
Bab 2.5: Bertaut
Aku meringkuk dingin. Udara di musim panas yang bertiup kini telah menjadi dingin. Aku membuka mataku, dan menatap kearah jendela. Langit nampak sedikit jingga dengan sinar matahari sore menembus kaca dan menimpa wajahku- hangat.
Aku bangkit dari tempatku meringkuk. Dan melangkah menuju pintu.
Krieet..
Aku sedikit membuka pintu untuk mengintip keluar.
"Tidak ada orang, apa acaranya sudah selesai?" Gumamku rendah.
Aku melangkah mengendap endap keluar, mencegah agar tidak memberitahu orang lain di sekitarku.
Aku melangkah masuk ke dalam kamarku.
"Fiuuh.. selesai, apa mereka benar-benar sudah pulang? Ugh.. kurasa aku harus mencari sesuatu untuk mengganjal perutku" Gerutuku seraya mengelus-elus perutku yang memberontak.
"Tapi, sebelum itu.. kurasa aku harus membereskan ini dulu jika ingin tidur malam ini" Ucapku dingin saat melihat kamarku yang porak poranda tak karuan.
Aku mulai mengemasi semuanya. Yah, mengacaukan kamarku adalah hobi mereka sehari-hari.
Pat. Pat. Pat.
Aku menjinjit, menatap keatas meja dapur yang nampak besar.
'Dapurnya kosong, apakah tamu itu belum pulang sehingga semua pelayan perlu untuk menunggui mereka?'
'Ah ya sudahlah, aku lapar.. jadi aku akan langsung mengambil makan saja, bagaimanapun, ini seharusnya sisa bukan?'
Aku lantas mengambil beberapa sendok nasi dan lauk yang tertata di atas meja dan membuatnya memenuhi piring yang ku pegang.
Yah, jika kalian berpikir saat ini aku sama sekali tidak bertata krama, maka jawabannya ya! Memangnya siapa yang akan mempedulikan tata krama seorang count muda yang bahkan baik identitas maupun kehadirannya tidak pernah benar-benar ada?
Lagipula, meskipun nampak tidak bertata krama, pada dasarnya aku hanya berperilaku sama dengan yang di ingatanku. Entah karena ingin atau memang sudah terbiasa, perlahan lahan seiring berjalannya waktu, aku sedikit menyesuaikan tingkah lakuku sama seperti yang ada di ingatanku.
Brakk!
__ADS_1
Belum sempat bagiku untuk memakan makanan itu. Aku terjatuh saat seorang Kareen berjalan dan tanpa sadar menabrakku.
Prangg!
Gelas itu terjatuh dengan airnya yang tumpah membasahi gaun cantiknya.
"A-aku.. aku.." aku mencoba memberi sedikit penjelasan saat sebuah tangan berat menamparku dengan keras.
"Kuh! Lihat apa yang telah kau lakukan!" Bentaknya padaku.
Aku terdiam menunduk dengan pipiku yang memerah. Sementara Kareena dengan didampingi pelayannya menatapku geram.
"Benar-benar tidak berguna! Kau menghancurkan gelasnya dan membasahi pakaianku!" Teriaknya.
"Ma-maaf.." Ucapku dingin. Entah kenapa sebuah perasaan marah dan muak meluap-luap dalam hatiku.
"Medina!" Perintahnya pada pelayan pribadinya.
Seorang wanita nampak menghampiriku. Dan meraih kerah bajuku, mencengkeramnya sedemikian rupa.
"Ugh.." ucapku sedikit meringis tatkala kerah baju yang ditariknya membelit leherku.
Ia membanting tubuhku jatuh, dan menghantam kaki meja. Seteguk darah merah menyembur dari mulutku. Rasanya sakit dan benar-benar pusing.
Aku mencoba bangkit dan lari saat sebuah kaki menginjak tanganku yang hendak meraih meja.
