
Bab 84: Pria Yang Mendominasi
Sementara itu, seorang pria berambut biru keperakan bangkit dari duduknya, ia lantas melangkah menuju pintu ruang tersebut.
"Serkan, ayo pergi"
Seorang pria nampak membungkuk memberi penghormatan kepada pria yang berjalan. Sementara pria muda lainnya nampak berlari kecil mengikuti langkah tuannya, Serkan.
"Hamba memberi hormat kepada yang mulia Richard" Ucap pria berambut pirang, Louisse.
"Ah. Kau memiliki pertunjukan yang menakjubkan, kurasa tidak apa bagiku untuk bertemu dengan tuanmu bukan, yah ... aku menantikannya."
Louisse tersenyum ramah, "Sesuai arahan anda, Yang mulia"
...□□□...
Tap.
Aku melangkahkan kakiku, memasuki sebuah kedai makanan sederhana dengan pelanggan di mana-mana. Di belakangku, pria jangkung dengan rambut pirangnya yang panjang berjalan mengikutiku.
Tubuh tingginya sedikit membungkuk, mendekatkan mulutnya sedikit lebih dekat ke telingaku, "Pangeran, apa anda yakin dia benar-benar ada di sini?" Bisiknya.
Aku sedikit memalingkan wajahku, menatap sedikit wajahnya yang menanti jawabanku, "ya." Ujarku singkat.
"Tuan, tolong satu meja di lantai dua, penuh." Ucapku seraya menyerahkan dua buah koin emas pada seorang pria tua dengan topi di kepalanya.
Ia tersenyum sejenak, sebelum membalas dengan ramah permintaanku, "tentu, nak" ucapnya.
Setelahnya, kamu melangkahkan kaki, menaiki satu persatu anak tangga dari kayu yang sedikit berderit, namun masih kokoh untuk dipijak.
"Richardeon Alkiria, pemimpin termuda yang menjabat sebagai raja di sejarah Alkiria. Dia licik, seperti ular."
"Hanya dari matanya pun, orang-orang akan tahu seberapa angkuh dan tak berperasaannya dia."
"Pangeran ..."
Aku sedikit tersenyum, saat Louise mulai memanggilku ragu, "tapi, karena itulah aku memilihnya."
"Don't judge the book from the cover, right?"
__ADS_1
"Dia itu angkuh- atau lebih tepatnya ia dengan harga dirinya yang tinggi itu, tidak akan pernah membiarkannya salah atau pun rendah di mata orang lain."
"Jika begitu, kenapa anda yakin dia akan di sini, pangeran?" Tanya Louise.
"Tentu saja, dia penasaran denganku, dengan sifatnya itu, dia ingin sedikit mendominasi ku, kurasa." Ucapku.
Untuk sekejap, Louise sedikit membeku mendengar pernyataanku, "Tu-tunggu! Maksud anda ..." Ucapnya dengan wajah yang sedikit memerah.
Aku menatap 'pria dewasa' yang masih puber itu, "kau sudah dewasa ya, Louise." Ucapku.
"Ekhem! Sa-saya tidak berpikir demikian, pangeran!" Ucapnya sedikit berdalih dan menyembunyikan ekspresi malunya.
"Bukan yang seperti ini ... Tapi yang seperti itu. Hal-hal absurd itu cuma milikmu, cu-ma a-da di-pi-ki-ran-mu!" Pungkasku tajam.
"Uuurgh!"
"Kau seperti wanita bangsawan saja yang suka membaca novel romansa!" Keluhku.
"Maksud perkataanku adalah, dia- seorang pria- tentu saja- ingin menjadikanku seseorang yang bisa dia kendalikan. Seseorang yang bekerja di bawah perintahnya, begitu maksudku." Ucapku menghela napas.
"Aah! Saya rasa saya paham."
"Ya. Kamu harus paham setelah aku menghela napas puluhan kali, jika tidak aku akan segera menggorokmu" ucapku lelah.
"Ya, dia membangun reputasinya sendiri, bukankah dia mandiri? Dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak terlalu rendah atau pun tinggi untuk kugapai, begitulah."
"Jika begitu, apa untungnya jika kita memilikinya sebagai bagian rencana anda, pangeran?"
"Orang-orang sepertinya suka memandang rendah orang lain di bawahnya. Memandang tinggi dirinya, dan tidak akan memandang orang lain di luar lingkupnya. Sulit untuk menemukan orang yang memiliki kesetaraan dalam hal dominasi, tapi karena itulah, dia akan menganggap orang yang setara dengannya sebagai bagian dirinya." Ucapku tanpa sadar telah tiba di lantai atas.
"Yah, saya rasa bisa melihatnya,- dari anda ..." Ucap Louise lirih tanpa sadar kudengar samar.
"Ah, kelihatannya saya telah membuat anda menunggu cukup lama ya, yang mulia Richard" ucapku saat dua orang dengan penampilan yang familiar tampak dengan jelas saat sinar matahari menimpa sosoknya.
