The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 54


__ADS_3


Bab 54: King Of Clover


Istana Clover.


Sebersit sinar berpendar. Menerangi seluruh ruangan itu dengan sinarnya. Tak berapa lama, tiga orang pria berjubah muncul darinya.


Seorang pria tua menoleh, dengan ramah ia tersenyum. "Kalian tiba, kami sudah menunggu kalian" ucap pria tua itu.


"Terimakasih, tuan Anderson" ucap Ian seraya menarik auranya.


Ketiganya lantas berjalan mengikuti pria tua itu. Langkah mereka terhenti di hadapan sebuah pintu besar berwarna merah. Pintu berderak, ia terbuka. Menampilkan sebuah ruangan luas dengan dekorasi serba merah di dalamnya. Pola emas dan hitam nampak mencolok diantaranya.


Di dalamnya, 12 orang nampak melihat ke arah seorang remaja dengan rambut hitam kebiruan, dengan mata tajam. Tekanan hebat segera menghampirinya, mayoritas di dalamnya berisikan niat membunuh.


Remaja itu menghembuskan napasnya berat, mencoba untuk melangkah dengan tenang. Tak berselang lama ketiga pemuda itu melepas jubahnya, dan berlutut di hadapan kedua belas orang dengan seorang pria kecil di tengah.


Pria kecil itu nampak tertidur. Surai peraknya nampak berkilap.


'Dia ... sama denganku (?)' Gumam remaja itu di dalam hatinya.


"Kami bertemu yang mulia" ucap ketiganya secara bebarengan.


"Tsk! Berani beraninya manusia seperti kalian melukai rakyat Clover!" Ucap salah seorang dari kedua belas orang itu.


Tekanan kembali meluncur ke arah ketiganya, memaksa mereka untuk benar benar tunduk.


Kedua pria diantaranya saling melirik, mereka lantas sedikit maju, melindungi pria kecil di antara mereka.


"Mohon belas kasihan yang mulia, kami tidak punya pilihan lainnya," ucap pemuda itu, Ian.


"Apa hakmu berbicara? Bahkan yang mulia tidak memberimu izin!" Tandas seorang lainnya.


Tanpa diduga, pria kecil itu melangkahkan kakinya, tak berhenti sampai berada di depan kedua pria lainnya. "Hak ya ..."


Ekspresi terkejut melintas di wajah mereka. "Apa hakmu berbicara, makhluk rendahan!" Umpat pria paruh baya itu.


"Ha ha ... anda pasti bercanda. Apakah anda tidak sadar diri?"


"Tidak punya hak, huh? Lalu, apakah rajamu memberimu hak untuk bicara hal itu?" Ucapnya tajam dengan lengkungan tipis di wajahnya.


"Kau!"


"Oh? Menarik, lanjutkan" bisik pria muda yang sedari tadi nampak tertidur.


Kedua belas orang di sampingnya terkesiap saat mendengar tiga patah darinya, sang raja.


Tekanan dan hawa berdarah segera menyebar memenuhi ruangan, menekan tepatke arah Raka dengan tajam.


Pria kecil itu nampak sedikit tersenyum licik, "Seorang manusia lemah, dan cacat ... melukai pendudukku ..." ucapnya seraya mengeluarkan aura besarnya.


Raka terdiam, wajah santainya tiba tiba berubah serius "Melukai, huh? Haruskah kuberi tahu apa arti sebenarnya dari kata itu?" Tandasnya dingin.


Dalam beberapa detik berikutnya, muncul dominansi lain dalam ruangan itu. Sebuah aura penuh dominansi meledak ke segala arah, menghalau aura agung dari sang raja.


'Ini ... aura ini ... bukan dari dunia ini!' Bisik Salah seorang yang tadi berdebat dengan Raka.

__ADS_1


Sang Raja terdiam tatkala aura agung miliknya ditekan oleh aura dominansi lain yang jauh lebih besar.


"Ra ..." Panggil Judith segera diblokir oleh Ian.


"Tenang ... pasti ada alasannya" bisik Ian.


'Sebelumnya aku sadar jika dia menyembunyikannya, kekuatan. Tapi siapa yang menyangka jika dia akan jadi sekuat ini? Ditambah, cara yang dia lakukan sebelumnya itu ...'


'Seolah ada kabut yang menghalangiku dengannya ... Raka, yang mana sebenarnya dirimu'


"Ya-yang mulia ..."


"Kau! Berani beraninya kau menunjukkan perlawanan kepada raja!"


"Diam" Tandas Raka penuh penekanan.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang anda pikirkan. Tapi ... apa menurut anda saya akan melukai rakyat anda begitu saja? Darah dibalas darah. Mata di bayar mata ... rakyatmu melukaiku, maka tidak ada aturan yang melarangku untuk balik menyerangnya" ucap Raka tenang seraya kembali menarik aura dominansinya.


