
Bab 57: Marrionatte
Clover, 8/5
"Hoi! Apa kau ini monster!?"
"Tidak! Kau itu iblis!"
"Benar benar iblis"
Ucap Lance menyambutku keluar dari pelatihan. Satu setengah hari berlalu semenjak aku memasuki dimensi pelatihan.
"Bukankah kau harus bercermin pada dirimu, Lance? Siapa yang iblis siapa yang manusia" ucapku datar.
"Heh! Bukan itu maksudku!" Protesnya.
"Ah sudahlah!" Gumamnya kesal.
Sementara ia terus ribut dengan gumamannya. Sementara aku bergegas untuk membersihkan diriku sendiri.
"Selamat karena telah mengendalikan darah iblis anda, tuan Azalea" ucap Carl padaku.
Aku mengangguk, "terimakasih atas bimbingannya, tuan Carl" ucapku sopan.
"Hei! Kau tidak berterimakasih padaku!?" Teriak Lance secara tiba tiba.
"Ya ya ... terimakasih, yang muliaaaa" ucapku malas.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan? Aku hanya menerima surat untuk mengajarimu cara mengendalikan iblis. Tapi bagaimana dengan misinya?"
"Itu benar. Misiku kali ini adalah untuk mendapatkan blessing of immortality, jika tidak salah itu ada di Heart?"
Lance mengangguk membenarkan, tatapannya menjadi sedikit serius. "Apa rencanamu kedepannya?"
"Blessing Of Immortality itu adalah sebuah Blessing yang dimiliki oleh salah seorang Deux dari Heart. Meskipun terbilang sebagai deux baru, tapi dia adalah salah seorang yang memiliki peluang besar untuk naik ke tingkat Trois"
"Mengalahkannya bukan suatu hal yang sulit bagimu, kurasa. Tapi, untuk lepas dari pandangan King, itu bukan hal yang mudah." Ucap Lance kemudian.
"Aku mengerti. Karena itulah, setelah aku pergi, lepaskan pandanganmu dariku, Lance" jawabku santai.
"Apa maksudmu! Akan jauh lebih mudah jika ..."
"Yang mulia!" Ucap Carl menyela ucapan Lance.
"Tuan Azalea, anda bisa melanjutkannya" ucap Carl.
"Ini bukan masalah. Dengarkan rencanaku," Lance mengangguk menyetujui ucapanku.
"Aku akan pergi menuju kerajaan Heart, tujuannya untuk bergabung dengan ksatria. Kurasa itu satu satunya jalanku"
"Kurasa aku paham akan itu. Bagaimana jika ada sesuatu yang lainnya? Saat identitasmu terbongkar, maka Arcnight akan musnah secara bersamaan" ucap Lance.
Aku menjentikkan jariku, "itu benar. Karenanya, mungkin agak tidak sopan. Tapi aku ingin memanfaatkan skill milik tuan Carl" ucapku tenang.
"Skill ... saya?" Tanya tuan Carl bingung.
"Apa maksudmu?"
"Boneka jiwa. Meski pun sedikit berbahaya, tapi itu lebih aman daripada harus menggunakan topeng dan penyamaran lainnya."
"Tunggu. Dari mana kau tahu tentang skill [The Marrionatte] milik Carl!?" Tandas Lance tajam.
Aku hanya bisa tersenyum tipis. Itu wajar baginya untuk khawatir, bagaimana pun, saat seseorang tahu skill milik orang tahu, maka ada kemungkinan skill itu bisa dicuri atau dicari kelemahannya.
"Mengapa tidak boleh?"
"Tenang. Itu tidak terlihat seperti aku akan memanfaatkan informasi ini."
"Oh! Biar kuberitahu sedikit, aku memilikinya skill [Blue Eyes]. Itu memungkinkanku untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Termasuk informasi." Ucapku sederhana.
"Mirip skill [Appraisal]?" Tanya Carl.
