
Untuk pertama kalinya, sebuah emosi hangat menyentuh kalbunya, tepat setelah kedatangannya ke dunia ini, ada banyak emosi yang ia rasakan, marah, sedih, dingin, ejekan, dan banyak hal lainnya. Tentang bagaimana perlakuan orang lain terhadapnya, ini adalah kehangatan pertama yang muncul selain dari keluarga.
Mata Raka berbinar-binar, wajahnya berseri, senyumnya yang kaku terlihat lebih hangat. Ia lantas melangkahkan kaki kecilnya. Dan membungkuk memberi hormat kepada kakak-kakak seperguruannya. Kepada orang-orang baik yang memberinya perasaan menakjubkan.
'Ini memang bukan kebaikan pertama yang kudapat, tapi hati mereka.. membuatku bahagia'
"Junior bertemu senior! Mohon bimbingannya semua!" Ucapnya.
Para senior di hadapan Raka terkejut, hingga kemudian tertawa pecah.
Beberapa dari mereka segera maju, dan merangkul Raka dari segala arah.
Mungkin itu hal yang biasa bagi mereka, tapi itu adalah hal yang luar biasa bagi seorang pembunuh berdarah dingin yang bahkan tak pernah berpikir akan merasakan emosi yang sama di kehidupan keduanya.
Sementara mereka nampak membaur, Tanpa disadari sebuah pergerakan muncul di balik bayang.
'Sial! Aku ditemukan! Bagaimana mungkin anak itu.. merasakanku! Bukankah kebetulan ini terlalu aneh? Aku harus melaporkannya pada paduka Andreas segera!'
"Huh! Seekor cecunguk kecil memiliki keberanian yang besar ya, rupanya."
Slap!
Sebuah tombak dengan cepat menembus tubuh hitam yang berjalan di balik bayangan itu.
Dengan satu serangan, tubuh bayangan itu segera terpecah menjadi bulir-bulir cairan merah yang meledak.
"Siapa dia?" Tanya Yama dingin.
"Bukan siapa-siapa, hanya cec*nguk kecil yang suka berbuat onar" Jawab seorang wanita dengan rambut biru keperakannya, Ivy.
...□ □ □...
__ADS_1
"Hei! Apa namamu hanya Raka saja?" Tanya seorang gadis berambut coklat pendek dengan penasaran.
Raka mengangguk. "Itu yang kuingat!"
"Hee.. apa mungkin kau kehilangan ingatanmu?" Tanya seorang anak laki-laki dengan rambut abu-abu.
Raka hanya mengangguk dan melengkungkan bibir kecilnya- mencoba sebaik mungkin menekan emosinya.
"Hei! Kau ini anak laki-laki kan?" Sebuah pertanyaan datang menghujam jantung Raka dengan segera. Gadis itu adalah gadis dengan rambut pirang yang panjang.
"Uugh.." Raka menunduk menunjukkan ekspresi syoknya.
"Ahaha! Tidak masalah! Jika kau berlatih dengan keras kau pasti akan memiliki tubuh sepertiku suatu hari nanti!" Ucap seorang anak dengan tubuh yang sedikit gempal.
Semuanya terdiam memandangi ketidak sadaran diri akut yang dimilikinya.
Raka hanya menghela napasnya lega.
Saat ini, hatinya dipenuhi oleh hal-hak baik.
Seorang wanita cantik dengan rambut jingga terurainya tersenyum bengis.
Wanita itu memberi hawa yang menakutkan.
"Ba-baik!"
Anak-anak itu merasa takut saat mata tajam menatap mereka seraya menggerutu. Begitupun Raka, saat ini bahkan, tubuhnya bergidik ngeri.
Wanita itu menyadari keberadaan Raka. Ia menoleh, dan memandang ke arah Raka.
"Hmm?"
Sedikit tekanan terpancar darinya, berusaha menekan Raka.
__ADS_1
'Apa dia mengujiku? Tapi perasaannya ini.. ah, anda terlalu meremehkanku. Jika itu hanya tekanan tanpa hawa membunuh, mungkin tubuh kecil ini masih bisa menahannya'
Raka hanya terdiam saat tekanan itu menerpa tubuhnya. Sementara anak lainnya nampak bergidik ngeri saat melihat adik bungsu mereka menatap kedua mata tajam yang menyeramkan.
"Pfft. Apa kau murid baru yang dibawa oleh kang tipu itu huh!?" Serunya kocak.
Raka mengangguk.
"Hah!? Akrab!?" Seru semua anak yang melihat mereka berdua.
"Yah, ku kira kau anak yang lemah, tapi kelihatannya hanya di bagian luarnya saja yang lemah."
Raka hanya tersenyum sopan saat wanita di hadapannya itu berbicara dengan serunya.
'Dia mirip sepertimu, Cecilia'
"Yosh! Baiklah! Jika begitu maka pelatihanku di sini akan melatih otot-ototmu sedemikian rupa hingga kau menjadi lebih dan lebih kuat lagi!" Serunya.
"Ah, terimakasih, leluhur kelima" ucap Raka sopan.
"Yah, kau anak yang tampan dan sopan! Aku suka itu! Dan juga, di perguruan ini, aku adalah gurumu, jadi jangan panggil aku leluhur, oke? Namaku Shana, karena kau muridku, jadi kau bisa memanggilku Kak Shan, oke?" Ucapnya ceria.
"O-oh.. bukan bu ya?" Tanya Raka lugu.
"Berisik! Jangan panggil aku ibu!" Protes Shana marah.
"U-ugh.. baiklah.." Ucap Raka sedikit aneh.
"Pfft!" Sementara para senior lainnya nampak menahan tawanya.
"Cukup! Semuanya bawa beban kalian masing masing! Lari ke arah gunung bintang utara! Tidak ada yang boleh memakai sihir sedikit pun!" Ucapnya seraya menjentikkan jarinya.
Secara mendadak, beberapa belenggu dari batu muncul di kedua tangan dan kaki mereka. Membebani tubuh mereka sedemikian rupa.
__ADS_1
...□ □ □...