The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 18


__ADS_3

Bab 18: Menjadi Kuat


Saat ini, 9/4, High Continent.


"Kakak pertama!" Sebuah suara ringan dan tenang memanggil.


Seorang remaja dengan rambut coklat gelap yang panjang dikuncir nampak melesat dengan cepat menghampiri seekor beast singa raksasa yang nampak tengah menggeram.


"Kakak kedua!" Ucapnya kembali memerintah.


Kali ini langsung disambut suara langkah yang berat dan kuat, sesosok remaja dengan tangan dan kakinya yang kekar melangkah cepat menghampiri singa itu, tangannya perlahan-lahan mengangkat sebuah pedang besar.


"Semuanya! Sekarang!" Kali ini perintah kembali diberikan, kedua pemuda yang dipanggil kakak olehnya segera mengarahkan pedang dan pukulannya ke arah singa seraya serempak.


Groaaar!


Singa itu mengaum dengan keras, membuyarkan konsentrasi kedua pemuda.


"Mundur!" Pemuda pengaba aba segera memberi perintah mundur, seraya memberi isyarat dengan kedua tangannya.


Kedua pemuda lantas melompat mundur, bersamaan dengan itu, perintah lainnya diberikan.


"Sekarang!" Ucapnya mengimbuhi.


Wuuung..


Wuuung.


Wuuung.


Lingkaran sihir berwarna biru keunguan berpendar dan berputar cepat, saling bertumpuk dan berlawanan dibawah keempat kaki binatang buas itu.


Sadar akan bahaya, singa itu mengambil ancang-ancang untuk melompat pergi, hingga sebuah belati dengan cepat melesat, mendarat dengan tepat ke arah tengah diantara kedua mata singa.

__ADS_1


Singa kembali mengaum, kali ini langkahnya tak karuan.


"Risen"


"Burn"


"Destroyed!"


Sebuah lingkaran sihir yang sangat besar bersinar, menunjukkan kecemerlangannya. Sembirat biru segera berubah menjadi merah, menyusut dan terus menekan singa didalamnya.


Singa itu kembali mengaum, menyebabkan keretakan tak berujung di lingkaran formasi.


"Cough!" Aluran merah darah mengalur keluar dari sudut mulut pemuda itu. Ia menggertakkan giginya, dan kembali memberi isyarat dengan tangannya.


"Gravity"


"Oppresion"


"Destruction"


Sepersekian detik kemudian, kilatan cahaya melesat kearah vertikal, menyisakan debu dan dedaunan kering yang diterbangkan oleh angin.


"Akhirnya, selesai!" Ucap seorang gadis dengan rambut oranye yang cantik.


Sementara pemuda dengan rambut coklat gelap hanya mengangguk, pandangnya terarah pada seorang pemuda pucat yang nampak bertumpu pada tangannya, seraya mengatur napasnya.


"Raka, apa kau tidak apa-apa?" Ucap pemuda itu mengejutkan rekannya yang lain.


"Ah! Itu benar, apa kau tidak apa?" Ucap gadis oranye dengan cepat ikut menghampiri pemuda itu.


Pemuda itu mengangkat wajahnya, menunjukkan kulit pucat kemerahannya. Ia hanya tersenyum. Mata birunya sedikit menyipit saat ia tersenyum, sementara rambut hitam kebiruannya nampak basah oleh keringat.


"Ah, tidak apa.. hanya saja.."

__ADS_1


"Hmm? Kau tidak bisa berdiri lagi huh?" Ucap Rudolf kepada junior kecilnya itu.


"Aahahaha.." ucap Raka.


"Ayo! Cepat rangkulkan tanganmu di punggungku!" Ucap Rudolf mengarahkan punggung lebarnya.


"Terimakasiii" Seru Raka merangkulkan tangannya.


"Yoshi yosh! Ava, cepat keluarkan sihirmu!" Ucap Oscar tak sabaran.


"Ugh.. sabarlah kau! Gendut!" Ucap Ava tak kalah.


.


.


Tiga tahun, bukan waktu yang cukup untuk seseorang benar-benar berkembang. Begitupun dengan Raka. Saat ini, diumurnya yang menginjak 10 tahun, dia sudah bisa dibilang berkembang dengan pesat.


Saat ini, tubuh tingginya sudah nampak sedikit simetri dengan bobot tubuhnya. Dengan rambut hitam mengkilap yang rapih dan lebih nampak bersih dibandingkan dengan dirinya yang dulu. Matanya kini nampak lebih bercahaya dan hidup, jika dibandingkan dengan dirinya setelah ia datang pertama kali.


Begitupun dengan ekspresinya dan penampilan tubuhnya. Ekspresinya kini nampak lebih hidup, dengan kulit putih yang tidak terlalu pucat.


Tubuhnya nampak lebih tegap dan lebih sehat, ditambah tubuhnya kini tak selemah dulu.


Dan juga, saat ini, bisa dibilang ia sudah mampu menggunakan sihir berskala kecil dan sederhana. Ditambah, kemampuan pedangnya yang terus terasah tiap detiknya. Dan, ini semua memang cukup dipengaruhi oleh pikiran dewasanya sendiri. Bagaimanapun, ia juga seorang petarung dengan skill yang diatas rata-rata di dunianya.


"Bertemu dengan master!" Ucap keempat remaja itu seraya berlutut dihadapan seorang pria tua, master Julius.


"Bangunlah, bagaimana dengan misinya?" Tanyanya seraya masih memeriksa gulungan kertas lainnya.


"Baik, beast itu telah diselesaikan, saat ini, kewajiban kami dalam membantu desa sudah terpenuhi, harap kepada master untuk memberi instruksi berikutnya" Ucap Raka tenang.


"Kerja bagus, untuk dua hari kedepan, berlatihlah di kediaman. Aku akan memberi kalian instruksi berikutnya tiga hari kedepan" ucap Julius.

__ADS_1


"Kebaikan master" ucap keempatnya sederhana.


...□□□...


__ADS_2