
Bab 77: Masalah ‘Kecil’ (?)
Malam tiba.
Tap. Tap.
Aku melangkahkan kakiku kembali selepas makan malam.
Suasana istana itu memang ramai, tapi di saat saat seperti ini, istana ini akan jadi begitu hening.
Aku menghentikan langkahku sejenak, saat sebuah hawa yang kukenal merayap menghampiriku, dari gelapnya bayang-bayang malam yang sunyi.
Aku menoleh pada sebuah ruang kosong di bawah naungan pohon besar di taman, "Keluarlah" ucapku memanggilnya.
Sebuah siluet hitam muncul dari balik bayang, "Hormat kepada yang mulia" ucapnya padaku.
Aku mengangguk, "Katakan" ujarku saat keberadaan lain mulai mencuat.
"Ah. Semuanya berjalan sesuai rencana anda, yang mulia ... para bandit itu telah dihapus." ucapnya
"Oh." Aku menjawab singkat. Memalingkan wajahku acuh
Aku mengernyitkan dahiku pada hawa lain yang mulai mencuat. Seolah sengaja ingin menarik perhatianku, "Kembali" ucapku.
"Sesuai perintah yang mulia" ucapnya sebelum menghilang.
Sigh. Aku menghela napasku.
Slap!
Sebuah retakan yang cukup besar muncul dari bawah tempatku mengayunkan kaki, itu sebuah tendangan yang 'ringan' untuk menghancurkannya, dinding.
"Katakan maksud anda, tuan Qin" ucapku menarik kembali kakiku.
Pria itu keluar dan nampak terkejut sesaat.
"Fu fu fu ... anda benar benar tak terduga, yang mulia pangeran Arcnight, tidak- haruskah saya memanggil anda tuan Akara?" ucap Kepala pelayan Qin dengan hormat kemudian.
Sigh. Aku menarik napasku dan menghembuskannya kembali dengan kasar, sedikit mendengus acuh.
"Sigh ... anda benar benar berbeda dengan rumor, kurasa." Ucap Qin dengan menghela napasnya.
"Kau belum menjawabku, Tuan Qin" tegasku selangkah kemudian.
"Baiklah. Aku yang sudah tua ini mengalah"
Mendengar eluhannya, aku hanya mengangguk mendengarkan.
Ekspresi santai dan tenang di wajah tua itu perlahan memudar. Berganti dengan ekspresi serius dan tegas, "Seharusnya anda sudah tahu masalahnya bukan?" Ucap Qin dengan serius.
__ADS_1
"Ini soal Yang mulia Oliver"
Aku tertegun sejenak, sebelum dengan acuh berbalik pergi.
"Akan kupikirkan"
"Ah. Anda terlalu baik, Terima kasih."
"Tapi kenapa harus aku?" Tanyaku sejurus kemudian.
"Yah. Kurasa jika itu anda, anda bukan orang yang akan menutup mata dari segala yang anda ketahui" ucapnya sederhana.
"Sigh. Merepotkan" ucapku berlalu.
...□□□...
Beberapa saat kemudian, di ruang kerja tempat Albert dan Queensha.
"Yang mulia! Anda kedatangan Count Rietch, Klied, Struitch, serta Marquiss Glad datang menemui anda" Ucap Tryan dengan panik, masih dengan nafas yang terengah-engah.
Albert menutup buku catatan di tangannya, ia sedikit mengernyit, "Hnn? Itu cukup mengejutkan bahwa rubah itu mendatangiku malam-malam. Apa yang terjadi, kau tahu itu kan, Tryan?" Tanya Albert tajam.
"I-itu ... Yang mulia pangeran, dia ..."
Tryan menceritakan segalanya, mengenai tujuan dari para 'tamu' itu. Dalam sekejap, wajahnya menggelap penuh dengan emosi.
Beberapa jam sebelumnya, di kedalaman hutan hitam. Itu adalah malam yang gelap tanpa bintang gemintang di atasnya, bahkan meski itu adalah sinar penuh dari sang rembulan. Pepohonan besar dan tinggi dengan rerantingan yang bercabang ke segala arah menghalangi sinar rembulan.
"Glad, apa kau yakin jika ini arah yang benar?" Tanya Oliver.
"Hmm, begitukah? Tapi entah kenapa aku merasa ini tidak benar. Ini sangat tenang untuk ukuran sebuah hutan hitam penuh binatang beast." Gumam salah seorang lainnya.
