
Bab 19: Menjadi Kuat II
Gadis itu menoleh, menampilkan mata amethyst-nya yang cantik dan berkilau, dibalut oleh rangkaian bulu mata yang lentik dan panjang.
"Ah, tidak apa, aku--" Ucapannya terhenti saat matanya menyapu tubuhku.
Aku menatapnya linglung. Bingung dengan apa yang terjadi.
"Ap- bodoh! Apa kau membiarkan mereka memukulmu lagi!?" Teriaknya seraya menghampiriku.
Ia mendekatiku, mengambil sebuah sapu tangan putih dari dalam sakunya dan menyeka keringat yang bercampur dengan darah. Ekspresinya merumit.
Aku terpaku, pada wajah mungil yang nampak marah di depanku.
Ia mendecikkan lidahnya, dan menarik tanganku dengan cepat, menghendakiku untuk mengikuti langkahnya yang cepat.
"A-anu.. nona, aku.."
"Diam! Kau harus ke UKS!" Ucapnya.
Kami berjalan bergandengan- tidak, lebih tepatnya, aku diseret olehnya melewati banyak siswa-siswi yang berjalan, memasuki sekolah.
"Nona, anda.." aku mencoba menghentikan langkahnya untuk sesaat.
__ADS_1
"Diam! Tidak bisakah kau mempedulikan dirimu sendiri!? Aku juga tidak peduli apa yang mereka pikirkan! Bahkan jika itu hanya kesalahan" ucapnya dengan nada sedikit khawatir.
Aku tersenyum, entah mengapa semuanya mengalir begitu saja. Bahkan meskipun aku tahu, ini hanya mimpi, semuanya berjalan begitu saja.
"Baik, terimakasih" ucapku seraya tersenyum sederhana.
Gadis itu sedikit memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona wajahnya.
Tak berapa lama, kami tiba.
Dia menungguku, sedangkan dokter memeriksa keadaanku. Yah, sekalipun aku tahu ini sakit, tapi kurasa ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang Raka alami, kan?
"Bodoh! Bukankah sudah kubilang untuk tidak menghiraukan perkataan orang lain?" Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bagaimana mungkin saya bisa melakukannya, nona? Anda adalah nona saya, bagaimanapun, saya tidak ingin citra buruk nona menganggu kehidupan damai saya" Ucapku.
"Yah, itu benar sih.. aku, aku benar-benar tidak berguna bukan?"
"Hmm? Siapa ya yang bilang kalau setiap manusia punya bakat dan keahliannya sendiri? Kurasa aku pernah dengar tuh"
"Hah!? Lalu siapa yang menyuruhku untuk tidak mendengarkan perkataan orang lain?"
"Bukan aku?"
"Ah! Apa yang kau katakan! Apakah aku perlu mengundang saksi!?"
__ADS_1
"Ahaha, baiklah.. bagaimanapun, aku punya kewajiban untuk menjaga anda, nonaku.. jadi, baik itu citra atau hal lainnya, saya punya kewajiban untuk memastikan anda baik-baik saja sampai anda dewasa, mylady"
"Dasar kau ini, kalau kau memang ingin memastikannya, maka kau juga tidak boleh terluka tau!"
"Yah, tidak apa.. aku hanya terluka kok, aku bukan akan mati juga kan?" Ucapku.
"Terserah!"
"Haiz, nona ... anda tidak akan dapat pacar jika anda bahkan bersikap seperti itu loh" ucapku pasrah.
"Tch! Siapa yang peduli! memangnya kenapa jika aku tidak punya pacar!? Bukannya masih ada kamu!?" Protesnya.
"Hmm? Benarkah?" Ucapku menggodanya.
Gadis itu merona malu. Ia dengan cepat berkilah, "U-ugh ... maksudku, jika aku tidak punya pacar memangnya kenapa? Bukankah kau akan mencarikannya untukku?"
"Haha, terserah apa katamu, nona"
"Hmph! tentu saja!"
"Ja-jadi.. cepatlah sembuh" Ucapnya murung.
"Um! sesuai perintah anda, mylady"
Aku masih terlarut dalam mimpi, mimpi yang membuatku untuk kembali bertemu dengannya.
__ADS_1
...□□□...