The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 2


__ADS_3


Bab 2: Bertaut


Dua tahun kemudian.


05/02 Count Kaelmiff, Azasky.


"Cepat! Ayo kesana! Jika tidak nyonya pasti marah!"


"Tch! Bisakah kau melangkah lebih cepat huh!?"


.


.


.


Hari ini, hari yang cukup sibuk. Semua orang sibuk mengurusi bagian pekerjaan mereka masing-masing. Yah, 'ibuku' memintaku untuk memindahkan sekotak penuh barang usang ke gudang yang letaknya tidak terlalu jauh, dari kamarku.


Itu wajar bagi kami, atau lebih tepatnya mereka untuk sibuk membereskan mansion. Tentu saja untuk menyambut kedatangan bangsawan yang lebih tinggi.


Berpasang pasang langkah kaki melangkah cepat melewati tubuh kecilku. Sudah dua tahun semenjak aku tiba disini sebagai tuan muda 'illegal' itulah kiranya. Dua tahun pula aku mendapat mimpi-mimpi aneh itu- dengan kata lain, ingatanku. Aku tidak tahu pastinya, dan aku juga belum bisa mengingatnya dengan jelas. Tapi satu hal yang pasti, mimpi itu, adalah ingatanku. Aku mengambil kesimpulan ini karena semua mimpi ini bertaut, dan saling bersangkut paut.


"Hei! Apa yang kau lakukan huh!? Apa kau punya mata!?" Teriak seorang wanita memarahiku sesaat setelah ia menabrakku. Itu benar, dia yang menabrakku terlebih dulu.


"Ah, maaf" ujarku datar.


Setelah dua tahun berjalan, aku pun mulai beradaptasi. Menyesuaikan sifatku sendiri, entah itu karena perlakuan mereka atau karena ingatanku waktu lampau.


Berbuat seperlunya, kurasa itulah hal yang perlu ditekankan saat menghadapi mereka, entah itu Kaelmiff atau bukan, semuanya sama.

__ADS_1


Karena kenyataannya, tidak ada manusia yang benar-benar peduli terhadap orang lain yang tidak memiliki hubungan dengan mereka. Mana yang lebih menguntungkan mereka, itulah yang akan mereka pilih, tak terkecuali Aku.


Lakukan seperlunya, peduli seperlunya, balas seperlunya, berpikir seperlunya, dan hiduplah seperlunya.


Thud!


Aku meletakkan sebuah kotak yang kubawa di gudang. Aku menghela napasku lelah. Bukan hal yang mudah bagiku untuk mengangkat sebuah kotak yang bahkan dengan tubuhku pun separuhnya, apalagi dengan tubuh lemahku saat ini.


Aku mendudukkan tubuhku, menyeka keringat yang menetes.


Chirps! Chirps!


Kicauan burung dengan lembut mengalihkanku dari penat. Aku melangkah pelan ke arah jendela yang cukup tinggi. Aku berjinjit, menatap seekor induk burung yang tengah memberi makan burung kecil. Sesekali burung kecil itu bersenandung merdu seirama dengan alunan angin diatas pohon oak yang tinggi besar dengan ranting rantingnya yang menyebar. Hembusan angin panas bulan Juni menerbangkan dedaunan oak.


Mengangkat kakiku untuk melihat lebih tinggi lagi dan melebarkan mataku.


'Induk ya.. apa semua ibu akan melakukan hal yang sama pada anak-anaknya?'


'Tidak..'


'Kau pasti hanya bermimpi, ya.. kau hanya bermimpi'


'Bukankah itu menyakitkan? Saat mimpi yang kau inginkan tak terwujud? Dan saat kau menghadapi realita yang tak seharusnya ada?'


Aku tertegun, terbuai dalam lamunan dan bayangan.


'Aku tahu, aku tahu.. mau aku berusaha setengah mati pun, aku tetap tidak mengubah kenyataan kan? Itu hanya ilusi. Tapi, sekalipun itu ilusi.. kurasa aku ingin benar-benar hidup disana'


"Raka? Apa itu kau?"


Aku terkejut saat sebuah suara semu memanggilku. Aku menoleh, sebuah bayangan semu nampak dihadapanku. Seorang ibu membungkuk dan tersenyum hangat pada seorang anak kecil.

__ADS_1


"Ibu! Lihat! Burung kecil ini terjatuh dan terluka, bagaimana jika aku merawatnya?" Ucap anak itu antusias.


Aku meremas dadaku- sakit.


Wanita itu tersenyum dan mengelus rambut lembut anak itu.


"Bodoh, apa kau tahu? Mungkin saja induk burung kecil ini mencarinya tahu.. jika kau merawatnya, bukankah induknya akan kehilangan? Menurutmu apakah ibu akan baik-baik saja saat kehilanganmu?" Ucap wanita itu dengan lembut.


Mataku memanas, air mataku meleleh begitu saja. Mengalun lembut menyusuri pipiku yang memanas.


"Ah.. begitu yah.. sayang sekali" anak itu sedikit murung, hingga kemudian tertawa kecil.


Tanpa sadar aku melangkahkan kaki kecilku.


Masih dengan air mata panas yang masih menetes.


"Baiklah, ayo kita pulang.. kakak dan ayah pasti menunggumu" mereka beranjak pergi saat aku mencoba berlari dan meraih bayangan semu yang sebenarnya hanya ada pada pikiranku.


Aku berdiri sendiri di ruangan itu. Air mata masih mengalur, aku menundukkan wajahku dan perlahan-lahan mengusap pipiku.


Aku menatap jauh ke arah cermin, nampak seorang anak kecil yang nampak di pikiranku sebelumnya. Ia berambut hitam kebiruan, senada dengan rambutku. Tubuh kecilnya sedikit merapat mendekatiku, dan tersenyum hangat padaku. Di belakangnya, seorang wanita cantik dengan rambut hitam kebiruannya tersenyum hangat.


'Ibu menunggumu, Raka'


Aku mengerjap, bayangan cermin itu menghilang. Tidak, mungkin tidak pernah ada. Itu semua, hanya ada dipikiranku.


Aku mengusap pipiku, menghilangkan jejak tangis di pipiku. Meneguhkan pijakanku dan sedikit tersenyum.


Ya, aku akan menemukanmu, ibu.


Dan, tanpa ku ketahui, seseorang merasakannya.

__ADS_1


__ADS_2