The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 51


__ADS_3


Bab 51: Demon God


Alpha College, 25/03


Riuh rendah para murid yang berlatih menjadi pertanda pagi hari di Alpha College, tepat sebelum kegaduhan terjadi.


Sesosok bayangan dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya, muncul di sela sela pepohonan. Berjalan lambat menghampiri gerbang dengan dua orang penjaga di sana.


"Berhenti! Siapa kau!" Teriak kedua penjaga gerbang.


Sosok itu menghentikan langkahnya. Membuka tudung yang menutupi separuh wajahnya. Memperlihatkan rambut hitam pekat dan sepasang mata berwarna biru gelap.


"Ini aku. Murid leluhur pertama datang untuk melapor" ucapnya.


Kedua penjaga itu tampak bingung, keduanya saling berpandangan sejenak. "Ka-kau?"


"Apa aku tidak boleh masuk?" Bisiknya dingin.


"Te-tentu ... tapi bisakah kau tunjukkan tanda kehormatannya?" Tanya keduanya.


"Masuklah" ucap sebuah suara bijak bergema.


Mengejutkan kedua penjaga, mereka berdua nampak linglung. Hingga kemudian membukakan pintu bagi remaja itu.


Ia berjalan acuh, tanpa mempedulikan sekelilingnya. Beberapa murid dan prajurit nampak menatapnya dengan sedikit heran.


Beberapa anak yang tampak lebih besar segera berlari menghampirinya, "Junior!" Panggil mereka.


Raka hanya menoleh, menatap sebentar dengan tatapan tenang.


"Bertemu senior" ucapnya singkat.


"Ap-apa? Apa yang terjadi padamu ..." tanya Ava.


Raka menggeleng pelan, ia lantas mengalihkan pandangnya dan kembali melangkah mengabaikan beberapa remaja yang masih tertegun.


Ia terus berjalan, memasuki sebuah ruangan besar yang nampak seperti aula dengan ukuran besar. Di dalamnya, berdiri empat orang penatua Alpha College.


Seorang remaja laki laki berdiri di tepi pintu, menatapnya dengan tatapan rumit. "Raka ..."


Raka terhenti, ia menatap remaja pria itu sejenak sebelum ia akhirnya tersenyum simpul, "tidak apa, senior" ucapnya singkat.


Ketiga remaja lainnya turut mengikutinya masuk, masih dengan tatapan heran.


"Eh? Kakak? Sebenarnya ada apa?" Tanya Ava kepada remaja pria itu.


Remaja pria itu hanya terdiam dan memalingkan wajahnya pada Raka yang tengah berlutut.


"Murid bertemu guru" ucapnya patuh.


"Kau masih menganggapku sebagai mastermu, huh?"


"Saya tidak berani mengabaikannya"

__ADS_1


"Lalu ke mana perginya peraturan itu?"


"Sigh. Apa kau tahu apa kesalahanmu itu?" Ucap Julius menghela napasnya panjang.


"Ya. Murid tahu. Saya sebagai penerus lalai dalam tugas, menyebabkan kematian dari master pertama. Karenanya, murid datang untuk menerima hukuman"


"Menyebabkan kekacauan di benua menengah, dan atas kelalaianmu, menyebabkan kematian pemimpin. Menurutmu hukuman apa yang pantas untukmu?"


"Murid tidak berani memutuskannya" ucap Raka mempertahankan ketenangannya.


"Baiklah. Jika begitu, kuumumkan, Raka Azalea Putra Arcnight, akan mempertanggung jawabkan atas apa yang ia lakukan!"


"Sesuai peraturan tanah leluhur, kau harus menerima hukuman dari setiap penatua yang ada" Ucap Julius mengejutkan semua orang yang hadir.


"Tapi karena kau merupakan murid dari alpha College, maka kau hanya harus menerima masing masing tiga serangan dari keempat penatua, dengan cara apa pun itu"


Sementara Raka masih nampak berlutut. Setelahnya, ia lantas bangkit dan berdiri dengan teguh, menatap lurus kepada keempat penatua yang duduk di tempat mereka.


"Tunggu!" Ucap sebuah suara menyela.


Tap!


Nampak Rudolf yang melompat turun dari tempatnya dan berlutut tepat di hadapan masternya, membelakangi Raka.


"Murid lancang,"


"Mohon kepada master untuk meringankan hukuman junior" Ucap Rudolf.


"Itu benar! Junior tidak bersalah!" Ucap Ava dan murid lainnya turut turun dan berlutut mengikuti senior mereka.


"Hidupnya bukan kau yang memutuskan. Itu adalah kesalahannya, dan ia juga yang pantas menerimanya."


"Tapi ..." Ucap Rudolf saat mencoba menyanggahnya, namun segera disela.


"Lihatlah ke belakangmu! Apa menurutmu dia terlihat seperti ingin melakukannya!?" Sambung Icy.


Raka mengangkat wajahnya, menampakkan seberkas senyum teguh di wajahnya. "Murid menerima keputusan master. Mohon kepada senior untuk tidak mengkhawatirkan saya" ucapnya tenang.


"Ap-apa ... kau gila!" Seru Oscar.


Raka hanya diam menanggapi ucapan para seniornya.


"Kau ..." ucap Ava panik, namun segera dihentikan oleh Rudolf.


"Baiklah. Junior, berjuanglah" ucapnya sebelum kembali ke tempatnya sebelumnya.


