The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 9


__ADS_3


Bab 9: Pelatihan Dimulai! [II]


Plop!


Sepasang belenggu melingkari kedua tangan dan kakiku. Itu juga terjadi pada semua senior, meskipun begitu mereka terlihat lebih besar dan berat dibandingkan milikku.


"Hmm? Ada apa? Kenapa kelihatannya milik senior terlihat lebih kuat?" Tanyaku polos.


"Ah, benar juga.. kami belum memberitahumu ya. Belenggu ini sebenarnya terbuat dari batu anti mana. Yang ada di tangan dan di kakimu itu, batu ukuran aslinya. Sedangkan batu yang kau lihat pada kami, itu adalah batu yang sudah dipengaruhi mana milik kami. Semakin besar mana yang dimiliki seseorang, semakin besar pula ukuran dan berat batu itu." Ucap seorang remaja laki-laki dengan rambut hitam panjangnya yang dikuncir.


"Eh!? Jadi milikku yang teringan!?" Seruku tak percaya.


Mereka semua mengangguk menanggapi ucapanku. Sementara pipiku memanas malu saat menyadari sebetapa lemahnya aku dibandingkan dengan senior-senior semuanya.


"Tunggu apa lagi hah!? Apa kalian ingin aku yang menggiring kalian!? Cepat lari atau ku gandakan waktu latihan kalian!?" Seru kak Shana penuh tenaga.


Semuanya segera berlari. Tak terkecuali aku.


Aku melangkahkan kakiku, menembus rerumputan dan alang-alang kering yang menemani perjalanan kami. Pepohonan besar dan tinggi menjulang menghalangi sinar matahari yang seharusnya menerpa kami.

__ADS_1


Saat ini, aku adalah yang terlemah diantara mereka, dan aku juga yang paling belakang diantara mereka.


Aku berhenti mengayunkan kakiku, Sepintas ingatan bermunculan di kepalaku. Aku mengelap keringatku, dan menutup mataku sejenak. Menarik ulur napas yang semakin memburuku. Saat ini, tubuhku mencapai batasku. Tapi tidak dengan semangatku. Entah kenapa, aku merasa penuh dengan semangat di latihan pagi yang seharusnga menyesakkan dada.


"Nonius! Tunggu aku heh!?" Sebuah suara menghentikan langkah kakiku.


Aku menghela napasku, dan mengrlap sedikit keringat panas yang bercucuran membasahi dahiku.


Aku menoleh ke arah seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata amethyst yang menawan. Ia membungkuk kehabisan napas, rambut hitam yang dikuncirnya berkibar dipermainkan angin lewat. Ia menatapku jenuh.


Aku tersenyum menatapnya yang kelelahan.


Tawaku semakin lepas saat gadis itu menggerutu di hadapanku.


"Hmph! Lagi pula kenapa sih harus kamu yang dampingin!?" Gerutunya kesal seraya berjalan menghampiriku.


Dia berjalan melewatiku seolah olah tak peduli. Tanganku bergerak, meraih rambut hitam panjangnya yang terikat dan menariknya secara tiba-tiba.


"Ack! Sial!" Dia berbalik marah saat aku berhasil menarik rambutnya.


Sementara aku hanya tertawa tak peduli. Dia semakin menggerutu seraya merapihkan kembali rambutnya yang ku acak-acak.

__ADS_1


"Hmph! Aku tidak mau berteman lagi denganmu!"


"Oh? Benarkah?"


"Tentu saja!"


Ia kembali berlari kecil menjauh dariku. Wajahnya nampak memerah, entah itu malu atau itu marah, aku tidak bisa mengerti perasaan gadis ini- tak peduli bagaimana dan seperti apa. Aku hanya bisa tersenyum. Setelah beberapa saat kemudian, ia berhenti sejenak.


Menolehkan wajah cantiknya yang memerah dan mengarahkan mata amethystnya kepadaku yang masih tersenyum. Mata kami berpandangan. Hingga kemudian, pipinya semakin memerah dan berbalik dengan cepat kembali menjauh dari pandangku. Aku menghela napas saat melihat punggung kecilnya semakin menjauh dariku.


...


Aku berlari dan terus berlari. Menerjang dedaunan dan berlomba dengan angin panas bulan Juni. Aku menarik ulur napas panasku.


Langkahku terhenti, memandang kosong ke arah bayangan-bayangan itu pergi. Ya, aku tertinggal sangat sangat jauh dibanding mereka.


Tes.


Keringat mengucur dari tubuhku, beberapa dari mereka jatuh dan membasahi belenggu panas dan berat di tangan dan kakiku. Satu, dua, tiga tarikan napas aku kembali berpacu dengan kecepatanku sendiri. Sesekali mendongak melihat langit biru musim panas.


Aku, aku pasti akan kembali!

__ADS_1


__ADS_2