
Bab 31: Rahasia
"Saat itu adalah 6 tahun yang lalu."
"Tunggu! A-apa maksud anda ..."
"Itu benar, seharusnya itu adalah hari dimana kau mati dan hidup kembali dengan ingatanmu saat ini"
□□□
High Continent, 23/1, 6 tahun yang lalu.
Hujan di sore hari. Langit bergemuruh, menunjukkan amarahnya.
Hembusan angin bertiup cukup kencang, bersamaan dengan dedaunan yang berguguran.
"Master! Gawat! Ada seseorang yang menerobos!" Ucap seorang gadis berambut orange dengan panik kepada beberapa orang yang nampak sedang melakukan rapat.
"Apa maksudmu!?" Seorang wanita berambut pirang terkejut, Shana.
"Ah, itu benar! Dia seorang wanita misterius! Dan auranya sangat kuat!" Ucap seorang anak laki-laki lainnya yang nampak terluka.
"Tch! Siapa sebenarnya dia!" Ucap wanita berambut biru panjang, Ivy.
Keempat orang di antaranya bangkit dari duduknya tapi segera dicegah oleh pria berambut hitam yang menutup mata, dia adalah Yama.
"Dia mencariku" ucapnya dingin.
"A-apa maksudmu? Tapi ... meski pun begitu tubuhmu" Tolak Ivy.
"Tidak apa" ucapnya pergi.
__ADS_1
"Pemimpin ..." gumam Julius khawatir.
...□□□...
Hiyaaaat!
Seorang anak laki-laki nampak menyerang dengan sepenuh usahanya. Di hadapannya, seorang wanita terus berjalan pelan dengan anggun, melangkah satu per satu.
"Oscar! Hentikan" Ucap Yama mencegah anak itu menyerang.
"Master! Tapi ... kau bukan lawannya" Ucap Yama tegas.
Guratan senyum segera muncul dibalik tudung, wanita itu berhenti dan memberi penghormatannya.
"Bertemu Leluhur" ucapnya dengan suara dingin yang begitu lembut.
"Siapa kau? Dan lagi, aku harus mengingatkanmu ... ini, bukan tempatmu berada. Kekuatanmu itu, bukanlah kekuatan yang dimiliki dunia ini"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku"
"Saya hanyalah seorang pelintas dari tempat yang jauh. Tidak ada tujuan jahat, anda seharusnya yang paling tahu akan hal itu. Kepergian saya tidak bisa ditunda, karena itu ... ada beberapa hal yang saya inginkan dari anda"
"Tempat yang jauh? Apa itu Arcnight?" Ucap Yama curiga saat menyadari sebuah pedang yang familiar berada di pelukan wanita itu.
"Ini hanya sebuah pedang, dan saya kenyataannya hanya singgah sebentar disana"
"Apa ... apa yang kau lakukan pada Raja Arcnight!? Bagaimana bisa seorang asing sepertimu memilikinya? Pedang milik sang raja"
"Anda bahkan mengenalinya sejauh itu. Tapi tidak, ini bukanlah pedang yang saat ini menjadi pedang sang raja. Ini hanyalah pedang yang sama dari tempat dan waktu yang jauh berbeda."
"Kupikir kau tidak buta. Jadi, jangan memintanya padaku"
"Maaf? Tapi saya tidak bisa melakukannya, permintaan ini haruslah anda yang melakukannya"
__ADS_1
"Aku tidak berpikir untukmu bisa menentang pendapatnya"
Tap. Ivy mendarat dengan mulus, dan mengacungkan pedangnya tepat di dekat leher wanita asing itu.
"Ivy. Menjauh." Ucap Yama tegas.
Ivy terkejut, ia mendecih kesal dan mundur ke arah Yama berada. Kedatangannya disusul oleh para ancestor lainnya.
"Siapa dia?" Tanya Julius.
"Entahlah. Dia sama sekali tidak mau memberitahukannya" balas Yama.
"Tch! Tentu saja karena kekuatannya bukan? Siapa sebenarnya kau!" Ucap Shana.
"Saya bertemu dengan para leluhur. Siapa pun saya, tidak akan berguna jika anda bahkan tidak mau mendengarkan permintaan saya bukan?" Ucapnya ramah.
"Permintaan? Dan lagi, pedang Arcnight?" Ucap Julius terheran.
"Sigh. Saya tidak tahu kedatangan anda. Dan lagi, bagaimana mungkin anda menyerahkan sebuah permintaan kepada saya sedangkan anda sendiri seharusnya mampu melakukannya, orang kuat. Bahkan jika saya menyetujuinya pun, sebuah kenyataan mengharuskan saya percaya bahwa saya akan mati dalam kurun waktu dekat."
Keempat leluhur yang lainnya nampak terkejut. Meskipun mereka tahu akan hal itu, tapi Yama justru memberitahukannya pada seorang asing yang lebih kuat.
"Tenanglah. Dia tidak akan membunuh satu dari kita atau pun niat jahat lainnya. Jika memang iya, tidakkah kalian berpikir kalian masih hidup?"
"Itu ... memang benar" ucap Julius pasrah.
"Orang kuat, saya hanya takut, bahkan saya sendiri tidak bisa menolong diri ... bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan permintaan anda? Saya takut, jika saya mati sebelum benar-benar menyelesaikannya. Saat ini, saya benar-benar takut mati, Tanggung jawab."
"Begitu. Aku mengerti ... maaf meragukanmu, leluhur" ucapnya sopan seraya menunduk memberi hormat.
"Entah kenapa kami merasa bahwa kami benar-benar tidak berguna. Kami seperti disembah oleh anda disini, seseorang yang lebih tinggi dari kami. Tapi kami tidak bisa melakukan apapun untuknya" celetuk Edgar.
"Pfft. Tidak apa, saya tidak keberatan. Dan lagi, saya yang meminta di sini. Jadi seharusnya itu wajar."
__ADS_1