lihat, sebagian lainnya memasang harga untuk beberapa barang mewah dan langka yang dilelang.


Paman Albert yang menonton dari balkon mansion nampak tertegun saat melihat kereta bangsawan dengan berbagai logo kerajaan yang berbeda datang. "Oh? Kelihatannya mereka tetap datang meskipun terlambat ya, benar-benar tak tahu malu" ucapnya kekanak Kanakan.


Sudut mulutku berkedut, "Ah, aku tidak tahu ada dendam apa antara kalian, tapi kurasa itu keputusanku agak sedikit keliru"


"Hmph! Aku sama sekali tidak memiliki dendam pada mereka, Raka ... tapi yah, sifat mereka itu ..."


"ha ha, kurasa aku tahu perasaanmu, paman"


"Tuan muda," panggil Louise mengejutkanku.


Aku pun melangkahkan kakiku turun dari balkon tempatku berdiri.


"Ah, ayo kita mulai pertunjukkannya, paman, kau bebas minum malam ini" ucapku berlalu.


Tap. Tap. Tap.


Aku melangkahkah kakiku di lorong panjang menuju ke tribun lelang.


"Pertunjukan pertama, dimulai"


Ucapku dengan senyum.


□□□


"Hamba Edward memberi hormat kepada yang mulia Raja Theodore dari Sylvania"


"Oh? Apakah tuanmu yang mengirimmu padaku?"


"Seperti yang beliau titahkan"


"Baiklah. Jangan buang waktuku"


Tak berselang lama, tirai merah yang tertutup nampak terbuka dan menampilkan juru lelang di tribun lelang.


Alice berdiri dengan tegap, di sampingnya nampak meja dorong dengan kotak hitam yang ditutupi kain didorong oleh beberapa pelayan.


Alice nampak begitu anggun dengan setelan formal jas hitam, dengan rok dan legging senada,


"Baiklah! Seperti yang kita tunggu, kali ini saatnya lelang yang ditunggu,"


...□□□...


Lengkungan bibir kecilnya kembali mengembang, "pertunjukkan kedua, dimulai"


Sejurus kemudian tribun lelang menjadi cukup ramai, para bangsawan yang tertarik nampak berebut saling menaikkan harga, harga pun melonjak dengan cepat dan tajam.


"Saya Louisse Vol Quitte, memberi hormat kepada yang mulia Richard"


Seorang pria dengan rambut birunya nampak mengerjap.


"Oh? Apakah kau yang akan mendampingiku?"

__ADS_1


"Seperti yang dititahkan oleh tuanku"


"Yah. Kuterima pelayanan seperti ini"


"Oh? Kelihatannya agak berbeda dari pandanganku huh!?" Ucapnya memperhatikan jalannya lelang.


"Menarik" Ucapnya.


Raka masih berdiri menikmati jalannya lelang. Berbeda dari sebelumnya, ekspresinya nampak mengembang dengan lebih lebih lagi. Saat ini, suasana hatinya nampak mekar.


"Pertunjukkan besar, dimulai"


Seorang pria dengan rambut putih dan setelan formal nampak membungkuk menghormat


"Hormat kepada yang mulia Alpha,"


"Oh? Apa kau utusan dari orang itu?"


"Ya. Sesuai perintah tuanku"


"Oh?"


Pelelangan terus berlanjut, berbagai jenis produk pun berhasil dilelang dengan harga yang cukup fantastis. Mengingat lelang ini diikuti oleh mayoritas bangsawan royal.


"Cheryl,"


"Hamba menghadap, yang mulia"


"Bagaimana menurutmu tentang lelang ini?"


"Dari yang saya lihat dan amati, kebanyakan pengunjung adalah pebisnis dan para bangsawan dengan gelar minimal baron, dan yang cukup mengejutkan, saya juga mendapati beberapa bangsawan dengan identitas yang tidak bisa diremehkan, seperti Duke of Acquilla, Bryan dan banyak pebisnis besar yang berpengaruh di benua."


"Yah, seperti yang kurasakan, pelayanan disini pun cukup layak untuk standar raja dan penguasa tinggi suatu negara, dan itu tak main main"


"Lalu berikutnya, selain dari pelayanan dan fasilitas yang di berikan kepada para pengunjung, hal lainnya yang cukup berpengaruh adalah barang yang dilelang ... seperti yang anda lihat, yang mulia ... barang barang yang dilelang jelas bukan barang lelang yang dapat ditemui di asal tempat di benua, dan itu cukup pantas untuk patokan harga yang dipasang penyelenggara."


"Hmm ... cukup untuk hari ini, ayo kita pulang"


"Eh? Ya-yang mulia? Anda?"


"Hmm? Menurutmu apa lagi yang bisa kita lihat huh!? Lelangnya sudah selesai bukan?"


"Eh? Tapi ... anda kelihatannya lupa akan tujuan awal anda"


Alpha berdiri dan mulai melangkah keluar dari suite.


Kai yang berdiri di pintu sedikit membungkukkan badannya tenang.


"Tuanku, mengharap kedatangan anda, yang mulia Alpha."


Alpha tak menghiraukan ucapan Kai, ia lantas berjalan melewati Kai menuju keluar suite.


"Oh? Kelihatannya tuanmu itu memandang remeh aku bukan? Bahkan pesan seperti ini pun harus disampaikan lewat bawahan huh!?"


Seorang anak dengan setelan formal tersenyum ramah.


"Bagaimanapun, anda tidak punya pilihan selain datang. Bukankah perkataan saya benar, yang mulia Alpha?"


"Oh? Meskipun anda sudah tahu akan hal ini, tapi kelihatannya anda tidak sabar untuk bertemu dengan pria tua ini bukan?"


"Fu fu fu ... yah, yang muda harus menghormat kepada yang lebih tua"


Sementara itu, Cheryl nampak mematung dengan linglung.


'I ini? Apa sebenarnya yang terjadi sih!?'


"Tch! Kelihatannya kedua belah pihak sudah menunjukkan ketulusannya, yah, karena itu kurasa tidak ada yang perlu di ucapkan lagi"


"Ah, anda terang terangan seperti biasanya, yang mulia Alpha"


"Hmph!"


Raka tersenyum dengan ramah, Sementara Alpha berjalan keluar dan pergi kembali.


Cheryl hanya termenung bingung.


"Sigh.. tinggal dua lagi yang perlu diurus" gumamnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2