The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 22


__ADS_3


Bab 22: Rumah Untuk Pulang


Saat itu, master memintaku untuk pergi ke suatu jalan tempat kami bertemu sebelumnya.


Disana, di sudut kerumunan para penduduk, meringkuk seorang anak. Aku mendekatinya.


"Kakak, kita bertemu lagi" ucapku.


Ia menengadahkan wajahnya, saling menatap selama beberapa waktu. Mata yang sembab, kaki yang lecet karena berlari tanpa alas kaki. Saat itu, ia begitu menyedihkan.


Matanya berair, kembali membasahi pipinya, menambah kesan menyedihkan dari penampilannya.


"Ka-kau! Kau yang kemarin! Ba-bagaimana bisa?" Ia nampak linglung.


"Ah, benar.. kau mungkin bingung, pasti! Tapi yah, tidak ada gunanya bertanya padaku. Aku juga tidak terlalu tahu menahu. Masterku yang memintanya padaku. Dibandingkan itu, sebaiknya kau makan dulu, kau pasti lapar." Ucapku seraya merogoh kantong kecil yang kubawa, mengambil sepotong roti dan mengulurkannya.


Tangisnya bertambah, aliran air mata itu terus mengalur deras, membasahi kaus yang ia kenakan.


"U-um.. kau tidak terluka, jadi kurasa itu baik-baik saja," ucapku sedikit menghibur, tapi aku harus menyerah karena itu sama sekali tidak berhasil.


"Sigh.. aku tahu ini berat bagimu, tapi hanya karena mengalaminya sendirilah kau dapat lebih menghargaimu, ibumu memintamu untuk hidup, maka hiduplah demi nyawa beliau yang berkorban untukmu" ucapku seraya berjongkok dan melihatnya lebih dekat lagi.

__ADS_1


Ia nampak terkejut, "ini.. kau benar"


Seberkas senyum kecil merekah diwajahnya. Aku menghela napasku.


"Jadi, apa rencanamu berikutnya?"


"Ini.." dia nampak menunduk bingung, dan sedikit berpikir rumit.


"Ahaha begitu ya.. yah, apapun itu, terserah. Ah! Dan juga, jika kau bingung mau pulang kemana, kurasa paman pengawalmu akan menerimanya." Ucapku ringan.


Itu benar- mungkin terlalu gegabah, tapi master memang sudah menangani masalah ini. Dan juga, beliau menyelamatkan salah seorang pengawalnya kurasa.


"A-apa? Paman.. di-dia selamat?" Tanyanya terkejut.


"Em. Masterku mencoba yang terbaik dalam hal ini."


Aku hanya mengangguk kecil membenarkan ucapannya.


"Tapi.. siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu akan hal itu?" Tanyanya berhati-hati.


"Kau baru curiga? Tidakkah kau berpikir bahwa aku orang yang berdiri di balik peristiwa ini?" Ucapku tajam.


"Tidak. Bahkan jika itu memang kau, apa yang bisa aku- orang lemah ini lakukan?"

__ADS_1


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan jika kau tahu siapa aku?"


"Aku.. aku bebas, saat ini. Aku tidak ingin kembali ke keluarga besarku, entah itu paman atau yang lainnya.. aku tidak ingin membebani mereka dengan orang tak berguna sepertiku. Dan kau, bahkan jika itu hanya sebuah makanan, kau memberikanku itu. Jadi, kupikir tidak masalah jika aku mengikutimu"


"Aku memberitahumu tentang hal ini sebelumnya, dan setelah kejadiannya, aku mendatangimu, memberimu makan, menyadarkanmu, dan juga memberimu sedikit harapan seperti 'pamanmu baik-baik saja,' atau seperti 'kau masih memiliki rumah untuk pulang' tapi kau justru mempercayaiku?"


"Tidakkah kau berpikir bahwa aku yang menyebabkan semua kejadian ini? Dan lagi, sekalipun aku hanya menduga-duga pun, aku sama sekali tidak menyelamatkan ibumu- tidak, bahkan jika itu kau pun, aku sama sekali tidak membantumu bukan?"


Ia menggeleng pelan. "Jika memang kau pelakunya, kau tidak mungkin memberitahuku ini atau menyelamatkan saksi mata seperti aku dan pamanku, jadi.. jika itu benar, kau adalah petualang bukan? Aku memang tidak berguna, tapi aku bisa membantumu, "


"Oh? Jadi kesimpulannya adalah kau tidak ingin membebani keluargamu tapi kau ingin membebaniku yang orang asing ini bukan?"


"Tidak.. aku.."


"Hmm?"


"Aku.. bukan. Bukan seperti itu, aku.. aku hanya ingin bebas lebih lama lagi, begitulah."


"Oh? Lalu? Apakah menurutmu dengan mengikutiku kau bisa bebas?"


"Kau dan mastermu menyelamatkan dan membebaskanku. Bahkan jika itu hanya kebetulan, aku ingin menyelamatkan diriku sendiri lagi dan lagi.. bahkan jika itu hanya harapan kosong sekalipun."


"Dan lagi, aku tidak tahu siapa kau dan mastermu itu. Tapi, jika itu benar maka kau seharusnya memiliki keterikatan dengan orang yang kuat bukan? Jika tebakanku benar maka.. sekali lagi, biarkan aku ikut denganmu" ucapnya.

__ADS_1


"Haish.. mendengar ucapanmu itu membuatku jadi semakin penasaran tentang jalan pikirannya" ucapku seraya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


...□□□...


__ADS_2