The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 80


__ADS_3


Bab 80: Yang ‘Sebenarnya’


"Keluarga Marquis dan keluarga Count! Dengarkan keputusan dariku. Karena beban kerja yang banyak, dengan wilayah luas yang subur dan makmur. Marquis dan Count kewalahan dalam menangani masalah internal wilayahnya. Hal ini menyebabkan keempatnya abai terhadap masalah yang terjadi di keluarganya, sehingga menyebabkan insiden di mana mereka memanfaatkan nama pangeran untuk berbuat sewenang-wenang dan menuduh pangeran melakukan hal yang tidak dilakukannya."


"Dengan ini, aku akan mengambil ⅙ dari wilayah kalian saat ini untuk mengurangi beban kerja kalian, sehingga mempermudah kalian untuk mengawasi istri dan putra-putri kalian." Tegas Albert.


Keempat bangsawan tampak tak terima, tapi mereka tak bisa melakukan apapun di hadapan kekuasaan absolut milik negara, sang Raja.


"Kemudian, Marchioness dan Countess yang menyebabkan masalah karena dibutakan oleh rasa cinta kasih sayangnya terhadap putra-putranya. Selama tiga bulan kedepan, kalian tidak diperbolehkan hadir di perkumpulan bangsawan mana pun, dengan kata lain, kalian akan menjadi tahanan rumah selama tiga bulan kedepan."


"Untuk putra-putra Marquis dan Count, kedepannya, kalian tidak diperbolehkan untuk mendekati keluarga kerajaan tanpa seizin yang bersangkutan. Setidaknya hingga waktu di mana kalian menyelesaikan pendidikan kalian." Ucap Albert.


"Terima kasih atas pengampunan anda, yang mulia!" Ucap mereka serempak.


Albert berbalik menatap pada beberapa prajurit yang tampak gemetar saat tatapan dingin itu menatapnya.


"Dan untuk kalian." Ucapnya tajam.


"Kuhargai kontribusi kalian selama ini. Tapi salah tetaplah salah. Pencemaran terhadap nama baik keluarga kerajaan, hmm? Jika aku seorang tirani, mungkin akan kupotong lidah kalian. Mengingat kontribusi kalian selama ini, kalian akan dipenjara selama tiga tahun. Setelahnya, kalian tidak diperbolehkan untuk bekerja di istana lagi."


"Terima kasih atas ampunan anda, paduka!" Ucap para prajurit itu menelan ludahnya, pahit.


Albert bangkit dari singgasananya, ia lantas berbalik meninggalkan singgasana tempatnya duduk.


"Baiklah, masalah selesai. Semuanya kembali" ucapnya tegas.


Dengan ini, masalah berakhir dengan 'baik'.


...□□□...


"Jadi? Pada intinya kau benar-benar ke sana, kan!?" Seru Queensha berkacak pinggang.

__ADS_1


Di hadapannya, tampak Oliver yang mengalihkan pandangnya canggung, "U-ugh .. itu ..." Gumamnya sembari mengetuk-ketukkan kedua telunjuknya.


"Uuurgh!? Pangeran! Anda sendiri tahu seberapa bahayanya hutan hitam dan kau masih bersikukuh ke sana tanpa ada prajurit!" Omel Queensha.


"Uugh .. aku minta maaf .. anu, aku ..." Ucap Oliver mengerutkan bibirnya.


"Kau tak menyadarinya sekarang. Tapi di masa depan, kau akan tahu seberapa mengerikannya hutan hitam!" Lanjut Queensha.


Untuk beberapa waktu berikutnya, Queensha yang sibuk memarahi Oliver terhenti saat mendengar sebuah helaan napas dari seseorang.


Albert menghela napasnya panjang, saat ia melihat putranya yang tak berkutik seolah tak lagi bernyawa saat istrinya memarahinya.


"Yang mulia ... Tidakkah kau harus mengatakannya, pendapatmu tentang hal ini!? Katakan, di pihak mana kau berada!" Gerutu Queensha mendengus kesal. Sementara Oliver dengan mata berbinar menatap ayahnya.


"Sigh. Baiklah, Oliver .. semua yang dikatakan ibumu itu benar." Ucapnya membuka percakapan sesaat setelah beberapa waktu di mana dia terdiam cukup lama.


Mendengar ucapan Albert, raut kemenangan tergambar di wajah cantik Queensha yang tersenyum puas sembari membusungkan dadanya bangga. Sebaliknya, raut suram tergambar jelas di wajah Oliver yang tampak mengkerut pasrah.


Untuk kesekian kalinya, Albert menghela napasnya saat menghadapi kedua orang yang seperti kucing dan tikus itu.


"Oliver. Mau seberapa keras pun aku berpikir, aku tak bisa mengetahuinya, bagaimana caramu pulang?" Tanya Albert hati-hati.


Mendengar panggilan ayahnya, Oliver yang terduduk suram di pojok ruangan mengangkat wajahnya, memandang sosok pria di ujung lain ruangan.


"Ah~ itu benar, bagaimana caramu pulang jika Saat itu kau sudah tidak mempunyainya, disk Teleportasi." Sahut Queensha turut menimbali.


"Unn ... Itu ...."


...□□□...


Tik. Tak.


Denting jam terdengar cukup keras tatkala hanya terdengar desiran angin lembut. Waktu telah menunjukkan waktu tengah malam, seorang pria paruh baya tampak duduk tenang, seolah-olah tengah menunggu kedatangan seseorang.

__ADS_1


Ini adalah hari yang berat baginya sebagai seorang raja sekaligus seorang ayah.


"Sigh. Aku tahu itu kau, masuklah."


Albert terduduk lemas dengan tangan kanannya yang mengurut lembut keningnya yang berkerut.


Sementara itu, sebuah siluet nampak bertengger di pepohonan merunduk dan turun menuju sebuh jendela dekat Albert duduk.


Hap!


Sebuah wajah yang tak asing bagi Albert.


Ia menarik napasnya panjang dan tersenyum.


"Yah. Anda benar-benar seorang pemerhati, yang mulia Albert"


Albert tersenyum masam.


"Sigh. Berhenti bercanda! Kejadian hari ini, kau mengetahuinya kan? Dan juga kelihatannya kau sudah turun tangan ya, kembali memikirkannya, kau begitu menakutkan"


Wajah yang tersenyum itu terkejut dan melebarkan kedua manik mata birunya.


Tapi itu hanya sebentar, sesaat berikutnya ia kembali tertawa kecil.


"Yah. Aku akan benar-benar menjadi seorang pembohong jika aku mengatakan aku tidak terlibat, yang mulia"


"Tsk. Kau monster! Bahkan kau tahu? Sekarang aku ragu jika kau adalah seorang remaja berumur 15 tahun, Raka"


"Yah. Jika kukatakan aku berumur 40 tahun apakah kau akan percaya huh?"


"Kau bercanda! Baiklah. Katakan apa maksudmu"


Anak itu lantas menyodorkan sehelai kertas.

__ADS_1


"Ini?" Albert mengangkat alisnya.


"Ah. Bolehkah aku memanfaatkan koneksimu? Aku ingin berbisnis dengan mereka," ucapnya.


__ADS_2