
Bab 44: Pertempuran Kawan Lama
Raka masih terlelap dalam mimpinya, sementara pertarungan di dunia luar masih terus berlangsung.
"Evangelion. Apa kau pikir bisa merebut muridku dengan mudah, huh?" Ucap Yama membuka percakapan.
"Tsk. Menurutmu? Jika aku bisa mengambil satu, maka seharusnya aku bisa mengambil untuk yang kedua bukan? Kawan lama?"
"Ah. Itu benar, yang pertama sudah kuanggap kesalahanku, yang kedua adalah kekuatanku, dan yang ketiga adalah keajaibanku bukan?"
Yama menarik napasnya panjang, perlahan lahan, ekspresi santainya mulai sirna, berganti menjadi ekspresi marah,"Kau mungkin tak tahu, tapi dia istimewa, Evangelion. Dan kau tak akan bisa meraihnya, sedikit pun " Ucap Yama berganti serius.
Evangelion hanya tersenyum licik, tanpa ragu berkata, "Jika aku tidak bisa maka kau juga tidak bisa, Yama" Evangelion mengancamnya.
"Oh? Jika begitu apa kau bisa menerangkan atas tindakanmu selama ini? Merebut muridku huh?"
Evangelion terkesiap. Ia benar benar panik saat mendengar jawaban dari Yama.
__ADS_1
"Kurasa kau harus mengganti ucapanmu sebelumnya, apa yang bisa Yama miliki, tak bisa kumiliki maka aku harus merebutnya"
Evangelion bergetar menahan amarahnya. Ia kemudian meluncur dan menyerang Yama secara tiba-tiba.
Pukulan, tendangan, silih berganti antara Evangelion dan Yama.
Mereka benar benar cepat hingga tak satu pun di antara mereka yang dapat menangkap gerakan mereka. Formasi dan serangan sihir pun terus dilancarkan keduanya, saking cepatnya, efek sihir dan formasi tidak bisa dibedakan siapa yang melancarkannya. Medan pertempuran mereka benar benar hancur berantakan.
Tak ada satu pun dari para prajurit yang berani turut masuk dalam pertarungan itu, bahkan sepatah kata pun tidak dapat mereka utarakan. Mereka hanya dapat menonton dan mengagumi pertarungan hebat itu. Sementara Raka, ia masih tak sadarkan diri dan terlelap dalam mimpinya.
Setelah beberapa lama bertarung, mereka kemudian mundur dan berhenti sejenak. Nampak keadaan Evangelion yang babak belur penuh dengan luka. Sedangkan Yama hanya nampak kelelahan dan mengelap keringatnya beberapa kali.
"Oh? Apa kau kelelahan Evangelion??" Ucap Yama tersenyum 'ramah'. Sementara Evangelion hanya mendecih menanggapi ejekan Yama.
Bagaimana pun, ini bukan pertama kali baginya bertarung dengan Yama. Baginya, Yama adalah musuh sekaligus rival yang harus ia kalahkan.
Sesaat kemudian, nampak 10 bayangan putih muncul dan mendarat di samping Evangelion. Mereka adalah para bawahan Evangelion, beberapa dari mereka adalah mantan murid Yama yang membelot darinya.
Yama menggigit bibirnya kesal, di antara mereka adalah orang orang yang sempat ia percayai, dan sekarang ia harus melawannya sebagai seorang musuh.
__ADS_1
"A ha ha, Yama! Aku ingin lihat bagaimana kau mengingkari janjimu sendiri! Sebagai seorang guru, kau memiliki janji untuk tidak menyakiti muridmu, apa pun yang mereka lakukan bukan? itu yang kau katakan padaku saat itu"
Yama hanya terdiam. Sementara tiga dari mereka maju dengan cepat mendatangi Yama.
Pertarungan kembali terjadi, kali ini tiga orang melawan satu orang. Tentu jika dia adalah orang biasa maka dia akan kewalahan mengahadapi musuh musuhnya sekaligus. Tapi tidak bagi Yama, serangan seperti ini sama sekali tidak berefek besar baginya.
Dia terus bertahan untuk tidak menyerang dan melukai mantan murid muridnya, bagaimana pun ia sudah berjanji pada masing masing dari orang tua mereka yang telah wafat.
Ingatan Yama melayang ke saat saat pertama ia bertemu dengan Raka. Bagaimana ia bertemu dengan seorang budak kecik yang sekarat. Tentang bagaimana ekspresi yang terlukis di wajah mungil Raka.
Tentang bagaimana perasaannya saat ia dipanggil dengan sebutan guru oleh murid kecilnya itu. Di mata Yama yang sudah memiliki banyak murid sebelumnya, perasaan ini memang bukanlah hal yang baru baginya. Tapi tetap saja, pertemuannya dengan Raka justru menimbulkan kesan tertentu.
Dia bukanlah muridnya yang terkecil ataupun yang terbesar. Dia juga bukan muridnya yang terjenius atau pun terbodoh. Dia juga bukanlah murid yang terkuat atau terlemah miliknya. Atau bahkan murid tersopan atau termenyebalkan baginya. Baginya, Raka adalah murid yang biasa biasa saja. Tidak ada hal yang terlalu berarti atau khusus mengenai dirinya.
Tapi, perasaan yang tumbuh selama ia menjadi gurunya adalah yang terkuat.
'Anak ini adalah muridku yang berharga. Tidak ada kelebihan yang berarti darinya.'
'Tapi bukan berarti ia tak memilikinya. Satu satunya kelebihan darinya adalah, perasaan saling memiliki yang ia miliki'
__ADS_1