"Iya, tapi tidak juga"
"Sederhananya, [Appraisal] dan [Blue eyes] itu adalah dua jalan yang berbeda menuju tujuan yang sama. Jika [Appraisal] hanya bisa melihat sesuatu yang berkaitan dengan informasi informasi yang detil dan jelas, maka [Blue Eyes] bisa melihat tanda tanda atau gejala yang ada, tapi tidak ada informasi lainnya. Untuk tahu tentang skill sebenarnya, aku harus mengandalkan diriku sendiri."
"Dengan kata lain, jika Carl tidak menggunakan skillnya, maka kecil kemungkinan kau bisa tahu?"
Aku mengangguk membenarkan ucapannya.
"Tapi Carl, kapan kau menggunakan Skillmu?"
"Umu, jika tidak salah itu seharusnya saat tuan Raka datang untuk pertama kali, bukan? Saat itu saya sebenarnya menggunakan salah satu boneka saya untuk menjaga anda, yang mulia" ucap Carl.
Aku hanya mengangguk membenarkan ucapannya.
"Begitu ..."
"Jadi, apa yang ingin kau lakukan terhadap boneka Carl?"
"Aku akan menggunakannya sebagai tubuhku"
__ADS_1
ucapku ringan.
"???"
"???"
"Umm ... Raka, apa yang ingin kau lakukan terhadapnya, boneka milik Carl?"
"Aku akan menggunakannya sebagai tubuhku" ucapku mengulangi pernyataan yang sama.
Keduanya nampak bingung sesaat, sebelum akhirnya menunjukkan ketidakpercayaan mereka.
"Apa kau gila!?" Seru Lance.
Aku menggeleng pelan, "tidak, kali ini aku serius dan aku masih waras, yang mulia Lance"
"Kugh! Apa kau tahu apa arti sebenarnya dari menggunakan boneka sebagai tubuh!?"
Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya pada keduanya. Ingatanku kembali berputar, menyeretku pada masa masa dimana 'aku' adalah seorang pembunuh.
Duniaku itu, memang bukan dunia sihir seperti ini. Itu adalah dunia dimana pengetahuan menjadi raja segalanya. Setidaknya, itu yang terlihat.
Tepat setelah beberapa tahun di dunia bawah*, pandanganku terhadap dunia menjadi kian menjelas. Duniaku itu, bukanlah dunia yang kulihat selama beberapa tahun hidupku.
Beberapa diantaranya terselip banyak hal asing di dunia bawah. Rasanya seperti aku benar benar memasuki dunia lain, begitulah.
Setidaknya disana- dunia bawah, juga mengenal istilah 'boneka' yang mana umumnya digunakan sebagai pengganti tubuh utama. Alasan utamanya adalah untuk menjaga diri apabila ada situasi diluar kendali bagi seorang pembunuh.
Dan, aturan utama dari sebuah boneka yang cocok terhadap jiwa manusia adalah, boneka itu harus mirip dengan tubuh si pengguna.
"Apa itu?"
"Ugh ... yang benar saja" Gerutu Lance seraya memberi isyarat pada Carl untuk menjelaskannya padaku.
"Ehem! Pertama tama, izinkan saya bertanya pada anda, tuan"
"Apa tujuan anda menggunakan boneka milik saya sebagai pengganti tubuh anda?"
"Baiklah, biar kuperjelas sedikit. Yang pertama adalah karena tubuhku yang asli adalah manusia. Yang kedua, tidak hanya manusia, dia juga memiliki dua identitas asli yang tidak bisa dibocorkan. Dalam hal ini, Asteric dan Arcnight. Ketiga, untuk mengatasi apabila ada hal yang tidak kuinginkan, misalnya saja pengawasan kaisar terhadap tubuh asliku. Keempat dan yang paling penting, tubuh asliku terlalu kecil" ucapku seraya menghela napas.
"Haish ... alasanmu cukup bagus, setidaknya untuk nomor satu sampai tiga."
"Tapi apa apaan dengan tubuh yang terlalu kecil itu hah!?" Seru Lance marah.
