The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 28


__ADS_3


Bab 28: Kau Adalah Aku


Middle Continent, Xiantine, 4/3.


"Aku minta maaf kali ini harus merepotkanmu dalam mengecek kondisinya" Ucap Yama kepada seorang wanita cantik dengan rambut biru keperakan, Ivy. Ia hanya terlihat memejamkan matanya sejenak.


"Hmm, aku tidak keberatan. Yah, aku agak terkejut dengan kondisinya, diumur semuda ini tapi mampu menahan hasrat iblis. Lain kali kau harus menjaganya dengan baik. Akan sangat berbahaya jika dia sampai tersesat." Ucap Ivy dengan guratan kesedihan di matanya saat menatap pria di hadapannya itu.


"Haa ... tentu saja, saat ini bukanlah saat itu. aku juga tak ingin mengingatnya" Ucap Yama menghela napasnya panjang.


"Hmm, kondisinya ini tergantung bagaimana ia melewatinya, jika ia bisa menemukan alasan baginya untuk kembali tanpa bantuan dari luar, seharusnya dia akan berhasil, setidaknya itu yang kuperkirakan. Jika kau mempercayainya seharusnya kau tak perlu khawatir."


"Oh, baiklah. Sekali lagi kuucapkan terimakasih, Ivy" Ucap Yama dengan tersenyum tulus.

__ADS_1


Sementara Ivy memalingkan wajahnya yang memerah. Tanpa membuang waktunya, Ivy pun bergegas kembali dan berpamitan dengan Yama.


...□□□...


Di lain sisi, Raka tersadar di kesadarannya. Tempat dengan luas yang tak terbatas dan dengan bintang bintang yang berkelap kelip menyambutnya. Tempat yang sama dengan tempat dimana ia bertemu dengannya, bayangan hitam miliknya.


'Akhirnya kita bertemu lagi, diriku'


Ucap seseorang yang serupa dengannya di hadapannya. Nampak juga rantai keemasan yang mengikat bayangan yang menyerupainya itu dengan erat.


Sebuah kengerian kembali ia rasakan. Rasa perih yang melintang di sepanjang guratan merah punggung dan lehernya.


'Kenapa? kenapa kau diam saja? bukankah menyenangkan memilikiku sebagai kekuatanmu? menjadi penguasa, meraih segala hal, bahkan kau bisa dengan mudah membunuh semua yang menghalangimu, bukankah itu menyenangkan!?'


'Raka... berikanlah tubuhmu, dan aku akan membalaskan semua dendammu, coba kau ingat tentang Kaelmiff yang membunuhmu, tentang semua orang yang memandangmu lemah, tentang orang tuamu yang membuangmu, tentang saudara saudarimu yang mendorongmu, dan semua tentang orang orang yang menertawaimu, bukankah dengan melihat dan mendengar jeritan mereka akan sangat menyenangkan bukan!?'

__ADS_1


Ucap iblis itu merayu Raka. Raka sendiri hanya terdiam menatap dingin keberadaan iblis itu. Pikirannya melayang, kilas balik hidupnya selama 11 tahun kembali diingatnya. Semua rasa sakitnya yang selama ini terpendam mencuat dahsyat, perih!


Emosinya tak lagi tertahankan, ingin baginya menangis dan mengutuki keberadaan iblis dalam tubuhnya itu. Tanpa sadar ia terbuai dengan ilusi iblis tersebut. Di titik tersebut hatinya benar benar hancur. Terlintas dalam pikirannya berbagai perasaan yang selama ini ia rasakan, rasa rindu, rasa sakit, dan banyak lagi hal menyakitkan lainnya. Terbayang pula ingatan tentang semua keluarganya.


Saat ini, emosinya meluap-luap.


'Perasaan ini, mungkinkah perasaanku dulu?'


'Ibu, bagaimana kabarmu? Ayah, kakak, adik kecilku' pikirnya.


Sesaat kemudian, pikirannya kacau, terbayang baginya bagaimana jika keluarganya mati? bagaimana jika ibunya menderita? tak pernah terpikirkan baginya bagaimana kakak dan adik kecilnya yang ia sayangi kehilangan senyumnya. Sesaat, dia kehilangan pijakannya, ia terjatuh.


Dalam sekejap, dia terperosok dalam kegelapan, kegelapan hati dan jiwanya menguasai pikirannya. Seketika sebuah pertanyaan muncul dipikirannya.


'APA YANG MEMBUATMU RAGU!? BUKANKAH HIDUPMU SUDAH JELAS? BERIKAN TUBUHMU, DAN AKU AKAN MEMBALAS DENDAMMU, BUKANKAH ITU SETARA!?'

__ADS_1


__ADS_2