
Bab 25: Mercenary
"Jadi begitu" gumamku kecil.
"Repulsion"
Sebuah lingkaran sihir menghantam tubuh beast tersebut, membuatnya terpental menghantam pepohonan.
Semua mata menatapku tanpa sadar. Aku hanya terdiam tanpa sepatah kata pun terucap.
"Sudah cukup analisisnya, saatnya bertarung" ucapku ringan seraya bangkit dari posisiku.
"Tu-tunggu!" Sebuah suara berusaha menghentikanku.
Seekor beast besar berlari ke arahku.
"Bukankah anda terlalu penakut? Tuan pengendali?" Bisikku.
Aku melompat kecil, menghindari serudukan dari beast besar itu.
"Reversal" ucapku seraya mengangkat tanganku, memukul pelan moncong beast besar itu.
Bum!
Ia meledak, bersamaan dengan langkah beast lainnya yang semakin garang, menghampiriku. Mereka berusaha menyerangku saat sebuah suara semu meledakkan tubuh mereka secara bersamaan.
"Destroy"
Ceceran daging dan darah yang berhamburan. Aku mengusap pelan wajahku, "hei, bukankah ini terlalu kasar?" Ucapku ringan.
"Yah, kau tidak terluka kan?" Sesosok bayang dengan jubah hitam muncul, menampilkan wajah rusak yang tersembunyi dari balik topengnya- sesosok iblis level tinggi.
__ADS_1
"Menurutmu?" Ucapku dingin.
"Ke ke ke, aku sama sekali tidak menyangkanya! Kau yang pertama, nak ..." ia terkekeh.
"Aku tak peduli" Ucapku datar seraya melesat menghampirinya, berusaha untuk menyerangnya.
"Ki ki kik ... bukankah itu juga tidak indah?" Ia menghentikan seranganku.
Aku berbalik mundur.
"Bukankah itu tidak sopan? Menyerang seseorang yang lebih tua darimu secara tiba-tiba?"
"Yah! Anak muda jaman sekarang memang tidak bisa diandalkan!"
"Yah, apa kau tidak tahu kalau hal hal seperti ini sedang ngetrend di dunia manusia? Oh tentu saja kau tidak tahu, kan kamu iblis!"
Syuut!
Ia melesat menghampiriku, aku mengelak. Sebuah pukulan yang kuat menghantam tanah begitu saja- remuk.
"Repression" gumamku.
Sebuah lingkaran sihir segera terbentuk, menekannya sedemikian rupa. Menyisakanku ruang untuk menjauh.
"Keugh! Benar benar tidak sopan!" Gerutunya.
Ia menggila, menghampiriku dengan kecepatan penuhnya.
"Annihilation" Ucapku tenang.
Ia menjerit saat lingkaran sihir berwarna biru menyala, berputar dan menimpa tubuhnya yang tertarik, mengikis secara perlahan hingga benar-benar hancur menjadi debu.
Pertarungan usai begitu saja, aku menghela napasku panjang.
__ADS_1
Rekan-rekanku yang bersembunyi mau tak mau terkejut saat melihat pertarungan tak masuk akal itu.
Setelahnya, kami kembali dan melapor bahwa kami gagal dalam questnya. Guild dibubarkan, itu karena kebanyakan dari mereka merasa trauma dan takut akan berpetualang tak terkecuali Barto. Tapi alasannya bukanlah karena rasa takut atau semacamnya, melainkan karena aku merekrutnya!
Ya! Itu benar, aku ... berhasil merekrutnya! Meski pun pada awalnya ia bersikukuh untuk kembali ke kampung halamannya. Tapi dengan beberapa trik dan kesepakatan, aku berhasil merekrutnya.
□□□
[Normal POV]
Di hutan hitam Aerges, sesosok bayangan hitam muncul dari balik rerimbunan pohon.
Ia terkekeh-kekeh.
Sesekali ia melompat girang. Sinar matahari merembes dari balik dedaunan, menampilkan sosok sesungguhnya yang terus terkekeh. Sesosok badut dengan enam tanduk di kepalanya. Ia mengenakan kostum badut, dengan sebuah liontin hijau di lehernya. Empat buah topeng nampak tergantung di bajunya. Keempatnya memiliki ekspresi yang berbeda-beda. Melambangkan kesedihan, amarah, takut, dan bahagia
Ia terhenti dan berjongkok, memandangi tanah kotor di hadapannya. Tangannya mengelus tanah itu, mengambil sisa-sisa abu dari iblis yang terkikis.
Ekspresinya beku, tangan kanannya segera meraih sebuah topeng di tubuhnya, sebuah topeng dengan ekspresi marah di atasnya.
"Sialan!"
"Bodoh!"
"Tidak berguna!"
...
Ia berputar putar, sesekali melompat dan tanpa henti mengumpat.
Sebuah suara semu mengejutkannya, "Apa yang membuatmu marah, Tricky?"
Ia terkejut dan membuka topengnya, memperlihatkan wajahnya yang menyeramkan, "Aku membencinya! Aku membencinya! Dia ... begitu bodoh!" Ucapnya dengan suara yang memekikkan.
__ADS_1
"Ah, tapi ya sudahlah! Dia juga tidak berguna" Ucapnya seraya mengambil topeng dengan ekspresi senang dan memakainya.
Pergi meninggalkan tempat itu seraya melompat kecil- girang.