
Bab 85: Hutang Dan Pengakuan
Tes...
Darah merah pekat mengucur dari leherku, membasahi kerah kemeja putihku dan mengubahnya menjadi merah.
Louise sedikit bereaksi, tapi dengan cepat, aku memberinya isyarat untuk tidak ikut campur lebih dalam.
"Jean. Hentikan" Ucap Richard selangkah kemudian.
Nila setitik, rusak susu sebelanga.
Udara di ruangan itu mendadak berat, seperti di penuhi oleh aura yang menekan secara tak kasat mata.
Sesosok wanita berjubah hitam nampak berdiri dengan satu kaki melangkah ke atas meja, tubuhnya bergetar hebat tangannya nampak memegang sebuah belati dengan ujung yang mengarah padaku. Sejujurnya, itu sudah mengenaiku, sedikit menggores kulit di leherku.
Aku berganti mengalihkan pandang, seolah itu tidak pernah terjadi. Pemuda itu membelalakkan matanya. Tubuhnya sedikit bergetar takut.
‘yah, tak perlu melihatnya, aku bertaruh ekspresinya masih sama’ gumamku dalam hati.
"Jean! Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah sepakat untuk tidak menyerang sembarangan!?" Seru pemuda itu.
Aku merasakannya, ekspresi tajam pria di hadapanku itu.
Sementara itu, wanita assassin di hadapanku nampak sedikit bergetar.
"Ah, bisakah anda menyingkirkan belati ini? Itu menusuk dan yah, rasanya sakit" Ucapku seraya menunjuk belati yang masih teracung.
Wanita itu berkeringat deras, dengan berat ia menghela napasnya.
"Sigh ..." Wanita itu lantas mundur dan menarik belatinya.
"Hamba meminta maaf" ucapnya masih dengan wajah tegang.
Louise mengulurkan sebuah sapu tangan padaku. Aku meraihnya dan mencoba membersihkan sisa darah yang membasahi kerah bajuku.
Pria itu- Richard tampak sedikit geram, "Cukup. Aku tidak menyangka jika anda benar benar tidak memiliki sopan santun di sini, Tuan Azalea ... bagaimanapun, kesalahan tadi adalah kesalahan saya ... tapi dengan menekan keberadaan bawahan saya apakah itu sepadan?" Ucap Richard tajam.
"Oh? Ha ha" aku tertawa kecil membalas perkataannya.
Aku hanya tersenyum, tapi itu tidak lama.
"Sungguh, jika ini adalah candaan, itu tidaklah lucu, tuan Richard. Dan, jika itu bukanlah lelucon, maka itu sangatlah lucu."
"Menurut anda, apakah menyembunyikan seorang assassin dalam forum seperti ini dapat dibenarkan? Sebagai orang yang terhormat, anda tidak menganggap sama sekali keberadaanku di sini bukan?"
"Apakah anda berpikir untuk menekan dan menunjukkan kepemerintahan anda di sini?"
__ADS_1
" Itu bukan hal yang dibenarkan. Ini wilayah saya, saya yang berkuasa. Dan saya menolak keberadaan kekuasaan lainnya. Anda mencoba menekanku dan mengarahkanku ke topik yang anda inginkan bukan?"
"Bahkan jika dia adalah singa, dia tidak akan mencari masalah di kandang harimau, tuan."
"Anda benar-benar lancang."
"Dan lagi, apakah anda akan membunuhku jika aku tidak bersedia bekerja sama dengan anda? Ataukah, anda akan membunuhku jika aku mengetahui banyak rahasia, dan untuk membersihkannya anda akan membunuhku tanpa suara sedikit pun!?"
"Ha ha, tapi sayangnya, aku bukan orang yang bisa ditindas, yang mulia. Bahkan itu juga berlaku bagi bawahanku, Tapi aku? Aku hanya menekan kedua bawahanmu, dan mereka merasakan perasaan yang sama dengan perasaaan yang kurasakan kan? Ini membuktikan tentang siapa yang berkuasa di sini"
Ekspresi Richard nampak meregang sedikit.
"Sigh ... harus kuakui, anda pantas sebagai pemimpin, Tuan Azalea ..." Ucapnya tenang.
Aku sedikit tersenyum, "Oh? Apakah hanya itu? Maaf, tapi aku tak butuh pengakuan anda." Ucapku
Pemuda di belakangnya nampak terkejut dan sedikit marah.
"Ka-kau!"
