
"Hei nak! Jika kau kesulitan maka kembalilah pada ibumu!"
"Ha ha ha"
"Ha ha ha"
Aku hanya diam menanggapi ucapan mereka. Bagaimana pun, tidak ada gunanya juga meladeni mereka.
"Ah! Tidak apa sih kalau mau ikut, tapi ingat! Jangan jadi beban di guild kami! Kau juga setuju kan, Barto?"
Barto, nama dari seorang pria di guild, dia yang mengobrol denganku malam itu. Tampaknya, dia adalah anggota terkuat di guild ini.
Siang harinya, kami tiba di batas luar dari hutan hitam Argaes.
'Jadi ini hutan perbatasan? Benar-benar sesuai dengan namanya huh? Hutan hitam, kabutnya benar-benar hitam dan tebal.'
Tepat saat itu, sebuah suara langkah berat terdengar mengejutkan kami.
"Semuanya! Berhati-hatilah!" Barto memberi aba-aba kepada rekannya. Kami lantas membentuk formasi.
Secara tak sadar tubuhku ditarik oleh tangan besar milik Barto, menarikku ke balik tubuh besarnya- melindungiku.
Aku terkejut, tapi ia hanya tersenyum menanggapi tatapanku.
"Dulu, saat aku masih kecil, di petualanganku yang pertama, aku dikorbankan oleh teamku. Dan itu menyakitkan di mana aku harus bertahan hidup sendiri dan pulang tanpa apa-apapun yang kumiliki. Kau tahu? Itu menyakitkan" Ucapnya.
Aku sedikit mengerti perasaannya, pada intinya, dia hanya tidak ingin hal yang sama terjadi padaku. Itu saja.
Aku menghela napasku lega.
Growl!
Sesosok bayangan besar muncul diantara kabut hitam. Seekor wild boar raksasa menghembuskan napasnya berat- mendengus.
Semua orang terkejut, mereka menggertakkan giginya dan merapatkan barisan mereka saat derap langkah semakin intens. Segerombolan babi hutan dengan ukuran yang lebih kecil dari babi sebelumnya muncul, mereka berjumlah ratusan.
"Tch! Sialan!"
"Apa aku akan mati!? Benar-benar sialan!"
__ADS_1
"K*parat! Bukankah ini sama saja bunuh diri!?"
Semua orang di guild nampak tertekan, mereka takut akan apa yang akan terjadi. Tanpa sadar, rasa tertekan dan takut itu berubah menjadi rasa panik.
Mereka bersumpah serapah, mengatakan hal-hal bodoh yang tidak diperlukan.
Aku kembali menghela napasku. Inu bukan pertama kalinya aku ada di situasi seperti ini. Orang-orang yang akan merasa panik dan kehilangan akal mereka tatkala dihadapkan situasi tak menguntungkan seperti ini. Secara tak langsung, mereka menyerah akan hidup mereka. Dan rela melakukan apapun agar bisa kembali hidup-hidup. Baik itu mengorbankan nyawa orang lain, membunuh rekan, dan lainnya.
Saat kabut ketakutan menyelimuti mereka, sebuah suara berat menyadarkan mereka. Pemilik suara itu adalah pria besar di belakangku, Barto.
"Semuanya tenanglah! Berhenti bicara yang tidak-tidak! Jika kita menyatukan kekuatan kita, kita pasti bisa mengalahkan mereka!"
"Ah, itu benar.. maaf!"
"Bagus! Semuanya kembali!"
"Jangan panik! Ingat tujuan kalian saat ini"
Sebuah suara berbisik, "saat kami menyerang, pergilah lari. Aku tidak tahu apa bisa melindungimu terus atau tidak"
Semuanya mengencangkan pertahanan mereka, bersiap untuk bertarung. Suara berat itu kembali memberi aba-aba. Meninggalkan punggung kecilku, melesat menghampiri segerombolan babi.
Semua orang menyerang secara bersamaan, saling melengkapi. Berusaha untuk hidup adalah tujuan mereka saat ini.
Ya, hanya diam tanpa berusaha lari ataupun kabur.
"Keugh!"
Seorang pria terdorong keras menembus rerimbunan pohon besar. Aku berlari menghampirinya, memberinya sebotol potion penyembuh. Ia terkejut menatap wajahku, bagaimanapun, mungkin semuanya lupa akan kehadiranku.
"Te-terimakasih!"
Aku mengangguk ringan. Dan pergi untuk memberikan potion lainnya kepada anggota lainnya yang tumbang.
"Kau! Pergilah" ucapnya.
Aku menghentikan langkahku saat menghampiri pria lainnya, "Kenapa?" Tanyaku mengejutkannya.
"Kenapa aku harus pergi? Bukankah kalian sudah sepakat mati bersama?" Ucapku seraya melanjutkan langkah.
"Ah, benar juga ... jika kau sudah bisa bergerak, bisakah kau merapat ke arah rekan yang lainnya? Itu memudahkanku" ucapku ringan.
__ADS_1
Satu persatu anggota guild terpukul mundur, mereka semua terluka. Tak peduli sebanyak apapun potion yang kuberikan, mereka tetap tidak bisa melanjutkan pertarungan.
Tak disadari, hanya tersisa Barto yang masih menyerang. Semuanya kelelahan, entah itu fisik atau mental mereka.
Segerombolan big boar itu menyerang dengan membabi buta.
Dash!
Tubuh besar itu terlempar, menembus kayu tebal sebuah pohon. Pohon itu tumbang, mengikuti tubuh besarnya yang limbung.
Segerombolan beast itu menghampiri tubuh Barto yang terjatuh. Barto berusaha bangkit saat sebuah panah menembus mata beast yang memburunya.
Beberapa rekan yang lainnya menghampirinya, Barto yang masih terkejut segera di papah pergi menjauh dari tempatnya terjatuh.
Kami bersembunyi, di balik sebuah pohon besar, aku memberinya sebotol potion lainnya. Ia kembali terkejut saat menyadari jika anak kecil yang ia kira sudah pergi justru muncul di hadapannya.
"Ka-kau! Kenapa kau ..." Ucapnya terbata bata.
"Hmm? Menurutmu? Jika aku tidak ada sudah dipastikan kalian akan mati bukan?"
"Bodoh! Kau ..."
Bam!
Seekor beast menyeruduk pohon besar dekat persembunyian kami, aku mengerutkan keningku heran.
"Sial!" Ucap Barto berusaha bangkit tapi segera dicegah oleh rekan lainnya.
"Ini sangat sulit"
"Ah, itu benar ... kapten, kami tahu anda sangat kuat, tapi tolong jangan paksakan diri anda."
"Apa kita akan benar-benar mati disini?"
"Tidak! Tidak akan ada dari kita yang mati!"
"Tapi kapten ..."
Drap. Drap. Drap.
Seekor beast menyadari keberadaan kami, ia lantas berlari menghampiri kami.
__ADS_1
Semuanya terkejut, dan dengan cepat mempersiapkan senjata mereka masing-masing, bersiap untuk bertarung.