"Lalu ... saya rasa anda sadar akan satu hal. Dunia ini ... bergerak dengan hukumnya, hukum dimana yang kuat akan mendominansi yang lemah. Rakyatmu lebih lemah ... jadi, tidak ada alasan untukku menjadi bersalah atas dominansi kekuatanku kan?"


"Kau ..."


"Cukup! Diamlah!"


Ucap seseorang dari tahtanya.


Lengkungan tipis nampak di wajahnya, ia tersenyum. "Kau diterima, Raka Azalea Putra Arcnight"


"Aku mengharapkan kerjasama kita kedepannya, Pangeran Arcnight" ucapnya kemudian.


"Paman Carl, bisakah kau mengantar pangeran ke ruangannya?" Ucapnya pada seorang pria tua.


Raka pun lantas pergi mengikuti pria tua itu bersama dengan kedua seniornya.


Pintu besar itu lantas kembali ditutup. Keheningan melanda ruangan besar itu.


"Yang mulia anda ..."


"Yah, sudah bertahun tahun .. tapi, apa kalian lupa apa gelar Arcnight sejak dulu?"


"Kaum yang diberkahi oleh perang"


"Ras tanpa dewa"


"Yang dicintai mythical power"


"Atau bahkan ..."


"Ras Valkyrie"


"Bahkan jika mereka hanyalah negara kecil, tapi mereka bahkan masih bertahan dalam perang dan isolasi selama 4 tahun."


"4 tahun bukan waktu yang singkat, untuk sebuah kerajaan dengan makanan, minuman yang terbatas, penyakit, dan bahkan perang melawan iblis masih berlangsung saat ini"


"Jika itu aku pun ... aku sama sekali tidak tahu. Mungkin saja negara kita sudah hancur setelah sebulan perang tanpa hasil itu"


"Tapi jika itu Arcnight ..."

__ADS_1


"Bahkan jika memang mereka ingin pun, bukan hal yang tak mungkin untuk berdiri di atas Kekaisaran San Gracia."


"Jika mereka ingin, sejak dulu mereka pasti berperang melawan iblis secara langsung. Dan tanpa ampun, mungkin saat ini iblis tinggal legenda"


"Dan, untuk mendapat sebuah relasi di mana seorang Valkyrie yang dicintai dewa ada disana, maka bukan hal yang tak mungkin untuk menghancurkan 'dia'".


...□□□...


Dug!


Sebuah pukulan mengenai kepalaku. Secara tak sadar, aku mengalihkan pandangku ke arahnya, dimana tangan itu terayun. Nampak di hadapanku, dua wajah dengan ekspresi rumit menatapku.


"Bodoh! Kau membuatku khawatir!" Ucap senior Ian kepadaku.


Senior Judith hanya mengangguk membenarkan ucapan senior Ian, tapi ia masih mendengus beberapa kali.


"Ah ... aku minta maaf, maksudku ..."


"Kau anggap kami apa huh? Sedari awal kau melawannya sendiri. Apa menurutmu kau sendirian?"


"Kami ini seniormu, dan kita dari akademi yang sama. Lalu mengapa kau melakukannya seolah kami orang asing?"


"Dengar. Kami ini kakakmu, bahkan jika kami mungkin lebih lemah darimu pun. Kau tidak sendirian"


"Itu ..." ucapku menahan kata yang hampir terucap.


"Maaf. Junior mengerti" ucapku seraya tersenyum.


"Bagus! Baiklah ... kurasa kita harus pergi sekarang" ucap keduanya kemudian.


Aku mengangguk menanggapi ucapan mereka. Tuan Carl pun mengantarku ke depan sebuah ruang dengan eksterior yang nampak sedikit lebih itu.


"Tuan, ini kamar anda ... jika ada sesuatu, anda bisa minta padaku, atau katakan saja pada penjaga di sekitar kamarmu" ucapnya sopan.


Aku mengangguk, "tentu. Terimakasih, tuan Carl" balasku kemudian.


"Tuan" ucap suara parau itu kembali memanggilku.


Aku menoleh pada pria tua di belakangku, "ada apa?"


"Saya minta maaf atas tindakan yang mulia"


"Bagaimana pun, meski beliau adalah raja. Beliau tetaplah seorang remaja,"


"Saat beliau melihat anda ... beliau merasa senang, bukan karena hal lainnya. Tapi karena anda adalah anak yang sama sepertinya."


"Sejak kecil, beliau memiliki sihir iblis yang sangat kuat, sebuah anugerah memang. Tapi juga kutukan baginya,"


"Aku mengerti" ucapku singkat. Pria tua itu sedikit terkejut mendengar jawabku.


"Kau ingin aku menjadi temannya, kan?"


Pria tua itu masih melongo, tapi dengan cepat ia kembali tenang.


"Kelihatannya anda sedikit terlalu tua untuk tubuh anda ya, tuan?" Ucapnya tanpa daya.


"Yah, terserah" ucapku seraya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2