The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
PROLOGUE II


__ADS_3


Prologue 2


Benang Merah Yang Bertaut


Malam benar benar dingin, udara panas berhembus keluar, berharmoni dengan detak jantungnya yang semakin melemah.


Timah panas bersarang di berbagai bagian tubuhnya, tak terkecuali jantungnya.


Ia berbaring menatap bintang, terlintas dalam pikirannya seperti apa keluarga kecilnya dulu.


"Ah, kuharap suatu hari nanti aku akan menemui kalian, ayah ibu, Rania juga" Matanya berbinar bahagia saat mengingat bagaimana ia tertawa tempo hari.


"Tapi apa benar aku bisa bertemu dengan mereka?"


"Ah, benar juga seorang pembunuh sepertiku yang sudah membunuh banyak orang bagaimana bisa hidup bahagia?" Ucapnya seraya memejamkan matanya- lelah.


Malam itu, malam yang dingin. Seorang pembunuh hebat berdarah dingin, mati.


'Kalau begitu, apakah kau ingin hidup kembali?' Sebuah suara asing bergema dalam dirinya.


"Ya" secara tak sadar, ia menjawabnya.


'Bagaimana dan seperti apa hidup yang kau inginkan' suara itu kembali berbisik.


"Entahlah, aku hanya ingin hidup di tengah-tengah orang yang bisa mencintaiku dengan tulus, tak peduli apapun itu"


'Keinginan terpenuhi'.


...□□□...

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Kawan lama" Ucap sebuah suara lembut. Suara itu terdengar lembut, tapi juga tegas, Sebuah suara yang tidak bisa dibayangkan siapa dan seperti apa pemiliknya.


Nonius membuka matanya, sebuah dimensi terbuka di hadapannya. Lanskap langit gelap terpampang jelas di hadapannya.


Sebuah perasaan hangat nan familiar mengalir lembut dalam benaknya. Perlahan namun pasti, perasaan itu mendorong kakinya untuk mengayun.


Swosh!


Pijakan pertama mengubah segalanya, segala di hadapannya berubah. Langit gelap dengan tatanan bintang bertabur sedari ujung hingga ke pangkal. Hamparan air jernih bak kristal tersaji di bawah kakinya, ia tak bisa merasakan air itu, entah itu dingin atau hangat, tapi yang ia tahu, itu menyegarkan.


"Siapa kau?"


"Di mana aku berada?" Ucapnya sederhana.


"Ohoho! Kau tidak pernah berubah ya.. masih begitu teguh dengan jalan pemikiranmu sendiri, tak peduli bagaimana perasaanmu"


"Apa aku terlihat mengenalmu?"


"..."


Nonius hanya terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Haih, baiklah.. aku menyerah" ucap suara itu sedikit mengalah.


"Mungkin kau bertanya tanya kenapa kau di sini sedangkan seharusnya kau sudah mati, kira-kira begitu bukan?"


"Itu benar, jadi apa jawabanmu"


"Sigh.. kau benar benar dingin ya, apa kau sama sekali tidak peduli denganku huh!?"


Nonius hanya menunjukkan ekspresi datarnya.

__ADS_1


"Baiklah baiklah, Aku akan memberimu jawaban" Ucap suara misterius itu.


Bintang gemintang saling berkedip dengan sinarnya masing-masing. Lanskap bergetar, sesosok pria semu nampak di hadapan Nonius. Begitu semu, tapi nyata. Menunjukkan entitas suci yang ada tapi seolah olah tak pernah ada.


Pria itu tersenyum padanya, dengan tatapan sedikit usang miliknya. Sebuah perasaan nostalgia muncul dalam benak Nonius.


“siapa kau sebenarnya?” tanyanya sedikit ragu.


Pria itu tertawa kecil.


“lihat? Kelihatannya kau masih sedikit mengingatku ya, kawan lama”


“siapa pun aku saat ini, tidak ada artinya bagimu, kedatanganmu saat ini pun tidak ada sangkut pautnya denganku. Itu hanyalah panggilan takdir milikmu sendiri”


Nonius sedikit memiringkan kepalanya bertanya-tanya.


“aku tak mengerti, apa takdir yang kau maksud itu sebenarnya.”


Pria itu menatapnya sekali lagi dengan tatapan penuh perhatian.


“tak apa, seiring berjalannya waktu, kau akan mengerti. ini semua, tentang apa yang harus kau penuhi, dan apa yang terjadi ke depannya ini semua berkaitan dengan dirimu di masa lalu. Jadi, jika kau ingin tahu tentang siapa dirimu yang menyebabkan semua hal ini terjadi, atau jika kau ingin kembali bertemu denganku lagi, di masa depan, jadilah kuat dan aku akan menunggumu.”


Belum sempat Nonius menanggapinya, perubahan aneh terjadi. Tepat sebelum ia menjawabnya, suara gemeretak terlanjur mengejutkannya. Di depan matanya, ruangan ruangan tempatnya berdiri tak luput dari hal aneh tersebut- semuanya hancur perlahan seolah olah terhisap oleh sesuatu benda tak berujung.


Ruangan itu bergemeretak, menghasilkan fragmen-fragmen kecil seukuran serbuk dandelion yang ditiup angin, seperti itulah kiranya. Gemeretak itu tak henti-hentinya menyeruak, suaranya layaknya pecahan kaca yang bertaburan tak beraturan- semuanya kacau.


“ack!” sesaat kemudian, sebuah suara berat bergema di telinganya, sebuah suara menyeramkan seolah olah membangunkannya dari mimpi, mimpi yang sangat panjang.


Serpihan-serpihan ingatan perlahan lahan muncul di kepalanya, semuanya lewat begitu saja tanpa henti, tanpa aturan. Itu adalah ingatannya, ya, ia merasakannya. Meskipun begitu, tak satupun dari itu semua dapat ia kenang.


Hingga sebuah nyanyian lembut menenangkannya. Ia, terlelap dalam tidurnya, tidur yang sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2