The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 74


__ADS_3


Bab 74: Azasky


Albert memutuskan kembali setelah cukup berbincang bincang dengan Raka.


Dengan langkah cepat nan tegasnya, ia kembali menyusuri lorong ke arah ruang kerjanya.


Seluruh prajurit terkejut dan secara cepat membungkukkan tubuhnya. Sementara Albert hanya terus berjalan tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Kriet..


Ia membuka pintu ruang kerjanya, kembali bekerja.


Tak lama kemudian, terdengar langkah cepat seseorang di koridor dan dengan terengah engah ia mencoba mengatakan sesuatu.


Masih dengan nafas cepatnya dan keringat dingin di sekujur tubuhnya. "Ho-hormat kepada yang mulia!" Ucap pria itu yang tak lain adalah Tryan.


"Oh? Aku cukup terkejut mendapati kau tidak ada di sini, kau tahu?"


"Ah eh? Maafkan hamba yang mulia"


"Tidak apa. Aku justru akan merasa bersalah jika kau yang mengurusi semuanya sendirian, Tryan."


"Terima kasih, tapi apa yang menyebabkan anda memutuskan untuk kembali bekerja? Ini sudah larut malam, yang mulia" ucapnya berpikir keras.


Albert melongo menanggapi ucapan serius asistennya itu.


"Pff ... fu ha ha, tidak ada apa apa, hanya saja aku merasa cukup tersaingi oleh seseorang kau tahu?"


"Menurutmu, Siapa orang yang kutemui tadi huh?" Ucapnya ceria.


"Ah.. eh.. apa mungkin itu ada kaitannya dengan kerajaan Arcnight?" Ucap Tryan sembari mengetuk kacamatanya kembali ke posisi semula.


Albert membatu seketika. Awalnya ia hanya berharap agar dapat melihat asistennya mondar mandir berpikir dan bertanya tanya.. atau setidaknya ia akan bermain tebak tebakan ini cukup lama, itulah yang ia harapkan.


"Oh. Ternyata benar" ucap Tryan dengan kerlipan bintang di sekitarnya.


...□□□...


Tak tak tak.


Langkah kaki terdengar cukup keras.


Nampak seorang wanita dengan rambut pirang panjangnya dan mata ungu tajamnya berjalan dengan anggun. Wajahnya yang cantik nampak bersinar layaknya matahari tatkala terkena baptisan cahaya emas pagi.


Dia adalah Queensha.


Ia berjalan ke arah sebuah lorong panjang dan langkahnya terhenti pada sebuah ruang yang masih terdengar suara.


Ia membuka pintu.

__ADS_1


Nampak di hadapannya seorang pria dengan rambut coklat dan jubah emas biru panjangnya tertidur lelap di kursi- dia adalah Albert.


Sementara itu, pria paruh baya dengan kacamata dan rambut coklat yang senada dengan pakaiannya itu menoleh dan kemudian membungkuk hormat kearah wanita yang membuka pintu itu.


"Hormat kepada yang mulia ratu"


Queensha menghela napasnya panjang. Kali ini ia cukup berpikir keras. Bagaimanapun, ia tidur lebih awal semalam, dan saat bangun, ia sama sekali tak melihat pria mengesalkan itu di hadapannya.


Merasa cukup panik, ia keluar dari kamarnya dan berias seadanya tanpa bantuan pelayannya.


Dan sekarang, di hadapannya, nampak pria itu tertidur dengan lelapnya di tumpukan dokumen.


Queensha mengurut dahinya pusing.


"Tryan... bisakah kau jelaskan ini?" Ucap Queensha dingin.


Bulu kuduk Tryan berdiri dan secara tak sadar ia mengangguk.


Mendengar namanya sendiri, pria itu segera berdiri tegap, "Ehem! Yang mulia! Saya tidak bersalah dalam hal ini!" Ucapnya dengan teguh segera.


"Oh? Lalu? Apakah aku akan percaya jika pria itu datang kesini secara sukarela?" Ucap Queensha dengan raut menyeramkan.


"Ah.. ini ..." Tryan lantas menceritakan semuanya dari awal hingga kisah Albert yang cukup antusias saat menceritakan pertemuannya dengan Raka.


Mata Queensha melebar saat mendengar nama itu, sedikit rona merah bahagia tertampil di wajahnya yang cantik.


Ekspresi dingin itu perlahan lahan melembut saat mendengar cerita Tryan.


Melihat hal itu, Tryan tersenyum bahagia.


Tapi itu tak bertahan lama, aura dingin kembali diarahkan padanya, memberinya isyarat untuk keluar dari ruangan itu.


