The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 56


__ADS_3


Bab 56: Nous


Heart, 31/05


"Hei! Minggir minggir!"


"Tch! S*alan! Kau menghalangi jalanku"


"Hah!? Apa kau!?"


"Ngajak ribut kau!?"


Riuh rendah suara memenuhi pendengaran.


"Diam!" Ucap sebuah suara berat. Semuanya terdiam, seorang pria dengan tubuh yang besar dan kekar berjalan melewati kerumunan.


"Jadi dia Deux yang baru itu?" Bisik salah seorang diantara mereka.


"Ssst! Jangan berisik. Dia itu orang yang emosian, jadi berhati hatilah" bisik seseorang lainnya.


"Deux .. huh?"


...□□□...


Grrrr!


Tanah sedikit berderak tatkala pria kekar yang dipanggil Deux itu duduk, di atas sebuah kursi.


Tak lama setelahnya, sebuah arena muncul di hamparan hutan itu.


"Baiklah! Semuanya! Kita akan mulai pertandingannya sekarang!" Ucap seorang wanita dengan dua rambut dikuncirnya. Dua tanduk berwarna merah nampak menonjol di dahi mereka.


"Peraturannya adalah ... kalian bisa menang saat lawan kalian menyerah atau mati di pertandingan. Terserah mau dengan cara apa pun!!" Ucap wanita lainnya yang terlihat mirip.


"Baiklah! Pertarungannya bisa dimulai kapan pun itu!" Ucap keduanya secara bersamaan.


Para penonton bersorak. Tak selang lama, seorang pria bertubuh kekar dengan tanduk hitam yang tumbuh sedikit melingkar naik ke atas arena pertarungan. Seluruh mata tertuju padanya.


"Ku ha ha ha ha! Aku Alderon, iblis darah bangsawan. Siapa yang mau menantangku, maju sekarang! Akan kutunjukkan kalau aku ugh!" Dengan segera ucapannya terpotong. Ceceran darah merah merembes dari lehernya. Setelah beberapa saat, tubuhnya limbung dan terjatuh.


Seorang pria jangkung dengan rambut panjang muncul di tengah kerumunan, menaiki tangga arena.


Ia lantas berlutut, memberi penghormatan kepada sang Deux.


"Saya Leon, sebuah kebanggaan bisa bertemu dengan anda. Biarkan saya melayani anda dengan sepenuh jiwa saya," ucapnya seraya tersenyum penuh semangat.


"Fanatisme, huh?" Bisik seseorang dari balik jubahnya.


"Kau tidak takut kaisar menangkapmu huh? Yah, terserahlah. Lalu, singkirkan lalat lalat itu dari hadapanku," ucap sang Deux dari tempatnya duduk.


"Dior, lenyapkan s*mpah itu" ucap sang Deux dingin.

__ADS_1


Tak berapa lama seorang pria nampak menghampiri jasad iblis itu, mengangkatnya dan melemparkannya keluar arena, tepat ke depan sebuah gua. Sebuah geraman muncul dari dalam gua, dengan cepat meraih tubuh tak bernyawa itu dan memakannya tanpa sisa.


Anehnya, bukan rasa ngeri yang membanjiri para peserta. Melainkan sorak sorai dan rasa tertantang membludak dari kerumunan peserta itu. Pertandingan terus berjalan, tapi masih dengan satu pemenang yang sama. Tak terasa, hanya tersisa segelintir orang di bawah arena.


"Ka ka ka ka ka! Apa ini saja kekuatan kalian!? Benar benar lemah untuk menjadi pelayan tuan Deux!" Ucapnya sombong.


"Begitukah? Aku tidak berpikir begitu tuh" ucap seseorang dari balik jubah. Pandangan segera beralih menuju sosoknya.


Tap! Dengan cepat ia mendarat dari dahan tempatnya berada. Dengan tenang melangkahkan kakinya menghampiri arena dan pria berambut panjang itu.


Sesosok pria berambut hitam dua tanduk merah yang mencuat dari balik rambut ikalnya itu berjalan santai menghampiri pria berambut panjang. Tepat di tangga pertama, ia menghilang. Tapi dengan cepat tubuhnya kembali muncul di hadapannya, pria berambut panjang.


Kiasan terkejut melintas di wajah pria berambut panjang dengan cepat ia menghindar dan mengangkat tangannya, mencoba menangkis pukulan telak di wajahnya itu.


Dash!


Pertarungan kembali terjadi. Kali ini terjadi begitu lama dan keduanya nampak seimbang. Baik itu pukulan atau sihir terus dikerahkan keduanya tanpa ampun.


Sementara peserta lainnya hanya bisa meneguk ludah, getir.


Setelah beberapa lama, keduanya berhenti, untuk sekedar mengulur napas mereka. "hmm, menarik" bisik sang Deux.


