The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 93


__ADS_3


Bab 93: Holy


Kereta berhenti, kami lantas melangkah. Di hadapan kami, sebuah istana dengan corak emas dan putih tulang yang megah dengan gerbang yang terbuka lebar.


Nampak para ‘holy knight’ berjajar mempersilahkan kami masuk.


Kami memasuki istana dengan lantai dan tiang marmer yang megah ini.


Kami berhenti melangkah di hadapan sebuah pintu besar dengan ukiran sejarah benua ini. Pintu terbuka, kami lantas berlutut mempersembahkan penghormatan.


Sebuah pemandangan istana megah tersaji di hadapanku, pandanganku menangkap banyak cerita dari berbagai ukiran di sana.


Sebuah singgasana emas dengan gagah dan agungnya berdiri kokoh, di atasnya, terduduk seorang pria berambut hitam tersenyum hangat. Sepintas mataku dipenuhi aliran cahaya.


Tapi bukan itu yang menjadi titik perhatianku. Sekilas, dia hanyalah pria dewasa yang normal, tidak terlalu tinggi atau pun pendek, tidak kurus ataupun gemuk, atau bahkan tidak terlalu putih atau pun hitam.


Surai hitamnya panjang terurai, wajahnya tersenyum, begitu dalam dan tenang, seolah terdapat aliran dalam sebuah danau. Matanya sedikit merah, namun tak terlalu pekat. Dan, satu hal yang pasti, ia mengingatkanku pada seseorang.


Di sampingnya, seorang pria dengan surai hitam nampak berdiri dengan ekspresi tenang.


"Bertemu Kaisar Luminerus" ucap paman Albert yang diikuti olehku.


"Berdirilah" Ucapnya tegas.

__ADS_1


Kami lantas bangkit mengikuti perintahnya.


‘siapa dia?’ gumamku dalam hati.


Dalam sekilas, mataku menangkap berbagai informasi penting, dan itu semua rupanya berkaitan benua ini. Kecuali beberapa relief yang tidak kuketahui maknanya, tapi di antaranya memiliki sebuah perasaan.


"Anda terlihat lebih baik, Yang mulia" Ucap paman Albert memecah keheningan.


"Ha ha, tentu saja, bukankah aku harus menyambut kedatangan seseorang di sini?" Ucapnya terkekeh mengalihkan pandangnya padaku.


"Sebuah kehormatan bagi saya" ucapku seraya menunduk hormat.


"Ha ha, kau benar-benar sudah tumbuh besar ya, oh, dan juga, bukankah ada yang akan kau katakan tentang keluargamu? Kurasa kita tak bisa menunda itu." Ucapnya tajam kemudian.


Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasakan adanya niat buruk darinya. Jika memang benar ia memilikinya, satu hal yang pasti, aura iblis di tubuhku akan ditindas secara membabi buta dan yang pasti ia akan memberontak. Jika itu terjadi, maka kedudukanku pasti akan diragukan.


Sigh. Aku menghela nafasku berat.


"Yang mulia Luminerus, saya mewakili negri saya, bersumpah setia kepada yang bajik" ucapku.


"Negri saya sudah bertarung selama bertahun-tahun dalam bencana kematian ini, bukan hal yang mudah bagi kami untuk bertahan sampai saat ini, begitupun dimasa depan. Karena itulah, saya, Raka Azalea Putra Arcnight memohon atas nama saya dan negeri saya, mohon kepada yang mulia untuk mencabut hukum isolasi dan menghancurkan miasma sesegera mungkin" ucapku dengan teguh.


"Oh? Jika begitu apa kau sudah berpikir tentang apa yang akan terjadi jika barier itu dicabut? Saya pikir anda masih terlalu muda untuk mengerti soal tanggung jawab kaisar. Lebih baik memotong satu tangan untuk melindungi seluruh tubuh dari racun."


"Itu benar." Ucapku tenang.

__ADS_1


Paman Albert memandangku dengan tatapan terkejutnya. Sementara Kaisar hanya terlihat semakin dingin.


Aku berdiri kemudian. "Tak bisa saya pungkiri jika hal itu bukanlah hal yang salah. Tapi apa anda berpikir untuk memotong seluruh bagian tangan anda jika diketahui hanya satu jari yang teracuni? Lantas apa anda berniat akan memotong tangan anda jika anda memiliki obatnya? Lalu jika memotong tangan adalah keputusan yang benar, maka apa proses yang sama akan ditempuh jika yang diracuni adalah kepala? Apakah anda akan tetap memotong kepala anda? Yang mulia?"


"Ha ha! Itu benar tapi justru karena yang teracuni adalah tanganlah maka akan kupotong."


"Karena itulah, saya pikir anda juga berpikir sama soal seberapa pentingnya negeri saya untuk San Gracia."


Ia tersenyum, "kau benar-benar menjawab pertanyaanku dengan benar."


Aura yang menindas kami lantas berangsur-angsur menghilang. Paman Albert berdiri dan nampak masih tak percaya dengan ucapanku.


Sementara kaisar hanya tersenyum puas.


Aku mengelap keringatku yang bercucuran. Itu benar benar mengerikan!


"Baiklah, aku akan menyetujuinya. Tapi itu adalah keputusanku, bukan the Holy Throne. Jadi, jika kau ingin sepenuhnya berjalan di jalanmu sendiri, maka menangkan itu" ucapnya seraya berdiri.


Mereka lantas berlalu. Kami dipersilahkan untuk menunggu di ruang istirahat.


...□□□...


Srak ... aku membolak-balikkan lembar buku catatan yang kubawa. Bukan buku yang serius sebenarnya, tapi buku ini merangkum semua ingatan Chelsea, jadi aku harus terus membacanya dan mengingat setiap detailnya untuk keluar dari loop takdir bad ending.


Sepersekian detik kemudian, aku terfokus sepenuhnya dalam pikiranku sendiri. Hingga tak menyadari adanya perubahan di sekitarku.

__ADS_1


__ADS_2