"Ehem! Kembali ke pembicaraan awal. Itu memang benar jika anda bisa mengurangi resiko kematian dengan menggunakan boneka sebagai ganti tubuh utama. Tapi, bagaimana pun ... kecocokan antara tubuh boneka dengan jiwa adalah yang terpenting. Dalam beberapa kasus, beberapa jiwa merasa tidak cocok dengan adanya tubuh boneka, sehingga secara tak sadar jiwa itu hanya bisa bertahan selama beberapa jam dalam tubuh boneka. Beberapa lainnya yang memiliki kecocokan separuhnya, bisa bertahan dalam tubuh boneka, tapi tidak bisa menyamarkan identitas tubuh sebagai tubuh boneka."
"Dan, apabila anda mengalami hal tersebut, takutnya selain saya yang dilacak juga anda akan terkena dalam masalah besar, bagaimanapun"
"Sudah kuduga ini masalahnya."
"Itu memang benar, tapi ..."
"Tidak apa. Jika memang jiwaku tidak sesuai dengan tubuh boneka itu, maka dengan senang hati aku akan mengubah rencanaku."
"Jadi, bisakah anda mencoba menggunakan skill ini pada saya?"
"Haih ... baiklah. Saya akan bekerja keras"
"Ah! Benar juga, karena harus cocok, jadi bisakah aku memberimu beberapa syarat lainnya terhadap boneka penggantiku?"
...□□□...
Clover, 29/5
Sesuai permintaanku, tuan Carl pun segera membuatkan boneka yang sesuai dengan beberapa hal yang kuingat.
Beberapa minggu telah berlalu sejak hari itu. Dan, persiapan pertamaku telah tuntas.
"Tuan, ini adalah boneka yang anda inginkan sebelumnya" ucap paman Carl padaku.
Aku mengangguk dan segera menghampiri boneka itu. "Umm! Terinakasih, paman Carl" ucapku.
"Tunggu! Aku tahu kalau saat itu kau bilang ingin memiliki tubuh dewasa, tapi bukankah itu sudah terlalu tinggi!?" Protes Lance padaku.
"Hmm? Benarkah?"
"Tentu saja! Apa kau tidak bisa matematika dasar!? Selisih tinggimu dengan boneka penggantimu itu 39 Cm! Tigaa~ puluuuh~ sembiiilan! kau tahu!?"
"Aku tahu, tapi hanya tubuh inilah yang cocok untukku" ucapku tenang.
"Baiklah, tuan Carl. Kau bisa mulai pemindahan jiwanya." Ucapku seraya merebahkan diriku di samping boneka penggantiku.
"Baiklah, saya akan mulai. Harap untuk menenangkan pikiran anda, tuan Raka"
"Tentu" ucapku singkat.
"The Marrionatte ... "
"Ooh my doll ... "
"Can you look for your soul ... "
"Find his soul .."
__ADS_1
"Make your soul ..."
"And rise,"
"Mister ----------"
"The great Assassin, Nonius"
Alunan mantera panjang terdengar di telingaku. Aku melengkungkan bibirku tatkala aku kembali mendengarnya, sebuah nama yang sudah mati.
Kesadaranku memudar, seluruh tubuhku terasa lebih tenang dan lebih tenang. Hingga tepat dimana nama itu kembali terpanggil, aku benar benar kembali.
"Mister ----"
"Can you hear, ---"
"The sound of your soul"
"Call your name, The Great Assassin"
"Nonius"
Rentetan mantera kembali menyadarkanku dari tidur. Aku membuka mataku pelan, suara dengungan membanjiri telingaku.
"Ugh ... jadi ini rasanya jadi boneka? Entah kenapa aku jadi kasihan dengan semua para baj*ngan marrionatte yang kubunuh dulu" ucapku lirih pada diri sendiri.
"Bagaimana perasaan anda, tuan Raka?" Tanya suara parau mengacaukanku dari lamunanku.
"Eh? Dibandingkan dengan kata nyaman, kurasa rasa nostalgia lebih cocok. Tapi nyaman juga tidak apa sih" ucapku.