Setelah beberapa saat, "hentikan" ucap seseorang dari singgasananya. Keterkejutan muncul bukan hanya dari para peserta, melainkan juga para bawahannya yang turut mendampinginya.


Seluruh pandang kembali terarah padanya. Sebuah aura tajam membekukan suasana. Dalam sekejap, semua peserta terdiam, tanpa ada satu pun yang berani berucap, bahkan untuk sekedar menghembuskan napasnya.


Ia menatap intens ke arena tempat di mana keduanya bertarung. Sebuah senyum merekah di wajahnya.


Kedua peserta yang sebelumnya bertarung nampak terkejut. Rasa bahagia, juga rasa khawatir mendominasi hati mereka. Berpikir bahwa salah satu dari keduanyalah yang terpilih oleh sang Deux.


Ia tersenyum dan berkata, "apa belum cukup bagimu menonton semuanya sendiri?"


Kegemparan segera terjadi di arena.


"Menonton? Apa itu artinya?"


"Bukankah itu artinya dia seseorang dari kita?"


"Maksudku, dia seharusnya tidak ikut bertarung kan?"


"Apa mungkin ada yang lebih kuat dari mereka berdua"


Riuh rendah para peserta yang menonton pun segera memenuhi arena. Sementara kedua peserta nampak menggigit bibirnya geram.


"Tuan Deux! Anda pasti ..." ucap pria berambut hitam segera terdiam saat sesosok pria berjubah naik menuju arena.


Sembirat senyum kembali merekah di wajah sang Deux, penuh akan kesombongan dan kebanggaan.


"Ah, saya ketahuan, ya?" Ucapnya santai.


"Hmm, yah. Maafkan kelancangan saya, tuan Deux." tambahnya angkuh.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apa kau belum puas menonton s*mpah s*mpah itu?"

__ADS_1


"Unn ... Entahlah, Hanya saja, saya bukan orang bodoh seperti mereka semua yang menyerang di awal hanya untuk menunjukkan kekuatannya. Saya lebih suka menghemat kekuatan saya" ucapnya.


"Begitukah?"


Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan.


Kedua pria lainnya yang menepi tidak bisa menahan emosi mereka tatkala pria itu mengejek mereka berdua.


"Apa maksud perkataanmu itu" tanya pria berambut panjang dingin.


"Ah. Maaf, aku tidak memperhatikan jika kalian ternyata masih disitu" ucap pria itu tertawa kecil.


"Yang mulia! Dia ..."


"Kalian bisa menyerangnya" ucap sang Deux santai.


"Baik!" Jawab kedua pria itu senang.


Tanpa aba aba keduanya melesat menghampiri pria berjubah itu. Sebuah senyum muncul dari balik jubah hitam.


Pertarungan tak terelakkan. Keduanya bekerja sama menyerang pria berjubah itu dengan sekuat tenaga.


Sementara pria berjubah itu tidak melakukan banyak hal. Ia hanya nampak menangkis serangan keduanya, tanpa ada satu pun serangan darinya.


Setelah cukup lama, kedua pria yang menyerang mundur secara bersamaan. Keduanya saling berpandangan sejenak, hingga kemudian secara tiba tiba dua buah piringan hitam menghimpit pria berjubah dari arah bawah dan atas.


Keugh!


Kedua pria itu lantas memuntahkan seteguk darah merah dari mulut mereka. Ekspresi panik segera berganti menjadi senyum, berpikir bahwa semuanya telah berakhir bagi pria berjubah.


"Annihilation" bisik pria berjubah itu.


Dash!


Semburan angin besar segera keluar dari tubuh pria berjubah. Menyapu seluruh arena dan menghapus kedua piringan hitam secara bersamaan. Kilatan terkejut muncul di wajah kedua pria yang terluka. Sementara sang Deux hanya menampilkan senyum licik di wajahnya.


Semburan angin membuka tudung hitam yang menutupinya. Sesosok pria muda dengan rambut hitam pekat dan mata yang senada menampilkan senyumnya.


"Apa itu sudah cukup?"


"Tch! Kau!"


"Oh? Belum cukup ya?"


Tap. Dengan tenang ia melangkahkan kakinya. Suara gemerisik aneh pun menyertainya. Ia melangkah maju menghampiri kedua pria yang terduduk lemas.


Piringan merah darah segera mekar saat ia berhenti melangkah. Piringan dengan cepat berputar dan bercahaya dengan cahaya merah jingga yang menyilaukan.


Pria berjubah itu sedikit berucap, tapi tak ada satu pun kata yang benar benar terdengar oleh kedua pria itu.


Kemudian, sebuah ledakan besar melanda arena itu. Meledakkan seluruh iblis di dalamnya. Terkecuali satu orang, dia adalah iblis berjubah itu. Sebuah senyum merekah di wajahnya, dengan tenang ia berlutut di tengah tengah arena berwarna merah darah.


"Nous, akan melayani sang Deux mulai hari ini"

__ADS_1


__ADS_2