
Bab 78: Reuni, Lagi?
Oliver terus berjuang sendirian. Satu persatu beast dan iblis itu tumbang, tapi itu justru memanggil yang lainnya untuk semakin beringas. Keputus asaan mewarnai wajahnya yang cemas.
Sementara itu, sebuah siluet hitam bertengger di sebuah dahan dekat medan pertempuran Oliver, mengamati dengan seksama sembari terus menyembunyikan napasnya.
Ia sedikit menyeringai, "Butuh bantuan?" Ucapnya.
Oliver menoleh dan mencari arah suara dengan bingung.
Slap!
Seekor beruang besar tertebas dengan cepat. Pupil matanya melebar, sebuah siluet yang tidak asing muncul di matanya.
"Ka-kau? Bagaimana bisa kau di sini!?"
"Oh? Kelihatannya bantuanku tidak berguna di sini" ucap Raka turun dari pepohonan.
"Kuh! Tunggu! Terima kasih, bisakah kau membantuku kali ini?" Tanya Oliver terdesak.
"Ah. Dengan senang hati" Ucap Raka seraya tersenyum ramah.
Oliver lantas merasa bulu kuduknya berdiri tegang, 'Dia menyeramkan'
Raka kemudian melangkah dan mengeluarkan dua belati kecil dengan kilap merah dan biru dari balik jubahnya.
Ia tersenyum dan ...
Slash!!
Ia melangkahkan kakinya begitu cepat. Hanya bayangan dan jejaknya saja yang bisa dilacak. Ia seperti hantu! Menebas satu persatu monster di hadapannya tanpa keraguan.
Jubah hitam yang menutupi tubuhnya dipenuhi darah monster. Ekspresinya mendingin, begitu pun sorot matanya tajam tanpa perasaan.
Mata Oliver melebar.
Saat ini hatinya dipenuhi rasa kagum, 'Bukankah dia seumuran denganku? Tapi kenapa rasanya ada begitu jauh jarak antara aku dengannya ... sebetapa hebat dia? Bukankah itu artinya dia sudah setingkat dengan para Magician level 5?' Tanyanya dalam hati.
Raka berhenti. Ia mengelap sembirat darah yang mengenai wajahnya.
Ha ... haaa ...
Napasnya terdengar keras dan jelas.
Ia kemudian mundur dan duduk di samping Oliver yang masih berdiri dengan linglung.
"Apa kau tidak apa-apa? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan saat melihatmu bertarung." Ucapnya tulus.
"Benarkah? Itu wajar sih~" Ucap Raka percaya diri.
Sudut mulut Oliver berkedut, "Ugh. Aku menyesal mengatakannya." Ucapnya tersenyum kecut.
"Berhenti mengatakan atau memikirkan hal menjengkelkan seperti itu" tegas Raka. Ia kemudian menutup matanya dan membukanya, seraya menghembus pelan udara panas dari hidungnya.
"Kau tahu? Kau mengingatkanku pada seseorang yang tak sengaja kutemui" ujar Oliver.
"Oh?"
"Dia mirip sepertimu ... tapi kelihatannya dia tidak sesuram dirimu," ucap Oliver.
Raka merasa sebuah benda tajam menusuknya.
Kali ini sudut mulut Raka-lah yang berkedut, "Suram, huh!?" Ucapnya tersenyum 'ramah'.
Oliver yang tidak merasakan bahaya hanya mengangguk membenarkan pernyataan sepihak yang ia lontarkan.
__ADS_1
Sesaat kemudian punggungnya mendingin, sebuah tatapan tajam di arahkan padanya.
Plak!
"Ouch!" Oliver mengaduh.
Sementara Raka tidak peduli lagi.
"Hee kenapa kau memukulku huh!?"
"Oh? Bukankah kau mengatakan jika aku suram? Kalau begitu bisakah kau mengatakan padaku bagian mana dari diriku yang suram!?"
"Kuh! Tidak! Kau sama sekali tidak suram! Akulah yang suram!" Ucapnya panik seraya menjauh.
Raka hanya tersenyum Ramah.
"Sigh. Apa aku benar benar berubah huh?" Gumam Raka lirih.
"Hmm? Apa maksudmu itu?"
"Yah. Kurasa kau sama seperti dulu, aku bersyukur tidak ada satu pun dari sifat bodohmu yang menghilang, justru kurasa kau semakin bertambah bodoh" ucap Raka acuh.
"Gah! Apa maksudmu!" Seru Oliver tak terima.
Tapi dengan segera, ia terkesiap saat ucapan itu kembali terlintas, "Eh? Kau pernah bertemu denganku?" Tanya Oliver menyadari satu hal.
"Tunggu! Jangan bilang kau benar-benar pelayan itu!?" Seru Oliver heboh saat pertanyannya tak digubris Raka.
Raka hanya tersenyum seolah olah berkata: itu benar, lalu kenapa? Apa kau akan mengolok olokku karena aku bertambah suram?
