The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 38.5


__ADS_3


Bab 38.5: Mangsa & Dimangsa


Para pasukan segera kembali ke posisi mereka semula.


Para archer siap sedia menarik busur mereka, para swordman siap menghunuskan amarah mereka. Para spearman siap menghujamkan dendam mereka dalam pertempuran.


Berbeda dengan sebelumnya, aku memutuskan untuk bertahan di barisan para archer. Bagaimanapun, manaku yang berkurang drastis justru akan menghambat pasukanku, begitu pikirku. Aku pun memutuskan untuk hanya bertindak seperlunya saja.


"Tuan, mereka bergerak" ucap Kai yang bersembunyi di bayanganku.


"Semuanya! Bersiap!" Ujarku tegas, memberi aba-aba.


Para Archer mulai mengangkat busurnya, dan memfokuskan pandangannya.


Begitupun para Mage yang bersiap merapal mantranya.


Sementara para petarung mulai mengepalkan tinjunya erat, Swordman yang menggenggam pedangnya dan menarik ancang ancang selebar mungkin. Para Spearman yang bersiap untuk maju dan mengguncang pertahanan musuh.

__ADS_1


Setelah itu, muncul lusinan ribu iblis dan beast yang siap berperang.


Lagi lagi kabut hitam pekat kembali menyelimuti medan perang, yang kali ini jauh lebih pekat dan luas.


Pasukan musuh tiba, mereka begitu banyak, jelas ini bukan pasukan balasan biasa yang dikirim Purma, melainkan oleh iblis lainnya. Pasukan mausuh terus maju dalam kecepatan yang cukup cepat.


Aku menarik napasku panjang.


Tangan kananku terangkat, memberi aba aba untuk menyerang secara bersamaan. Pasukan kavaleri berpacu dengan kuda mereka dan mulai membaur.


Pertarungan antar pasukan pun dimulai.


'Ini sama sekali bukan kekuatan yang bisa dimiliki oleh Dimitri. Jika begitu, apa orang itu yang mengirim mereka?' ucapku dalam hati seraya terus memikirkan perkataan master.


"Tuan, perang ini ... takutnya kita akan benar benar ditekan." Ucap Alice.


"Oh? Apa maksudmu?"


"E eh? Maaf tuan, tapi ... jumlah pasukan musuh berkali kali lipat banyaknya dibandingkan pasukan kita."

__ADS_1


"Mereka hanya iblis, yang dikendalikan ... tak peduli apa pun, pikiran mereka hanya satu, membunuh.."


"Mungkin itu yang akan terjadi, tapi Alice, menurutmu manakah yang berlari lebih cepat? Harimau yang mau memangsa atau rusa yang akan dimangsa?"


"E eh? Yang mulia, ini bukan waktunya berpikir soal teka teki kan?" Ucap Alice


"Sigh, aku sedang serius, Alice. Jika dipikir pikir lagi, harimau bisa berlari dengan cepat, tapi terkadang ia tak bisa mengejar rusa bukan? Hasrat membunuh itu benar benar kuat, tapi sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan hasrat untuk hidup."


"Para iblis sudah mati, mereka tak lagi memiliki hasrat untuk hidup, sedangkan manusia? Mereka selalu ingin hidup. Jadi, jika kau bertanya manakah yang akan menang? Tentu saja jawabannya siapa pun yang ingin hidup."


"E eh? Jadi itulah maksud anda, tuan muda?"


Aku mengangguk membenarkan ucapannya.


Para pasukan terus bertarung tanpa henti, mereka terus menebas, menebas dan memukul musuh.


Seiring berjalannya waktu, pasukan masing masing menampakkan staminanya. Para pasukan musuh mulai berkurang satu demi satu terbunuh. Sedangkan pasukan kami mulai kelelahan, ditambah dengan beberapa luka yang mereka derita. Para penyihir terus menyupport mereka, tak tertinggal para healer yang terus mengobati para pasukan. Mereka terus bertarung tanpa henti- hanya semata-mata untuk hidup. Di antara mereka bahkan ada yang kehabisan mana mereka.


Meskipun para healer dan support terus mengobati luka mereka dan menaikkan stamina mereka tapi tetap saja, mereka kelelahan.

__ADS_1


Bukan hanya fisik mereka, namun juga mental mereka.


__ADS_2