
Bab 50: Tak Seorang Pun
Alpha College, High Continent, 25/04
"Raka. Apa kau benar benar harus pergi sekarang? Cederamu itu ..." Ucap Rudolf khawatir.
Aku tersenyum simpul. "Ya, aku harus pergi sekarang" ucapku tenang.
"Jika begitu ... kemana kau akan pergi?" Tanya Oscar.
Aku menggeleng pelan. "Yah, kemana pun itu ... tidak akan ada apa apa yang terjadi padaku kok, tenang saja" ucapku menghibur mereka.
"Baiklah. Tapi janji! Kau harus kembali, oke!?" Seru Ava tak kalah.
"Baik. Senior" ucapku lembut.
Untuk beberapa saat, kami berbincang bincang. Tidak banyak, hanya beberapa kejadian yang kami lalui. Terutama saat pertama kali kedatanganku ke sini.
Hari ini, tepat sebulan setelah perang Qrystial pecah. Dan sekitar tiga minggu setelah wafatnya master. Alpha College masih dalam suasana berkabung, begitu pun aku dan ghost monarchy.
"Tuan muda, mari" ucap seorang pria paruh baya memanggilku. Aku tersenyum menanggapinya.
Aku berjalan mengikutinya, menuruni pegunungan tempat Alpha College berada. Itu membuatku sedikit bernostalgia. Entah mengapa tempat ini terasa sangat berkesan bagiku.
Pegunungan Alpha College, tempat dimana aku untuk pertama kalinya menjalani pembelajaranku sebagai salah satu murid alpha College. Di tempat ini pula, aku bertarung dengan master, dengan kekalahanku sebagai hasilnya.
Itu memakan sedikit waktu, saat kami tiba di bawah pegunungan. Matahari cukup tinggi saat kami tiba di bawah. Pepohonan menjadi lebih jarang dan udara serta kabut yang menghilang.
"Yah, siapa sangka jika aku hanya butuh satu jam untuk turun?" Gumamku pelan seraya kembali mengingat saat untuk pertama kalinya aku menuruni gunung. Saat itu, tubuhku yang lemah tak mampu menahan rasa lelah dan akhirnya finish setengah hari kemudian. Ini menunjukkan sebetapa jauhnya aku berkembang.
"Tuan muda, saya hanya akan mengantar anda sampai sini. Turunlah ke kota dan temui seorang pria bernama tuan Judith. Dia yang akan mengantar anda kesana" ucap pria paruh baya itu sebelum pergi.
Aku mengangguk pelan.
...□□□...
Tap tap
Aku melangkahkah kakiku ringan, menyelinap di antara kerumunan manusia yang lalu lalang. Sesekali aku menghentikan langkahku saat angin yang berhembus meniup tudungku.
"Kota Tartine ya ... baiklah, sebelum aku menemuinya, kurasa ada baiknya jika aku mengantar ini ke guild petualang, kan?" Ucapku pada diri sendiri.
"Selamat datang, apa ada yang bisa kami bantu?" Ucap seorang wanita berpakaian rapih menyambutku.
"Ummm ... maaf, tapi bisakah aku bertemu dengan Party 'Kingdom?' " ucapku lugu.
"Eh? Maaf, tapi ..."
"Yah, tidak apa. Aku hanya seorang kurir, jadi katakan saja begini, Tidak ada yang ingin bertemu" ucapku.
Wanita itu nampak sedikit bingung, sebelum akhirnya pergi.
__ADS_1
Kingdom, adalah nama dari sekelompok tentara bayaran yang kubentuk. Bisa dibilang anggota mereka adalah orang orang yang dilatih oleh Barto, si mantan tentara bayaran. Jika ditanya alasannya, apakah kau percaya jika aku hanya iseng?
Bisa dibilang tugas mereka adalah mengawasi lingkaran para petualang. Bagaimana pun, senjata terbaik dalam peperangan adalah informasi, kan?
Dan, bisa dibilang lingkaran para petualang adalah lingkaran yang sarat akan informasi. Baik itu hanya rumor atau fakta, semuanya bisa ditemukan di guild petualang.
"Ah. Anda benar benar disini, Tuan Tidak Ada?" Ucap seorang pria dewasa dengan pedang besar di punggungnya. Di belakangnya, sekelompok orang lainnya turut muncul.
"Benar benar menjadi barbar, huh?" Ucapku menggoda.
"Berisik" balasnya singkat.
"Ha ha. Baiklah, bagaimana kabar kalian?" Tanyaku sederhana
"Menurut anda? Selain berpetualang apalagi yang kami lakukan? Jadi, langsung saja ke intinya ... saya kira anda juga berpikir begitu hmm?" Ucapnya tersenyum masam.
Aku menjentikkan jariku, "wah, kau semakin pintar ya, paman!" Ucapku kocak.
Ia hanya membuat suara tawa pelan saat mendengar ucapanku. "Yah, siapa yang menyuruh saya untuk berpikir keras bahkan dengan memakai kode 'Tidak ada yang ingin bertemu' apa apaan itu!?" Gerutunya.