Kali ini instingnya cukup untuk merasakannya, merinding. Dengan segera ia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kalau begitu, mengapa tempo hari aku tidak bertemu denganmu?" Tanya Oliver.
Raka bangkit dari duduknya, ia menghela napasnya kasar, "Sigh ... itu karena pelayan kecil itu sudah mati" Ucapnya seraya menatap langit mendung hanya dengan rembulan yang menyembul dari balik awan.
"Aku-"
"Yah. Awalnya aku ingin meminta maaf ... tapi kelihatannya aku berubah pikiran, kurasa menggigit kepalamu itu bukan hal yang buruk" ucap Oliver.
Mereka terdiam beberapa saat hingga kemudian tertawa bersama-sama.
Groarr..
Terdengar sebuah suara menyeramkan datang dari kedalaman hutan.
Kedua saling berpandangan sejenak, sebelum dengan cepat mengubah posisi keduanya, saling berpunggungan. Oliver dengan pedangnya, dan Raka dengan kedua belatinya.
Keduanya bersiap bertarung.
Sesaat kemudian, puluhan monster kembali mengepung mereka.
Keduanya menarik napasnya panjang, hanya dalam beberapa detik berlalu, keduanya mencapai harmoni dari seorang rekan.
Secara bersamaan mereka meluncur dengan cepat dan ...
Splash ...
Satu persatu kepala monster itu jatuh bergelimangan ke tanah. Setelah beberapa lama, suasana begitu mencekam.
Seekor monster besar muncul di hadapan keduanya, tanpa aba aba, mereka meluncur dengan dua arah berbeda, membentuk garis silang dan saling menebas.
Monster itu mengaum keras sebelum tubuhnya terbelah menjadi empat menyilang. Sebuah kerjasama yang hebat!
Auman monster itu mengundang banyak monster lainnya untuk bergabung, mereka berdua mundur dan menetapkan taktik.
"Kita harus cepat kembali! Paman dan bibi dalam masalah" teriak Raka yang kembali teringat tujuannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Menurutmu?"
"Tsk. Jangan bilang kalau ..." Oliver menggigit bibirnya geram.
Raka mengangguk.
"Aku akan membakar mereka, setelah itu kita kembali"
"Kita tidak bisa lebih cepat untuk kembali! Butuh waktu 2 hari untuk kembali ke istana."
"Oh? Lalu bagaimana kau datang ke sini dalam hitungan menit huh!?"
"Tsk. Pada awalnya aku membawa dua artefak teleportasi, satu untuk datang, satu untuk kembali, tapi sialnya mereka menggunakan artefak itu untuk pulang tanpaku"
"Kau menyedihkan dan bodoh"
"Aku tahu. Tapi ini bukan waktunya untuk mengejekku tau!" Protesnya seraya tersenyum pahit.
"Oh" Raka hanya menatapnya sederhana.
"Tsk."
"Tunggu! Bagaimana kau datang sebelumnya?"
"Jika kau datang dengan teleportasi, seharusnya kau membawa satu lagi kan? Tentunya jika kau tak bermaksud kabur dari kedua orang tuaku"
"Menurutmu? Kau boleh mmebandingkanku sewaktu waktu ... tapi jangan bandingkan isi otakku dengan isi otakmu, Oliver."
"Kuh! Kau ini"
"Aku datang dengan teleportasi ... tapi aku tidak membawa artefaknya" ucap Raka menjelaskan.
"Kau bodoh! Kalau begitu apa yang harus kita lakukan!?"
"Menurutmu? Apakah kau perlu memakai kuda jika kau bisa berlari dengan cepat?"
Mata Oliver berbinar-binar saat mendengarnya, "Tsk. Kau menyebalkan"
"Kalau kau ingin pulang serahkan peran ini padaku, setelahnya aku akan tidur dan kau harus menyelesaikan tugas terakhirmu" ucap Raka.
"Tentu. Kau kaptennya!" Ucap Oliver.
Oliver mundur selangkah dari tempatnya.
Sementara itu, Raka nampak mengubah arah berdirinya menyamping, ia mengangkat tangan kanannya.
“Rising Phoenix”
Kwaak!
Bersama lengkingan suara yang menakutkan itu, ledakan api biru terjadi di mana-mana.
Ribuan formasi dengan kilap biru berputar dan meledak dengan api biru membakar puluhan monster.
Monster monster itu meraung. Beberapa detik berikutnya wilayah itu mengering dengan sisa abu di mana-mana.
"Baiklah, biar kubereskan." Ucap Raka sejenak sembari menutup matanya erat.
“Dymension, Change”
Beberapa saat kemudian, sebuah piringan berputar di bawah keduanya,
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir jika kau bisa melakukannya, sihir dimensi" ucap Oliver linglung.
"Aku memilikinya, batasan untuk menggunakan sihir ini. Karena ini bukan skillku .... jadi persiapkan dirimu, pertunjukkan terakhir kau yang akan melakukannya sendiri." Ucap Raka tersenyum pahit.
__ADS_1
Oliver mengangguk dan berterima kasih.
...□□□...