The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 59


__ADS_3


Bab 59: Blessing Of Immortality


Debu debu berterbangan. Aku terjatuh bersama tubuh besarnya menghantam dengan keras.


Tanganku kebas, cairan merah mengalir deras darinya. Tapi, itu belum cukup untuk membunuh seorang pengguna Blessing Of Immortality.


Aku segera bangkit dari tempatku terjatuh, mengambil sebilah belati dari jubahku dan menghampirinya yang masih tak sadarkan diri, begitulah yang kupikirkan.


"Tu-tunggu!" Serunya tatkala aku bersiap menghujam belatiku ke arahnya.


"Hmm? Kata kata terakhir kah?"


"Tapi sayangnya, aku tak punya keinginan untuk mendengarnya" ucapku.


"Ap- Apa yang kau inginkan?" Ucapnya.


"Memangnya apa yang akan kau berikan?" Tanyaku.


"Se-semua yang kau inginkan! Harta! Ya, harta! Kau mengincarnya kan? Telur Phoenix ini? Jika begitu akan kuberikan kau harta yang sebanding dengannya. Asalkan kau mau melepaskanku dan telur Phoenix ini!" Ucapnya


"Bagaimana? Bukankah ini bagus? Kau hanya perlu membunuh semua manusia itu! Biarkan aku memakannya! Dan akan kuberikan kau semua hartaku" ucapnya


'Konyol!' Gumamku dalam hati. Sementara aku memilih diam dan melanjutkan maksudku untuk menusuknya, tapi tepat sebelum itu.


"Tu-tuan!" Panggil sebuah suara parau mengejutkanku.


Aku menoleh, dari kejauhan, seorang pria tua nampak muncul di antara para ksatria.


"Ma-maaf! Tapi ... jangan biarkan iblis itu hidup" ucapnya.


"Hah?"


"Mu-mungkin ini tidak pantas! Tapi ... saya akan memberi anda telurnya jika anda mau membunuhnya" ucapnya.


"Tuan! Apa yang anda katakan!" Tanya seorang ksatria yang nampak seperti pemimpinnya.


"Apa aku benar benar terlihat seperti orang yang ingin melepaskannya? Aku tidak bodoh lho" ucapku lirih pada diri sendiri.


"Apa kalian belum bisa melihatnya? Iblis itu membunuh saudara saudara kita, tak hanya itu, dia juga memakannya. Bagaimana mungkin? Kami membiarkannya? Bahkan jika telur itu sangat berharga, itu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan nyawa kami dan umat manusia di luar sana." Ucapnya.


"Itu benar, tapi sudah terlambat!" ucapnya Deux tak menyerah. Tanpa kusadari, tangan dengan kuku yang tajam itu dengan cepat menembus tubuhku. Sebuah senyuman yang menjijikan menghiasi wajahnya.


Tangannya yang menembus tubuhku secara tak sengaja turut merobek jubah yang kukenakan. Membiarkan rambut biru tuaku terlihat bersama dengan wajahku.


"Keugh!" Aku memuntahkan seteguk darah merah ke wajahnya. Dengan beringas, ia menjilatnya.


"Ku ha ha ha! Apakah ini darah Asteris!? Benar benar dicintai dewa!" Ucapnya penuh semangat setelah memakannya.


Rasa panas terbakar menggerogoti jantungku, terus naik menuju ke tenggorokanku. Darah merah terus mengalur dari luka lukaku. Darinya, aku melihat iblis itu hampir berevolusi tatkala menyantap darahku.


'Jadi ini darah Asteria!?' Tanyaku pada diri sendiri.


Untuk kesekian kalinya, aku berada di ambang hidup dan mati. Dan, untuk kesekian kalinya pula, sebuah perasaan yang hanya muncul saat aku terluka kembali muncul. Sebuah perasaan dimana aku menjadi begitu jernih, saat kelima inderaku merespons secara bersamaan. Ketika semuanya menjadi begitu penuh tapi juga begitu kosong, ambigu.


Satu hal lainnya terjadi, saat darah merah yang terus mengalir, rasanya tak permah habis dan menjadi begitu panas. Rasanya seperti banyak petir di angkasa yang menungguku.


[ Sacred Thunder 》》Judgement ].


"Judgement!" Bisikku.


Tak berapa lama, kilatan merah halus dari langit turun, menembus tubuhnya.


Suasana menjadi begitu hening tatkala petir tanpa suara itu turun dengan cepat, menukik dan menusuk lembut tubuhnya.


Aku sendiri tak tahu apakah itu petir atau tidak, dia tak bersuara, tapi sesuatu menyakinkanku tentangnya. Ada banyak suara kejutan di sekitarnya, tapi semuanya terasa abai dan tak benar benar ada. Itu terasa seperti aku, berada di tempat lain. Tempat yang benar benar terpisah darinya, atau dari mereka.

__ADS_1


Suara retakan segera memenuhi keheningan, hanya dalam sepersekian detik tubuh ungu itu retak, hingga akhirnya benar benar hancur lebur.


Aku tertegun sejenak saat mencoba mereka ulang semua hal yang terjadi hanya dalam beberapa detik itu. Seraya terus menenangkan pikiranku yang sedikit menjadi kacau.


Aku menarik napasku panjang, sebelum menghembuskannya kembali "Itu hampir saja" ucapku mencoba tenang.


Tanpa menunggu lagi, aku pun segera bangkit dan mengambil sebongkah batu berwarna emas menyala dari dadanya yang rusak.


Perhatianku segera beralih pada sebuah bulatan besar berwarna putih di dekatnya.


"Ini ..." aku mengambilnya, tepat setelah aku mengambil bongkahan Blessing of Immortality.