"Sigh. Kurasa cukup, aku tidak mau ada yang terjadi dengan kita. Jika itu lebih dalam lagi akan berbahaya,"
"Eh? A apa maksud yang mulia? Pedang ini adalah pedang Phthartic yang bisa menarik aura jahat! Jika kita bisa mendapatkannya, kerajaan kita tidak perlu takut iblis lagi bukan?" Tanya Struitch.
"Hmm? Apa maksudmu? Jika memang pedang itu bisa menyerap aura, maka pasti hutan ini tidak akan disebut sebagai hutan hitam bukan? Lagipula jika memang benar jika pedang ini bisa melindungi kerajaan dari iblis maka pedang ini sudah diburu sejak berabad-abad yang lalu, tidak hanya oleh manusia tapi bahkan mungkin iblis itu sendiri." Ucap Oliver menyakinkan
"Ta-tapi! Alasan kenapa pedang ini tidak diburu pasti karena petanya baru ditemukan Glad kan? Bukan begitu Glad?"
"Yah, itu memang benar, tapi kurasa apa yang dikatakan yang mulia ada benarnya ... pasti ada resiko dalam memakainya, atau bahkan mungkin pedang itu memang tidak ada." Ucapnya
"""E-eh?""" Ucap mereka bertiga heran.
Oliver mengangguk dan kemudian mulai melangkah kembali.
Tapi sebelum itu, tanpa disadarinya, sebuah senyum jahat terpampang di wajah Glad.
'Yah. Aku tak menyangka jika kau bisa begitu pintar, tapi tetap saja.. kau tidak berguna' gumamnya dalam hati.
Sesaat kemudian, ia melempar sebuah bola seukuran tenis ke arah semak belukar.
__ADS_1
Oliver menyadarinya.
"Glad. Apa yang kau lempar!?" Tanyanya marah.
"Bagaimanapun di sini adalah hutan hitam yang tidak diketahui apa apa didalamnya. Akan sangat berbahaya jika bertindak gegabah!" Ucapnya tajam seraya mengernyitkan dahinya.
"Menurutmu? Yang mulia?" Tanya Glad dengan ekspresi liciknya.
Boom!
Bola itu meledak dan menimbulkan suara yang mengacaukan hutan.
Seketika ratusan pasang mata menatap mereka dengan ganas.
Oliver terkejut dan menarik pedangnya dengan cepat, mengambil langkah bertarung.
"Glad! Rietch! Struitch! Kleid! Lupakan omong kosong tadi! Cepat bertahan!" Seru Oliver.
Matanya melebar saat melirikkan pandangnya ke arah belakang,
"Kalian ..."
"Tsk."
Oliver bertarung dengan amarah yang membuncah dalam dirinya.
Sementara keempat temannya pergi menggunakan artefak teleportasi.
...□□□...
"Yang mulia! Apa anda bisa menjelaskan apa yang dilakukan yang mulia pangeran!?" Ucap Count Rietch dengan geram.
"Hu hu hu ... Waldo ku sayang ..." ucap seorang wanita, dia adalah Countess Rietch.
"Apa maksud anda Countess Rietch! Apa kau bermaksud menuduh pangeran, huh!?" Ucap Queensha geram.
"Hiks ... hiks ... yang mulia Ratu ... sa saya mohon ampun! Ssa-saya .. saya tidak bermaksud demikian, saya .. saya hanya mempertanyakan tindakan anda tentang putra anda! Nyawa putraku itu tidak berharga bagi anda, bagaimanapun dia hanya bangsawan kecil, tapi bagiku, dia adalah segalanya, yang mulia!" Tegas Countess Rietch.
"Cukup! Emilia! Panggil yang mulia pangeran kemari! Apa benar dia sedang pergi ke hutan hitam!?" Tegas Albert.
"Albert!" Teriak Queensha tak digubris oleh suaminya.
Ia pun memalingkan wajahnya kesal.
Tak selang lama, Maid itu kembali dan melaporkan bahwa Oliver tidak ada dikamar.
Pupil mata Queensha menyusut.
Sementara keempat bangsawan itu nampak tersenyum puas.
"Yang mulia, izinkan hamba berkata ... hamba sama sekali tidak peduli jika Theo terluka, tapi menurut anda apa yang akan terjadi jika yang mulia pangeran terluka? Yang pasti kematian putra marquiss sama sekali tak bisa dibandingkan dengan kematian yang mulia pangeran ..." Ucap Marquiss Glad dengan licik.
__ADS_1
Sementara Albert nampak menggelap.
...□□□...