Tryan yang merasa merinding lantas membungkuk kikuk.


"Ah. Karena yang mulia Ratu sudah datang, alangkah baiknya hamba pergi, bukan suatu hal yang baik bagi bawahan ini untuk mendengar percakapan anda, yang mulia hamba pamit undur diri" ucapnya.


Queensha tak memperdulikannya, Tryan lantas berlari keluar dan menutup pintu itu.


"Kau berusaha cukup keras kali ini, Suamiku" ucap wanita itu lembut sembari membelai rambut suaminya perlahan.


Sementara Tryan yang berjalan cepat meninggalkan ruangan sembari bergumam lirih di dalam hati, 'Oh tuhan! Aku terselamatkan!' Seru Tryan yang melangkah cukup cepat dari ruangnya.


...□□□...


"Ugh.." Albert mengerutkan keningnya terbangun.


"Kau sudah bangun?"


Seketika sebuah suara membuatnya merinding.


Ia membuka matanya dan menatap istrinya ramah.

__ADS_1


"Ah. Istrikuu.. aku benar benar senang bisa melihat wajah cantikmu saat aku membuka mataku he he"


"Oh? Benarkah? Kalau begitu mengapa kau memilih untuk tidur di sini dibandingkan tidur bersamaku suamiku?"


"Ah, eh? Ada baiknya jika aku mandi dulu bukan?" Ucap Albert mengalihkan pembicaraan.


"Oh? Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku terlebih dulu?"


Saat itu, seluruh urat saraf Albert menegang setegang tegangnya.


"Baa ik" ucapnya tersenyum pasrah.


Saat itu, ia teringat sebuah pepatah, 'diatas langit masih ada langit. Tidak! Itu bukan langit! Melainkan diatas raja masih ada istri!' Ucapnya meringis.


...□□□...


"Jadi begitu, kalau begitu kenapa kau tidak mengajakku huh!?" Ucap Queensha sembari menunjukkan ekspresi sedihnya.


Albert merasa tercerahkan oleh ribuan matahari saat ini, bagaimanapun, ia tidak bisa menolak keinginan atau perintah wanita di hadapannya ini.


"Ah ... ini, aku minta maaf" ucapnya dengan ekspresi pasrah.


"Hufft ... bagaimanapun, kali ini dia akan bersama kita, Queensha" ucapnya mengelus lembut rambut istrinya.


Dalam keheningan yang kikuk itu, tanpa sadar air mata menetes pelan menyusuri pipi Queensha. Tak ada yang bisa dilakukan Albert saat menatap istrinya yang tengah menangis. Perlahan lahan ia pun mendekapnya dalam pelukan yang erat dan dalam.


"Albert, aku ini seorang wanita, dan aku juga memiliki seorang putra, aku sama sekali tak takut jika putraku terluka, tapi saat membayangkan seorang anak seusia putraku menghadapi banyak pertarungan hidup dan mati hanya untuk mempertahankan hidupnya, hatiku merasa tersayat, bagaimanapun, dia seharusnya ada disini, sejak 10 tahun lalu, bersama kita dan dia harus menikmati dan menjalani banyak kehidupan pangeran pada umumnya bukan? Dan itu membuatku merasa bersalah padanya, Albert"


Albert mengangguk dengan ekspresi rumit.


Setelah beberapa lama kemudian, Queensha tampak lebih baik.


Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan tuxedo dan satu kacamata terpasang di mata kananya memberi hormat kepada Queensha dan Albert.


"Hormat kepada yang mulia Raja dan Ratu, Saya Qin," ucapnya hormat.


"Katakan ada apa, kepala pelayan Qin?" Ucap Albert.


"Ada sebuah kereta dagang yang datang hendak menemui anda, yang mulia, beliau memberi tahu saya untuk menunjukkan anda ini" ia lantas menunjukkan sebuah arloji hitam dengan sedikit sembirat biru menghiasinya.


"Antar dia kesini"


Qin lantas berjalan menjauh hendak menjemput tamu rajanya.


"Apakah itu dia?" Queensha menengadahkan kepalanya dan sedikit melepas dekapnya, ia mengelap air matanya.


"Hmm ..." Albert hanya tersenyum hangat padanya.


"Persiapkan dirimu, dia putra kita" Ucapnya.


Tak lama kemudian, nampak kepala pelayan itu kembali dengan diiringi oleh kedatangan seorang anak laki laki dengan rambut navy dan mata biru indahnya.

__ADS_1


...□□□...


__ADS_2