The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 39.5


__ADS_3


Bab 39.5: Iblis


Zrrt!


Aku terkejut saat kejutan listrik menyengat mataku, perih.


Sepasang mata memandangku dari kegelapan.


Semuanya berubah. Kegelapan segera memenuhi sungai dan menelan bulan serta bintang gemintang di langit. Napasku tercekat saat aku berhadapan dengan dua mata yang benar benar menampakkan eksistensinya. Terus mengamati pertarungan Seolah olah dia mengendalikan boneka.


"Siapa, siapa kau!" Ucapku dengan napas yang tersekat.


Aku tidak dapat melihat apapun selain kedua mata dengan pantulan pertarungan di mata merahnya itu.


Tapi, saat ini, jantungku berdegup keras, bersamaan dengan senyum aneh yang bisa kurasakan.


'LARI JIKA KAU TIDAK INGIN MATI!'


Aku membuka mataku secara tiba-tiba. Teriakan semangat masih bergaung di depanku, jauh. Aku bangkit dari tempatku, mengalihkan pandangku jauh pada pasukanku.


Alice yang terkejut segera menghampiriku, mencoba mencegahku untuk bangkit.


"Semuanya! Pergi!" Ucapku terkejut.

__ADS_1


Pasukan Qrystial yang mendengarnya langsung menolehkan wajahnya dan bertanya tanya.


"Tuan muda, ini ..."


"Tch!" Aku mendecih.


'HMM?.. KETAHUAN?? MEMBOSANKAN!'


Pupil mataku menyusut saat objek terang menghampiri, tepat menuju ke arah pasukan. Aku meraih pangkal pedangku, bersiap untuk menebas.


Seolah olah berada ditengah rawa, tubuh mereka membeku dengan keringat dingin bercucuran.


Sepersekian detik berikutnya, bola itu tertebas dengan ledakan kuat dan kilatan cahaya cyan.


...□□□...


'TSK. MEMANG MENYEBALKAN! TAPI DIALAH PEMIMPIN KAMI!'


Raka mendaratkan tebasan pedangnya ke bola itu dengan tepat. Semua mata menatapnya dengan kagum, tapi tatapan itu terganti dengan tatapan khawatir. Ya! Raka memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.


Saat itu, sebuah suara bergema mengiringi kemunculan sosok pria dengan jubah hitam dari balik kegelapan.


"Fu fu fu fu ... ah, padahal aku sudah mengirimimu peringatan, adikku ... tapi tetap saja, kenapa kau bahkan repot repot menghancurkan bingkisan spesial dariku untuk para bawahanmu ini?? Padahal jika saat itu kau tidak menghancurkan bolanya kau bisa lari dariku, atau setidaknya kau masih bisa mati dengan perlawanan.." ucap pria itu dengan ekspresi meremehkan.


"Tuan muda, dia ..."

__ADS_1


"Diam!" Bentak Raka.


"Oh? Apakah kau masih ingin mempercepat kematianmu? Adik kecilku?"


"Tsk. Aku bertanya tanya apa yang menyebabkan kakak terbesarku ini turun dari singgasananya, apakah hanya karena anda merindukanku? Dan lagi, terimakasih atas hadiah yang menghancurkanku tadi." Ucap Raka sembari tersenyum menahan sakit.


"Cih. Kau sama saja seperti guru, Akara"


"Dan lagi, kelihatannya kau begitu menyukai hadiah dariku kan? Bagaimana jika aku memberimu lagi" Ucapnya sembari mengangkat tangannya. Sebuah bola api meluncur dengan cepat. Berbeda dari sebelumnya, bola api ini datang dengan ukuran yang berkali kali lipat lebih besar dibandingkan sebelumnya.


"Alice, bawa semua orang di benteng ini untuk pergi. Kita mundur" ucap Raka dingin.


"Tidak. Ini akan berbahaya bagi anda, tuan mu--" ucap Alice tersela.


"Pergi!" Ucap Raka penuh penekanan.


Alice terkejut, sembirat rasa takut mewarnai matanya. Ia menggigit bibirnya geram, menundukkan kepalanya dan memberi salam sebelum pergi dengan perasaan yang takut dan marah.


Sadar akan bahaya yang menghampiri pemimpin mereka, para pasukan bergetar, terbersit di mata mereka, amarah yang bergejolak.


Semua pasukan menggertakkan gigi. Tentunya mereka tak menyangka jika pada akhirnya mereka benar benar menjadi beban bagi pemimpin.


"Pemimpin! Cepatlah pergi! Jangan hiraukan kami! Bukankah anda berniat untuk menyeret kami dari neraka? Jika anda mati disini menurut anda siapa lagi yang akan menyeret kami hah!?" Ucap seorang panglima kepada Raka, Caesar.


Ucapannya itu mengejutkan Raka, sesaat kemudian ekspresinya berubah menjadi lebih tenang. Sebuah lengkungan manis menghias wajahnya yang pucat pasi.

__ADS_1


"Terimakasih, tuan Caesar." Ucapnya dengan senyum di wajahnya.


"Tapi tidak perlu" ucapnya seraya maju, menatap lurus ke arah fireball yang semakin mendekat.


__ADS_2