"Aiyooo ... ayolah, bukankah menurutmu justru itu tidak akan dicurigai? Apa lagi aku hanya anak kecil kan, paman? ha ha!" Ucapku santai seraya menyodorkan sebuah amplop ke arahnya.
"Ha ha .. anak kecil yang membawahi 5 pemimpin hebat dengan masing masing sepuluh kelompok di dalamnya, bisakah itu disebut anak kecil? Kemana tujuan anda sebenarnya!?" Ucapnya mengerutkan kening.
"Tidak jauh tapi juga tidak dekat, hanya perlu bertemu paman. Itu saja" ucapku tenang.
"Begitu ... baiklah" ucapnya pasrah menerima surat itu.
"Eh? Apa anda benar benar akan pergi?" Ucapnya sebelumku pergi.
Aku mengangguk pelan, "itu benar. Sampaikan salamku pada semuanya" ucapku sebelum menapakkan kakiku keluar dari bangunan guild tersebut.
...□□□...
Aku melangkah ringan melewati kerumunan orang orang yang lalu lalang. Seorang pria dewasa dengan setelan formal sederhana menarik perhatianku.
'Logo itu ...' Gumamku dalam hati saat melihat sebuah bross berlambangkan Alpha College di jasnya.
"Maaf, apakah anda Senior Judith?" Tanyaku penasaran pada pria itu.
Ia memandangku sekilas sebelum menjawab pertanyaanku, "Itu benar. Aku Judith!"
Untuk beberapa saat keadaan menjadi sedikit hening. Hingga sebuah suara memecah keheningan.
"Hei Ian! Kemana saja kau huh!?" Ucap senior Judith kepada seorang pria berambut coklat gelap panjang.
"Berisik! Apa menurutmu aku itu dirimu yang tidak punya pekerjaan!?" Protesnya. Ia nampak sedikit tertegun saat matanya menyapu ke arahku. Aku tersenyum.
"Bertemu Senior" ucapku lirih.
"Oh? Baiklah. Aku Ian, kurasa kau sudah mendengarnya. Karena sudah lengkap, maka kita akan pergi sekarang" ucap senior Ian tenang.
"Oi oi oi! Apa yang kau bilang? Bukankah junior kita belum sampai?" Ucap Judith tak peduli.
__ADS_1
"Eh!?" Ucapku bebarengan dengan senior Ian.
"Kenapa?" Tanyanya acuh.
Bam!
Sebuah tendangan dengan kekuatan penuh mendarat tepat di tubuh sebelah kiri Judith.
"Ayo kita pergi. Abaikan orang bodoh itu" ucap senior Ian seraya merangkulku.
"Oi! Tunggu! Kenapa kau menendangku sih!?" Ucapnya seraya mengelus punggungnya sakit.
"Kau masih tak menyadarinya, huh? Kau mau menunggu siapa lagi memangnya?" Tanya Ian geram.
"Uugh ... kau kasar sekaliii Ian" ucapnya seraya masih mengelus punggungnya seperti seorang pria tua.
"Raka, kelihatannya aku sedikit merepotkanmu. Bisakah kau memperkenalkan dirimu di hadapannya? Dengan cara Alpha College tentunya" ucap Senior Ian padaku.
"Eh? Seriusan?" Tanyaku sederhana.
Aku memejamkan mataku sejenak, dan mengangkat tangan kananku di hadapannya.
'Arise'
Gumamku pelan. Seberkas sinar berpendar dari telapak tanganku. Menampilkan cahaya hologram berbentuk logo yang menyerupai Wyvern.
"Alpha College. Raka Azalea bertemu dengan para senior. Successor of first master." Ucapku tenang.
Ekspresi keterkejutan membayangi wajah senior Judith. "A apa? Kau ..." ucapnya menjadi lebih terkejut.
"Yah, kukira anda sudah mengenaliku tadi!" Ucapku seraya tertawa kecil.
"Kau tidak salah ... siapa pun akan tahu saat melihat bross itu, tapi dia tidak" ucap Senior Ian menengahi.
"Hah ... baiklah, karena sudah siap semua ... maka kita akan segera pergi ke Clover Kingdom."
Itu benar. Tujuanku saat ini, adalah ke negara persatuan Clover. Salah satu dari empat mata iblis, mata keberuntungan.
"Ngomong omong soal misi, bisakah kita melihatnya? Bagaimana pun ... kita juga harus mengaturnya, strategi" ucap Ian di sela sela perjalanan.
Aku mengangguk, dan segera mengambil sebuah gulungan perkamen dan membukanya. Di dalamnya, segera muncul tulisan.
...25/03 ...
...The Successor of Apostle Death God menuntaskan tes pertamanya. ...
...Atas keputusan dari para penatua, ...
...Satu bulan dari tanggal yang dicantumkan, Murid akan pergi ke benua cermin. ...
...Misi: ...
...Blessing Of Immortality....
__ADS_1