Dua orang itu secara serempak mengalihkan pandangnya pada kami.
Seorang anak di belakangnya tampak terkejut saat mata coklatnya menyapu ke arahku, Sementara pria itu- yang tak lain adalah Richard sedikit melengkungkan bibirnya.
"Ah. Anda terlalu berlebihan, tuan pemilik Black Gold" ucapnya seraya bangkit dari tempatnya.
Aku sedikit terkejut saat ia memanggilku, tapi dengan cepat aku kembali menenangkan diriku sendiri, "Ah ha ha. Anda benar-benar hebat, hanya sekilas saja anda bisa mengetahuinya ya? Saya Azalea, seorang yang bertanggung jawab atas Black Gold trading Group, senang bertemu dengan anda, yang mulia Richard. Dan, bisakah saya bergabung dengan anda saat ini?" Tanyaku sopan.
__ADS_1
"Ha ha ha, anda pasti bercanda. Bisakah saya menjadi lebih tidak sopan lagi jika anda berkata begitu?" Ucapnya ringan dibalas senyum sederhana olehku.
Aku mendudukkan tubuhku dengan tenang. Di hadapanku nampak Richard masih dengan senyum yang mengembang.
Sementara Louisse dan anak itu berdiri di sisi tuan mereka masing-masing.
Ia kembali menyesap teh dari cangkir di tangannya, "Ah, kelihatannya anda cukup menarik perhatianku, tuan Azalea. Apalagi jika menilainya dari usia anda." Ucapnya seraya melirikku.
Aku hanya bisa tersenyum pahit saat usiaku lagi-lagi disinggung.
Kali ini, aku kembali menatap pria di hadapanku tajam, "Ha ha, seperti kata pepatah bukan? Jangan menilai isi dari sampulnya" ucapku renyah.
Kurasa dia merasakan perubahan tatapan dariku, "Yah. Anda memiliki mata yang indah, tuan Azalea" ucapnya saat mata kami saling bertemu.
"Ah. Terima kasih" ucapku tertawa kecil.
Beralih dari pria angkuh di hadapanku yang tampak tenang seolah-olah tak tergoyahkan, pemuda di belakangnya justru sebaliknya. Ia tampak sedikit gugup dan dari matanya saja aku dapat melihatnya, pertanyaan-pertanyaan yang akan ia lontarkan saat membuka mulutnya. Aku sedikit memiringkan kepalaku, melirik seseorang yang tak bersuara di belakangku, Louisse hanya tersenyum tenang seperti tidak ada apa-apa.
‘yah, dalam hal ini, pengalaman memainkan peran cukup penting, kurasa’
Aku berdehem lirih, "Ah. Baiklah, cukup basa-basinya. aku bukan tipe orang yang suka basa-basi, kurasa anda juga begitu bukan? Yang mulia Richard ?" Ucapnya sederhana.
Pria itu- Richard hanya tersenyum.
"Yah, aku hanya mengikuti keinginan tamuku" ucapnya tak kalah angkuh.
Sementara aku balik tersenyum membalas senyum 'ramah' Richard.
Aku menghela napasku sejenak untuk sekedar menyiapkan diri, "Baiklah, kita mulai saja kesepakatannya, dan juga ... tidak ada ketentuan kau hanya boleh membawa satu asisten kok" ucapku seraya melirik kecil pada jendela dengan sinar mataharinya yang pekat.
Dari ekspresinya yang tampak lebih serius itu, aku mengerti bahwa deduksiku benar. Faktanya, meskipun kelihatannya kami hanya berempat, pada kenyataannya, ada seseorang yang bersembunyi di balik pekatnya sinar matahari.
Kurasa, aku tahu kenapa dia bahkan repot-repot datang lebih awal untuk memilih tempat. Tanpa hal itu pun, pada dasarnya ia sudah bisa bersembunyi tanpa diketahui oleh siapa pun. Ditambah, dengan sinar matahari dari jendela akan menghalangi penglihatan orang normal pada umumnya.
Pemuda itu nampak terkejut sesaat,
Ekspresi Richard meredup. Senyumnya kini mulai menghilang, berganti dengan ekspresi seriusnya.
"Oh? Anda melihatnya?" Ucapnya dingin.
Aku menyeruput sedikit Teh di hadapanku. Dengan tenang, melengkungkan bibirku tersenyum.
__ADS_1
"Aku hanya berpikir sedikit mencurigakan untuk melihat anda hanya berdua dengan asisten anda, yang mulia ... anda adalah orang yang bergerak di bidang bisnis, dan tentunya sikap kehati-hatian anda pasti sangatlah tinggi, bagaimanapun ... anda tidak sendirian di sana"
"Ditambah, siapa orang yang tidak akan curiga jika orang yang saat pelelangan datang terlambat, tapi saat akan bertemu untuk kesepakatan justru datang lebih awal? Anda memilih spot duduk yang tepat, yang mulia. Dengan adanya sinar matahari itu, akan menghalangiku untuk melihat ke arahnya, kan?" Ucapku menduga.