Krak! Sebuah suara retakan mengejutkanku. Mencegahku untuk terus melangkah menghampiri pria tua.


"Umm ... itu adalah telur Phoenix. Karena anda telah membunuh iblis itu, anda boleh mengambilnya" ucap pria di seberang.


"Tidak, aku tidak membutuhkannya." Ucapku tenang seraya menyerahkan telur itu padanya. Tepat setelahnya, suara retakan yang lebih kerasa kembali terdengar.


"Lagipula, aku tidak menyetujui permintaan an--" ucapku segera tercegah saat sembirat nyala api menyambar batu di tanganku, membakarnya.


"Fu fu, anda beruntung, dia memilihmu, tuan~" ucap pria tua itu.


"Hah!?"


Sudut mulutku berkedut. "Hei! Kembalikan batu bless--" ucapku pada telur itu, namun segera tercekat saat sebuah rasa sakit menyengat jantungku.


Deg!


Darah merah kembali mengalur dari sudut mulutku, itu terasa lebih panas kurasa. Pikiranku masih begitu jernih, tapi kelima inderaku segera menumpul. Rasanya aku tahu bahwa banyak orang yang menghampiriku, beberapa dari mereka memanggil dan meneriakiku, tapi tak ada satu pun suara yang benar benar kuterima.


Pikiranku pun masih begitu tenang saat tubuhku kehilangan tenaga. Lalu, tepat saat darah merah membasahi tubuhku, dan napasku yang mulai tersengal, saat itulah pikiranku mulai kacau.


Dalam sebuah buku, saat seseorang mati, ia akan memiliki waktu beberapa menit untuk mengingat semuanya kembali.


Tapi apa yang kuingat?


Aku, tidak bisa mengingatnya satu pun.


Tubuhku limbung dan benar benar terjatuh, saat sebuah tangan kuat menangkapku.


Ah, sial!


Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?


Apa yang kulakukan sebenarnya?


Itu konyol!


Apa aku akan mati saat aku bahkan belum bisa mengingat dengan jelas wajah orangtuaku disini?


Aku, sangat menyedihkan.


"Kau beruntung bertemu denganku, nak~"


"Bersyukurlah~"


"Karenaku, kau tidak akan benar benar mati~"


"Aku membencinya"


"Kekalahan~"


"Tapi harus kuakui"


"Jiwamu jauh bersinar dibandingkan kobaran api jiwaku~"


"Rasanya seperti api jiwaku sangat usang~"

__ADS_1


"Maka, bangkitlah dari kematianmu"


"Dan klaimlah tahtamu"


"Karena kau, tak terhentikan"


□□□


Greatest Kingdom, Spade.


Nampak di sebuah lorong dengan hawa yang gelap dan dingin, sesosok iblis berjubah dengan beberapa topeng di baju dan satu menutupi wajahnya berjalan riang. Sesekali ia berjingkat dan melompat penuh kegembiraan.


Tepat saat ia bergumam penuh kegembiraan, sekelibat sinar transparan melewatinya.


Ia berhenti. Untuk kemudian mengambil sebuah topeng di balik jubahnya, dan menggunakannya.


"Ke ke ke ke! Drama sebenarnya akan dimulai ke ke ke" ucapnya penuh misteri.


...□□□...


Unity Kingdom, Diamond.


"Hei! Apa kau sudah dengar? Berita kalau Deux yang baru itu mati?"


"Ya. Aku mendengarnya!"


"Kudengar itu Asteris" ucap salah seorang lainnya.


"Benarkah? Apa Asteris itu juga memburu Phoenix?"


"Mungkin saja!"


Sementara itu, sesosok dengan jubah hitam melintas dengan cepat melewati sekerumunan orang.


'Sayangnya kau sudah tiada, senior'


'Jika kau masih ada, pasti kau orangnya ... Hanya kau yang pantas, untuk jadi Deux selanjutnya'


...□□□...


High Continent, Asteria


"Panjang umur yang mulia!"


"Panjang umur!"


Seru sekerumunan orang saat sesosok dengan rambut hitam kebiruan melintas dengan tenang, penuh keanggunan. Ia begitu cantik, tapi juga ia nampak tampan.


Setelah beberapa saat, ia lantas mendudukkan diri di atas singgasana yang nampak megah.


"Masalah sepenting apa yang membuat kalian bahkan berkumpul di malam seperti ini!?" Tanya sosok itu dingin


"Lapor paduka! Seseorang dari middle continent menggunakan identitasnya sebagai Asteria yang agung untuk mencuri Phoenix!" Ucap salah seorang dengan rambut biru kehitaman lainnya.


"Itu benar! Dan dia bahkan menyulut kemarahan kaisar iblis dalam hal ini!" Ucap salah seorang lainnya.


"Oh? Begitukah?" Tanya sosok itu.


"Jadi?"


"Yang mulia ... bagaimana pun, Asteria itu melanggar peraturan leluhur! Dengan kembali ke Middle Continent tanpa seizin paduka ... sudah jelas bahwa Asteria ini harus kembali pada kita. Seseorang yang layak untuk dewa tak diizinkan untuk berbaur dengan manusia biasa, bahkan iblis kotor!" Ucap pria tua.


Tanpa diduga, pria itu tersenyum, "Begitu ... Lalu bagaimana jika dia memang sedari awal tidak disini?" Tanya sosok itu.


"Itu ... apa, apa maksud yang mulia?" Tanya pria tua itu.


"Tidak ada" ucap sosok itu dengan sebuah senyum bertengger di wajahnya.

__ADS_1


Dalam riuh rendah orang orang yang hadir, sosok itu berkata dengan lirih, "Itu pasti putramu kan, Rishma?" Ucapnya seraya tersenyum hangat.


__ADS_2