The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 53


__ADS_3


Bab 53: To The Continental Mirror


"Seriusan? Blessing Of immortality!" Ucap Senior Ian terkejut.


"Hah? Blessing apa?" Celetuk Senior Judith tak di tanggapi.


Aku hanya bisa mengangguk, "itu benar. Blessing Of Immortality, aku harus bisa mendapatkannya"


Ia mengernyitkan dahinya "Kau yakin bisa? Maksudku, bahkan jika itu aku ... yang sudah familiar dengan continental mirror sekali pun, tidak akan pernah menyetujui misi seperti ini." Ucap senior Ian.


"Begitu ya ... yah, jika tidak kucoba maka aku tidak bisa bilang bahwa aku tidak mampu, kan?" Ucapku tenang seraya menatap jauh.


"Haih ... yah, kau benar" ucap senior Ian tersenyum tanpa daya.


Dengan begitu, obrolan mengenai misi selesai. Selama tiga hari perjalanan pun, senior sama sekali tak membicarakannya lagi. Yah, aku memahaminya. Untuk seseorang sepertinya pun, sulit untuk memahami situasiku saat ini. Ia berada dalam situasi dimana ia tidak bisa menyemangatiku, atau pun memintaku menyerah.


Dan faktanya, aku memang sama sekali tak berpikir untuk menyerah. Alasannya sederhana, jika seandainya aku tidak mampu menyelesaikan misi ini, maka sama artinya dengan keluargaku mati. Dan itu sama saja jika aku hanya diam. Dan lagi, ku harap aku bisa lebih memahami dunia ini dari sudut pandang Continental Mirror.


Tiga hari, kami akhirnya sampai di continental Mirror. Butuh waktu setengah hari untuk benar benar sampai di ibukota Unity kingdom Clover.


"Bersiap. Kita akan memasuki negara bagian kekaisaran iblis." Ucap senior Ian memecah keheningan.


"Sebelum kita sampai ke istana, jangan berjauhan dariku" ucapnya kemudian.


Aura hitam kemerahan mendadak meledak dari tubuhnya. Dibarengi dengan munculnya sepasang tanduk di dahinya. Aura itu dengan cepat menyelimutiku dan tubuhnya, menyapu seluruh bagian tubuhku.


"Baik" ucapku patuh.


Pemandangan terhampar luas di hadapan kami. Bangunan bangunan tinggi dengan lalu lalang penduduk. Mungkin kelihatannya mereka sama, layaknya manusia. Namun, pada dasarnya mereka adalah iblis, atau mungkin manusia dengan kekuatan darah iblis.


"Tetap di dekatku, akan berbahaya jika mereka tahu bahwa kau manusia" ucap senior Judith di sampingku.


Aku mengikuti keduanya, kami berjalan dengan aku yang ditutupi jubah. Tak lama kemudian, kami melewati sebuah lorong yang sedikit kumuh dan gelap. Udaranya pun sedikit terasa lebih dingin dibandingkan jalanan tadi. Ditambah, lorong ini nampak begitu sepi, tanpa ada suara atau pun seorang iblis pun. Saking sepinya, suara langkah kami terdengar lebih keras di sini.


Dan, sesuatu yang aneh mulai menggangguku. Meskipun hanya sedikit, tapi aku bisa merasakan banyak dan kentalnya bau darah di sekitar.


"Jangan menoleh" bisik senior Ian dingin.


Aku kembali mengurungkan niatku untuk mengangkat wajahku, dan segera kembali menunduk. Tak berapa lama, beberapa langkah lainnya terdengar, dengan beberapa obrolan diantaranya.


Mereka adalah tiga iblis dengan pakaian yang nampak sedikit formal. Kami melewatinya begitu saja, itulah yang kupikirkan saat sebuah suara mengintruksi kami secara tiba tiba.

__ADS_1


"Hei!" Ucap suara itu.


"Ada apa?" Ucap senior Ian menolehkan wajahnya. Tubuh tingginya sedikit bergeser menutupi tubuhku.


"Ah ... tidak. Aku tadi sedikit merasakan manusia di sini" ucap salah satu iblis di antaranya.


"Begitu ... jika begitu, maka kalian salah" ucap senior Ian mencoba untuk santai.


Tiga iblis itu hanya mengangguk membenarkan ucapan senior.


"Baiklah. Jika begitu kami akan pergi" ucap senior Ian sedikit hormat.


Kami berbalik, masih dengan posisi di mana sosokku di sembunyikan oleh senior.


Sepersekian detik berikutnya, sebuah belati terbang menyusur ke arahku. Aku menarik tubuhku, merapat ke arah dinding, namun tetap saja terlambat, belati itu dengan cepat menyayat sebagian tudung yang kupakai.