Aku menatap pemuda itu, "Aku? Aku apa? Lanjutkan perkataanmu"
Pemuda itu terkesiap. Ia tak lagi mampu mengatakan sepatah kata pun.
Richard mengangkat tangannya, memberi isyarat pada pemuda di belakangnya untuk diam.
"Hmm? Yah, maaf atas kekeliruanku, apa yang anda inginkan dari saya sebagai kompensasinya, Tuan Azalea?"
Ekspresinya kembali berubah, ia mengangkat kedua alisnya, "Oh? Tapi atas dasar apa aku harus mengakuinya? Aku hanya memiliki hutang padamu bukan?"
"Itu benar, kepemimpinanku kuraih dengan tanganku sendiri, tapi soal itu, meskipun aku bisa menanganinya, aku hanya bisa berjaga-jaga jika mereka mencoba mengambilnya lagi dariku" ucapku menghela napasku.
"Oh? Apa balasannya?"
Sudut mulutku berkedut, bagaimanapun bukankah pak tua ini benar benar tidak tahu malu?
"Kau hampir membunuhku meskipun itu tidak akan pernah berhasil, dan kau masih ingin balasan yang lain huh!?" Ucapku geram.
Richard tersenyum masam, "Aku bercanda," ucapnya mengalah.
Aku hanya membalasnya dengan ekspresi datar, "Itu tidak lucu" ucapku singkat dan padat.
Richard bangkit dari duduknya, ia lantas melangkah maju dan mengulurkan tangannya.
"Ha ha, baiklah. Kurasa kita akan jadi teman yang baik suatu hari nanti, aku menantikanmu untuk tumbuh lebih besar, tuan Azalea ... sampai jumpa"
Aku membalas uluran tangannya yang besar.
"Itu pasti" ucapku seraya menjabat tangannya.
__ADS_1
Setelahnya, aku bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Baiklah, ku anggap itu adalah suatu hal yang setara" ucapnya dibalas dengan anggukan.
"..."
"Oh, dan juga ... sebagai permintaan maaf lainnya. Serkan, Jean! antarkan tuan Azalea" ucapnya.
"Eh? Ba-baik"
"A-anu ... "
"Aku ..."
Aku menoleh. Di belakangku, Louisse nampak tenang, sementara pemuda itu- Serkan nampak berjalan dengan ekspresi ingin mengatakan sesuatu. Di belakangnya, bersembunyi gadis yang hendak menusukku tadi.
Aku menatap pemuda itu- Serkan, "Hmm?" Gumamku lirih
Aku menghentikan langkahku, menghadap Serkan yang linglung.
"Ada apa? Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah" ucapku singkat.
Pemuda itu terkejut mendengar ucapanku, "Ah! Eh? I-ini ... tidak apa tuan ..." ucapnya tergagap-gagap.
Aku mengalihkan pandangku pada Louise,"Hei Lu, apakah aku sudah setua itu hingga temanku bahkan memanggilku tuan?" Ucapku.
"Hmm? Itu hanya perasaan anda, pangeran." Ucap Louise.
Pemuda itu- Serkan tampak sedikit canggung, "Eh? A apa? I-ini ... bagaimana mungkin aku" ucapnya segera tersela.
Aku menolehkan pandangku pada pemuda itu, "Namaku Raka, panggil aku Raka saat di luar forum. Siapa namamu?" Ucapku.
"Eh? Aku Serkan D'Lyla, senang bertemu denganmu, anu ..."
"Raka" sebutku cepat.
"Raka ..." Ucap Serkan merasa sedikit terintimidasi.
Sigh. Aku menghela napasnya,
"Itu juga berlaku bagimu" ucapku dingin seraya menatap gadis penakut di belakangnya.
"Baiklah, aku harus kembali, sampai jumpa lain kali. Dan pastikan kau mengingat namaku dengan baik" Ucapku ramah.
Aku berbalik dan melangkah menuju kereta, sementara itu, Louise hanya tersenyum.
"Ah, jangan dipikirkan. Tuanku itu orang yang terbiasa mengendalikan emosinya di hadapan orang lain, tapi percaya atau tidak, itu bukan emosinya. Dan yang tadi itu, tuanku yang sebenarnya, dia cukup kaku saat bersosialisasi dengan orang lain bukan?" Ucap Louise rendah tapi masih dapat kudengar.
"Apa? Eh?"
__ADS_1
"Aku mendengarmu, Lu!" Ucapku.
Louisse hanya tersenyum, ia lantas berjalan dan mengikutiku masuk ke dalam kereta.