The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 12


__ADS_3


Bab 12: Quest


4 Bulan sebelumnya.


12/07, Middle Continent.


"Master, sebenarnya kemana kita akan pergi kali ini?" Ucapku seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Hmm? Ah! Benar juga, aku belum memberitahumu bukan? Lihatlah aku, benar-benar pelupa" ucap master seraya memegang kepalanya pasrah. Satu matanya nampak mengerjap melihatku. Meskipun begitu, ia nampak pura-pura tua di depanku.


"Yah, anda sadar juga ternyata," ucapku santai seraya memalingkan wajahku.


"Kuh! Ra-Raka.." Ucapnya seraya memegangi dadanya berakting.


"Jadi, sebenarnya apa yang akan kita lakukan? Dan dimana kita akan pergi, master.."


"Hm? Yah, kita kan menyelesaikan Quest!" Ucapnya bangga.


"Qu-est? Apa itu quest? Apa itu semacam permintaan tolong atas sesuatu hal? Dan apakah ada hadiahnya?" Ucapku dengan mata berbinar-binar.


'Quest ya? Apa itu benar-benar sama seperti yang disana? Jika iya, maka apakah akan ada guild juga? Apakah kita akan pergi ke bar juga? Jika iya, maka itu pasti menyenangkan!' Pikirku dalam hati.

__ADS_1


Tuk!


"Ow!" Aku mengerang kecil saat tangan kokoh master mengetuk kepalaku. Memaksaku untuk melupakan khayalan-khayalan konyol tentang hidupku sebelumnya.


"Ya ampun kau ini! Apa kau benar-benar tidak tahu tugas dari para pemilik ancient? Dan kau malah menyamakannya dengan para petualang hah?" Omelnya.


"Maaf, master.. eh? Jadi? Disini benar-benar ada guild petualang!?" Ucapku.


"Hmm? Memangnya? Menurutmu apa lagi maksudku? Kurasa kau tahu tentang Quest dan petualang, tapi kau justru bertanya seolah olah kau benar-benar tak percaya mereka ada.. ya ampun, kau ini seperti orang tua yang nyasar ke dunia lain saja!" Ucap master seraya berlalu.


'Memang! Lalu kau mau apa!? Apa kau mau melemparku kembali ke bumi huh!?'


Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak dengan pepohonan rimbun yang menjulang tinggi. Nyaris menutupi langit biru dan menghalangi sinar masuk- benar-benar gelap dan dingin.


Suara langkah kaki yang berat terdengar dari sayup-sayup kicauan burung. Aku menghentikan langkahku, membuka kelima sensitivitas indraku.


'Langkahnya berat, dia memiliki tubuh yang berat dan keras.'


'Bau ini.. darah! Bisa dipastikan jika dia seekor beast yang cukup kuat, setidaknya.'


'Dia besar, dan jika dia bisa berjalan dalam kegelapan, itu hanya ada satu kemungkinan, dia- memiliki sensitivitas yang sama atau setidaknya, ini.. wilayahnya!'


'Gawat! Rasa kritis ini,, tidak main-main!'

__ADS_1


Hap!


Aku segera melompat menghindar saat mataku menangkap sebuah pergerakan bayangan.


Dash!


Tangan berbulu dengan cakar kuat mencengkeram, tanah disekitarnya tak luput dari retakan.


'Bulu dengan pola itu! Macan gunung! Bagaima--'


Dash!


"Ugh! Sial!"


Aku kembali melompat menjauh, dalam sekali lompatan, kakiku berputar, visualku terhampar luas. Guratan-guratan kecil di sepanjang mataku mengencang. Merangsang mataku untuk bekerja lebih keras lagi.


Tubuhku bergerak serentak, mengikuti rasa krisis dan visualisasi bahaya dari mataku. Aku mengayunkan kakiku lebih dan lebih cepat lagi saat suara langkah keras dan tabrakan tabrakan agresif menyusul langkahku.


Aku melebarkan mataku saat sesosok bayangan familiar tergambar jelas di kepalaku.


Aku mengangkat sudut mulutku, dan dengan cepat melompat mundur, meraih ranting dari pohon besar di dekatku.


Binatang besar dan gila itu melewatiku dengan cepat dan menghampiri bayangan master.

__ADS_1


Master menoleh, wajah santainya berubah menjadi wajah yang sedikit menakutkan.


__ADS_2