Penampilanku terbongkar, segera kedua senior menjagaku dari kedua sisi. Aku tak bisa berkutik.


"Ha ha! Lihat? Dia manusia! Mana mungkin ada iblis yang memiliki rambut biru sepertinya!"


"Itu benar! Bukankah ras Asteria itu dicintai dewa? Ha ha! Mereka pasti merosot saat ini"


"Yosh! Karena dia manusia dan dia diberkati dewa, maka pasti rasanya berbeda bukan?"


Trang!


Dua logam saling bergesekan. Salah seorang iblis berhasil di tahan. Namun dengan segera dua iblis lainnya maju menghampiri kami.


Crash!


Mereka menghentikan langkah mereka tatkala sebersit sinar terbang dengan cepat menghampiri mereka, hingga berhasil mengenai pergelangan tangan dari salah seorang iblis.


"Ian, bagaimana?" Bisik senior Judith kepada Senior Ian.


"Tidak ada jalan lagi ... kurasa akan ada sedikit keributan" gumam senior Ian.


Keduanya saling berpandangan sejenak sebelum mulai mengambil langkah. Namun, tepat sebelum itu, tanganku bergerak meraih jubah keduanya.


"Tunggu. Biar kuselesaikan" ucapku tenang. Keduanya menoleh, ekspresi kaget dan tidak percaya membayangi wajah keduanya.


Aku mengangguk pelan, mencoba meyakinkan keduanya. "Kalian cukup katakan begini ..." bisikku memberi isyarat.


"Imprisonment" gumamku sebelum melangkahkan kakiku maju.

__ADS_1


Clang! Dengan segera rantai mengekang kedua tanganku kencang.


"Tunggu dulu!" Ucap senior Ian mencegah pergerakan iblis iblis yang nampak sedikit marah itu.


"Biar kujelaskan. Kalian disini salah paham, itu tidak terlihat seperti kami membawa manusia sembarangan. Ini adalah permintaan yang mulia raja" ucap senior Ian.


Para iblis itu sedikit kebingungan, setelah beberapa saat, mereka menjawab.


"Apa maksudmu?"


"Beberapa hari yang lalu, kami menemukan seorang budak berambut biru yang tidak diketahui asal usulnya di pelelangan. Sang raja berniat membelinya untuk kemudian dijadikan nutrisi agar beliau bertambah kuat" ucap senior Ian seraya berpura pura menarik rantai di kedua tanganku.


"Yah. Kurasa masuk akal."


"Tu-tunggu! Lalu kenapa kau tidak mengatakannya diawal? Sehingga kita tidak perlu bertarung. Dan lagi, bukankah kalian bisa membawanya dengan kereta?"


"I-itu ..."


"I-itu .. itu permintaanku" ucapku berpura pura ketakutan.


"Saya hanyalah seorang budak. Pada dasarnya, saya telah menyerah atas hidup saya. Bahkan jika itu akan dimakan. Sejak dulu, saya selalu ingin memuaskan tuan saya. Dan, di dunia manusia ... hewan yang akan dimakan biasanya dibiarkan untuk memakan makanan bergizi dan dibiarkan sehat selama beberapa hari agar rasanya lebih segar dan sehat." Ucapku seraya menunjukkan ekspresi kosong.


Para iblis itu saling berpandangan untuk sekejap, "baiklah. Kurasa itu masuk akal" ucap mereka sebelum pergi.


Kami pun melanjutkan langkah kami, dengan cepat kembali menyusuri lorong, hingga kemudian, benar benar berada di sebuah jalan yang sepi.


"Pfft! Bukankah mereka itu bodoh!?" Seru senior Judith seraya tertawa cukup keras.


"Yah, apa pun itu ... syukurlah kita baik baik saja" ucap senior Ian seraya menghela napasnya panjang.


"Baiklah. Kurasa sudah aman" ucap senior Ian seraya mengeluarkan sebuah disk dengan simbol simbol keemasan di atasnya.


"Ini ..." ucapku seraya memperhatikan disk yang terasa sedikit tak asing itu.


"Disk teleportasi. Yah, kupikir ini bukan pertama kalinya kau melihatnya? Disk seperti ini bukan sesuatu yang asing di Alpha College, bukan?"


Aku mengangguk pelan.


"Sebelumnya aku tidak bisa mengeluarkannya karena jaraknya yang sangat jauh dan di tempat ramai pasti akan mengundang pemerintah negara lain." Jelasnya.


Sringg!


Disk itu berputar, menampilkan cahaya cahaya yang berpola, dan dalam sekejap, kami benar benar berteleportasi.

__ADS_1


__ADS_2