"Sebenarnya apa yang kau maksud sih?"
"Fu fu, begitu, kurasa saya bisa memahaminya" ucap tuan Carl membalasku.
"Eh? Ah! Lupakan!" Ucap Lance menahan emosi.
"Benar juga, apa maksudmu dengan 'baj*ngan marionatte yang kubunuh dulu' ceritakan padaku tentang itu!?" Seru Lance.
"Hmm? Apa kau tidak bisa membaca tulisan sebelumnya? Itu tertulis aku berbicara pada diriku sendiri" balasku.
"Carl. Kelihatannya kau masih belum sempurna membuatnya, baru beberapa detik tapi sepertinya otaknya berpindah" ucap Lance.
"Tidak begitu!" Protesku keras padanya.
Carl: "???"
...□□□...
"Kembali ke pembicaraan sebelumnya," ucap Lance membuka percakapan.
"Apa kau yakin dengan rencanamu ini? Bahkan jika kau berhasil menggunakan boneka sebagai tubuhmu, akan selalu ada batasan tentangnya, kau tahu?" Tanya Lance serius.
Aku mengangguk membenarkan ucapannya, "itu benar, akan selalu ada batasan tentang hal itu."
"Tapi Lance, apa menurutmu aku tidak memiliki pemikiran itu sebelumnya?" Tanyaku tenang.
"Jadi? Apa yang akan kau lakukan"
"Blessing Of Immortality adalah hadiah yang diberikan King Spade pada Deux Of Heart. Jika kau salah mengambil satu langkah saja, kau akan benar benar berada di tangan kaisar besar, Spade."
"Jika sampai saat itu tiba, tidak hanya kau tapi bahkan kami, akan mati" pungkas Lance.
Aku kembali menganggukkan kepalaku, membenarkan ucapannya.
"Tentu. Karenanyalah, aku butuh boneka ini sebagai identitas palsuku."
"Sekali lagi, itu adalah pilihan yang tepat. Harus kuakui, kau hebat untuk manusia seumuranmu. Tapi resikonya akan menjadi semakin meningkat saat identitasmu, seseorang yang menipu raja dengan menggunakan tubuh palsu tertangkap. Saat itu, mungkin saja seseorang dengan skill [Soul Detected] akan menemukanmu disini."
Aku melengkungkan bibirku, "bagaimana menurutmu, tuan Carl?" Tanyaku.
"Hmm? Yah, saya tidak terlalu khawatir akan hal itu, yang mulia" ucap paman Carl seraya masih menyajikan teh untuk kami.
"Carl!? Kau juga?" Gerutu Lance.
"Ehem! Yang mulia, bukannya saya tidak menyetujui anda saat ini. Bahkan, harus saya akui soal hal itu bahwa saya sama khawatirnya dengan anda, jauh. Tapi, satu hal yang tidak bisa saya pungkiri adalah kenyataan bahwa boneka saya, benar benar cocok dengan jiwa tuan Raka."
"Meskipun tidak bisa dibilang tanpa kelemahan, tapi boneka dengan jiwa tuan Raka adalah boneka jiwa yang paling cocok yang pernah saya buat" ucap Carl.
"Apa maksudmu!?"
"Itu benar, bisa dibilang, dimata iblis lain, aku adalah iblis biasa lainnya. Itu tidak akan diketahui kecuali oleh seseorang dengan skill [Appraisal]" ucapku tenang.
"Dan ... seharusnya anda tahu akan hal ini," ucapku tersenyum
"Seseorang dengan skill [Appraisal] hanya bisa ditemukan di Spade" lanjut Lance.
"Haih ... baiklah, jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Lance.
"Aku akan menjadi salah satu pendaftar pasukan Deux, kurasa." Ucapku.
"Hah? Serius?"
"Itu benar, bagaimana pun, untuk bisa lebih dekat dengan Deux, aku harus satu kelompok kan?"
__ADS_1
"Kau! Kau! Kau benar benar gila!"
Itulah percakapan singkat sebelum rencana itu dilakukan.