Krek! Tulangku bergemeretak saat kakinya menggerus keras tanganku.
Aku menggigit bibirku, menahan erangan keluar dari mulutku. Saat itu, aku hanya bisa menangis.
"Hiii.. kau ingin pergi setelah kekacauan yang kau berikan? Kau memecahkan sebuah gelas, dan lagi.. kau bahkan menumpahkan air di gaunku yang berharga.. bagaimana aku bisa tampil lebih baik lagi di hadapan pangeran azasky huh!?"
"Le-lepaskan!" Ucapku dengan suara serak.
"Oh? Tentu saja, itu tidak sulit jika kau membersihkan pecahan kaca ini, dengan ta-ngan-mu!" Ucapnya dengan senyum.
Ia melepas injakannya dari tanganku, "Kuh!"
"Cepat! Bersihkan kacanya!" Teriaknya.
__ADS_1
Aku lantas merauk serpihan-serpihan tajam kaca itu dengan kedua tanganku. Dan berjalan tertatih tatih menuju tempat sampah untuk membuangnya.
Duak!
Tubuhku didorong, menghantam tempat sampah. Ia tertawa begitu keras saat aku sendiri tak mampu untuk kembali bangkit.
"Medina! Ambil tempat sampah itu dan buang isinya kepadanya! Kurasa itu lebih cocok untuknya!" Ucapnya gembira.
Aku hanya terdiam saat sampah sampah itu menghujani tubuhku. Tatapanku mendingin, entah karena tidak ada yang bisa kulakukan atau karena aku yang sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Mereka hanya tertawa gembira tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.
"Oi! Bukankah itu tidak baik!?" Sebuah suara terdengar dari belakang. Suara itu riang dan penuh semangat. Seorang anak laki-laki seumuranku berjalan dengan berani. Rambut pirangnya yang berkilau dan mata merahnya yang menatap tajam. Ia berjalan melewati kedua orang yang nampak terkejut.
Aku membelalakkan mataku tak percaya saat anak itu menghampiriku dan mengulurkan tangannya padaku dengan senyum ceria di wajahnya.
"Hei! Apa kau tidak apa-apa?" Tanyanya padaku.
"A-.." Sebuah suara menyeruku dengan keras.
"Raka! Apa yang kau lakukan huh!?" Ucap seorang wanita tua berlari menghampiriku seolah olah peduli denganku.
Aku menggigit bibirku, mencegah sepatah katapun keluar dari mulutku.
"Pa-pangeran, maafkan sedikit keributan ini, tapi yah.." ucapnya pada anak yang masih mengulurkan tangannya padaku.
Anak laki-laki itu tidak peduli, ia masih mengulurkan tangannya padaku. "Hei! Jika kau tidak apa-apa, cepat raih tanganku.. pegal tahu!" Protesnya padaku.
Aku terkejut dan menatap matanya yang berkilap dalam.
"A-ah.. maaf. Bukannya aku tidak menginginkan bantuan anda, tapi tanganku kotor, jadi kurasa tidak sopan jika aku mengotori tangan orang lain" ucapku datar.
"Ahaha, itu benar, yang mulia.. jadi sebaiknya putraku tidak perlu merepotkan anda.." ucap Nyonya Kaelmiff pasrah.
"Hmm.. begitu yah, baiklah.. tak apa jika kau tidak mau.." ucapnya sederhana seraya menarik tangannya kembali.
"Ah.. anakku, apa kau tidak apa-apa? Kau baru saja membuatku panik! Pe-pelayan! Cepat antar putra kesayanganku mandi dan membersihkan pakaiannya!" Titah Nyonya Kaelmiff.
Seorang pelayan lantas membawaku pergi. Nyonya Kaelmiff nampak sedikit memberi isyarat padanya. Yah, tanpa mengetahui itu pun, aku sudah cukup tahu akhirnya. Pada dasarnya, ia tak akan dengan mudah melepaskanku.
__ADS_1