"Yosh! Karena tidak ada penatua yang ingin mendahului, maka biarkan aku yang mengambilnya!" Ucap penatua kelima, Shana.


Dengan cepat ia meluncur, tangan kanannya tampak mengepal dengan sekuat tenaga ke arah Raka berdiri.


Raka menarik satu kakinya ke belakang dan menarik napasnya panjang sebelum bersiap menerima pukulan dari masternya.


Dash!


Tangan Shana segera menghantam lengan Raka. Untuk beberapa detik, ia terdorong dengan cepat ke belakang, tapi dengan segera ia kembali mengokohkan pijakannya. Menghembuskan napas panjang sisa dari pukulan kuat yang ia tahan.

__ADS_1


Sementara Shana lantas menarik tubuhnya, tepat di udara, udara kabut tipis berwarna putih menyelimuti tubuhnya.


Setelah beberapa saat, udara tipis mirip kabut itu segera menghilang. Menampilkan sesosok wanita dengan rambut pirang dengan dua telinga runcing. Ia mendarat, di belakanh tubuhnya, kelima ekor berwarna putih bergoyang lembut, membubarkan udara berkabut itu.


Wanita itu tersenyum, menampilkan gigi taring serinya diantara gigi lainnya.


"Kau cukup tanggung, pangeran" ucapnya.


Sementara Raka masih menghembuskan udara panas yang berhembus di sekitar tubuhnya.


"Terimakasih, master Shana ... Tidak, haruskah saya memanggil anda dengan nama asli anda, Demon God, Foxy"


"Tidak. Aku lebih suka kau memanggilku master Shana seperti sebelumnya" ucapnya seraya mengibaskan salah satu ekornya. Ekor itu pun nampak menghilang, terurai menjadi cahaya lembut yang berpendar, indah. Cahaya cahaya itu dengan cepat bersatu di tangannya, berubah menjadi sebuah cambuk panjang berwarna putih dengan sedikit sembirat merah jingga.


Shana menyelesaikan transformasinya, dengan cepat ia kembali melesat ke arah Raka. Raka bersiap, ia dengan cepat mengambil pijakannya, masih dengan pose yang sama tapi dengan posisi tangan yang berbeda.


Sssh ....


Tak!


Shana menghentikan langkahnya, dengan satu kakinya di depan, dengan cepat mengayunkan cambuknya, kaki belakangnya terangkat, keempat ekornya berkibas dengan udara panas menyebar di seluruh arena.


Clap!


Cambukan pertama dengan segera mendarat di tangan Raka. Tanpa diduga, tenaga yang begitu besar mendorong tubuh Raka menjauh. Debu berterbangan membanjiri seluruh arena.


Sigh. Raka menghembuskan napasnya berat, nampak kedua tangannya menyilang di depan dada dengan otot otot yang muncul. Tangannya memerah, tapi tanpa darah menetes dari tangannya.


"Dia ... mengubah gerakannya tepat sebelum serangan itu tiba, mungkinkah begitu?" Ucap Edgar dengan ekspresi tertantang.


Untuk kesekian kalinya Raka menghela napasnya panjang, mencoba menjaga ketenangannya.


"Tapi ini masih pukulan kedua, akan ada pukulan terakhir. Aku tidak berbelas kasih, Pangeran kecil." Ucap Shana.


Berbeda dari sebelumnya, Shana hanya menghentakkan kakinya. Suara retakan dengan cepat berbunyi dari arena. Di sekitar kaki ramping itu, tanah retak dan amblas. Tanpa mempedulikan hal lain, Shana menarik napasnya, mencondongkan tubuhnya ke depan.


Cambuk kembali di ayunkan dengan arah horizontal, mendorong udara panas menerpa Raka. Raka memposisikan tangannya tepat di sebelah kanan lehernya, mencoba melindungi lehernya dari serangan cambuk dan udara panas.


Crash!


Cambuk dengan cepat mengenai tangan kanannya, merusak lapisan kulit tangannya. Darah merah mengucur dengan deras bersamaan dengan derakan suara tulang.


Slap!


Pandangan semua orang segera terkejut saat sebuah tangan menangkap cambuk yang belum berhenti itu. Menariknya dengan cepat. Memanfaatkan momentum dorongan dari Cambuk yang ia tangkap, Raka menggunakan seluruh tenaganya untuk maju. Ia menolakkan kakinya, melesat dengan cepat seraya menarik cambuk itu.


Shana terkejut, dengan cepat ia melepaskan genggamannya. Cambuk yang terlepas dari tangannya itu dengan cepat melebur menjadi partikel partikel cahaya kunang.


"Cukup" ucap Julius tegas.


Raka segera menghentikan langkahnya, ia lantas menghembuskan napasnya lega. Ia lantas menegakkan tubuhnya, menarik panjang napasnya, seraya berusaha memulihkan kedua tangannya yang masih kebas.


Tulang pergelangan kanannya patah, tenaganya cukup terkuras habis hanya dengan satu putaran. Dan masternya sama sekali belum mengeluarkan kekuatan penuhnya, ia khawatir jika kekuatannya sama sekali belum mampu menandingi mereka, para penatua.


Rasa khawatir, tegang dan takut dalam sekejap memenuhi pikirannya. Tapi dalam satu helaan napas, ia mengembalikan ketenangannya.

__ADS_1


__ADS_2